Berita

Muhammad Misbakhun/Net

Politik

Jokowi Lebih Baik Dari SBY

RABU, 21 FEBRUARI 2018 | 07:37 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Dalam bidang ekonomi, khususnya dalam penciptaan lapangan kerja, kinerja pemerintahan Jokowi-JK memang masih belum semoncer periode SBY-Boediono di 2009-2014. Namun tetap lebih baik dibanding periode pertama SBY bersama JK di 2004-2009.

Demikian disampaikan politikus Golkar, Muhammad Misbakhun. Misbakhun yakin di periode kedua pemerintahan Jokowi, kinerja penciptaan lapangan kerja akan membaik asal memenuhi beberapa syarat tertentu.

Misbakhun menjelaskan, pemerintahan Jokowi mewarisi pertumbuhan ekonomi yang menurun. Saat SBY-Boediono berkuasa, ekonomi Indonesia ditopang oleh pertumbuhan China yang masih double digit, berbeda dengan saat ini yang berada di bawah angka 10 persen. Selain itu, harga komoditas global saat itu sangat bagus dan ekspor Indonesia juga tinggi.


"Pak Jokowi masuk, dia hadapi transisi kekuasaan," kata Misbakhun dalam diskusi bertema "Mampukah Pemerintahan Jokowi-JK Ciptakan Lapangan Kerja" yang digelar Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) di Jakarta, Selasa (20/2).

Di awal transisi kekuasaan itu, Jokowi membenahi banyak hal. Salah satu yang dilakukan adalah mengalihkan subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi dana produktif untuk pembangunan. Bertambahnya ruang fiskal di APBN akibat kebijakan pengalihan subsidi BBM itu membuat harga BBM disesuaikan.Dan ini memang sempat membuat penurunan ekonomi, sapa seperti di awal pemerintahan SBY-JK yang menaikkan harga BBM.

"Bedanya, Pak Jokowi membangun sebuah ruang fiskal yang jadi longgar. Subsidi dialihkan menjadi pembangunan infrastruktur," ujar Misbakhun.

Peralihan kekuasaan di China sekaligus menguatnya isu lingkungan membuat China sebagai tujuan ekspor Indonesia melemah. Hal ini menjelaskan kenapa terjadi keleseuan di sektor perkebunan, galian dan tambang, serta pertanian nasional.

"Harus diingat bahwa kuatnya sektor tambang di era SBY juga diimbangi tingginya non-performing loan di perbankan pada saat itu. Jadi harus seimbang melihatnya. Saya yakin di periode kedua pemerintahan, Jokowi juga akan lebih tinggi dibanding SBY," tegas Misbakhun.

Legislator dari daerah pemilihan Pasuruan dan Probolinggo itu justru melihat bahwa Pemerintahan Jokowi sudah berada pada track yang benar. Ketika sektor global tak menarik bagi pembangunan ekonomi, maka yang digenjot adalah sektor ekonomi domestik.

Salah satu yang diandalkan adalah program Dana Desa yang di 2017 sudah mencapai Rp60 Triliun. Sektor ini mampu menciptakan hingga 5 juta lapangan kerja baru. "Jadi langkah ini sudah benar. Tinggal perhatikam isu agar regulasi dan pengawasan hingga pemeriksaan dana desa diperkuat," kata Misbakhun.

Lalu Kementerian Keuangan, Kementerian Desa, dan Kementerian Dalam Negeri harus menguatkan fungsi dan peran demi memaksimal Dana Desa agar tercipta semakin banyak lapangan kerja.

"Komunitas desa harus disertakan dalam menghadapi revolusi industri 4.0. Kalau bisa diintegrasikan dengan desa, ini akan jadi kekuatan utama Indonesia di masa depan," ulasnya.

Ada lagi program pemerintahan lainnya yang diyakini Misbakhun akan semakin memperkuat penciptaan lapangan kerja. Yakni, Program Investasi Pemerintah (PIP) sebagai program ultramikro negara dengan pinjaman modal maksimal Rp 2,5 juta. Program ini berbarengan dengan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang juga digalakkan pemerintahan Jokowi.

"KUR itu saja nasabahnya 12 juta. Artinya ada 12 juta lapangan kerja. Belum dari sisi tenaga kerja dan lembaga pembiayaannya. Tentunya lapangan kerja ini riil semua," ujar Misbakhun.

Misbakhun mengakui memang untuk semakin mempercepat dan membuat momen saat ini lebih berkualitas, tim ekonomi pemerintahan harus bisa berpikir lebih maju. Harus ada juga keberanian untuk melibatkan swasta dengan mengelola segala resiko yang ada.

"Ini jadi harus perenungan bagi tim ekonomi, agar bagaimana di situasi normal dan cenderung membaik ini, kita bisa melaksanakan lompatan. Jangan bekerja hanya demi menjaga stabilitas dengan kebijakan konservatif," demikian Misbakhun.[wid]


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya