Berita

Foto/Net

Bisnis

BPH Migas Curhat Cadangan BBM Riskan

Sambangi Ketua MPR
SELASA, 20 FEBRUARI 2018 | 08:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Fanshurullah Asa beserta rombongan menyambangi Ketua MPR Zulkifli Hasan di Kom­pleks Parlemen, Jakarta. BPH Migas curhat, program cadangan bahan bakar minyak (BBM) na­sional belum bisa direalisasikan lantaran terkendala anggaran.

"Jadi kami memang baru sempat menghadap Ketua MPR, kami ingin minta arahan. Inti­nya, Ketua MPR Pak Zulkifli selalu sosialisasi empat pilar, Pancasila adalah keadilan sosial bagi seluruh bangsa. Nah, BPH Migas juga melakukan hal yang sama," ujar pria yang akrab disapa Ifan saat berbincang dengan Zulkifli.

Pertemuan yang berlang­sung satu jam itu terasa hangat. BPH Migas menyampaikan cadangan BBM yang harus disiapkan pemerintah, dalam hal ini BPH Migas. Anggota komite BPH Migas Saryono Hadiwidjoyo mengungkapkan, pihaknya belum bisa melaksana­kan program tersebut karena terkendala masalah anggaran. Saat ini, hanya Pertamina yang telah memiliki cadangan BBM untuk operasional.


"Salah satu tugas BPH Migas adalah menjamin ketersedi­aan BBM nasional, tapi BBM nasional belum bisa, karena kendala anggaran. Cadangan BBM nasional belum ada (dari BPH Migas). Cadangan yang ada ini operasional 20-23 hari, itu Pertamina," katanya.

Idealnya, menurut Badan En­ergi Internasional (IEA), cadan­gan nasional BBM suatu negara mencapai 90 hari. Sebagai pem­banding, Jepang memiliki cadan­gan nasional BBM 203 hari dan Amerika Serikat (AS) 210 hari. "Melihat kondisi ini, bisa dibi­lang riskan, jika terjadi sesuatu pada pasokan BBM," ujarnya.

Saryono mengungkapkan, untuk menyediakan cadangan BBM nasional 1 hari, pihaknya membutuhkan Rp 1 triliun. Hal itulah yang menjadi pengakuan BPH Migas untuk segera ditin­daklanjuti pemerintah, sekaligus antisipasi ketergantungan impor.

"Menurut kajian tahun 2010 dulu, pemerintah dan Pertamina itu menambah 1 hari itu Rp 1 triliun. Kendalanya anggaran. Sementara negara di dunia itu sudah 90 hari, kita masih 20 hari itu operasional," keluhnya.

Berbeda dengan Saryono, Anggota Komite BPH Migas Yugi Prayogia justru bercerita soal minimnya jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Saat ini, jumlah SPBU di Indonesia berkisar 6 ribu sam­pai 7 ribu di seluruh wilayah.

Yugi memandang, jumlah tersebut tidak sebandingan total penduduk Indonesia yang ham­pir 260 juta jiwa. "Rasio jumlah penduduk dengan pengadaan SPBU, itu masih sangat tinggi rasionya dibandingkan ASEAN. Terhadap jumlah penduduk itu, satu SPBU kita layani 35 ribu orang, itu rasio rata-rata," katanya.

Menurut Yugi, minimnya SPBU di dalam negeri karena biaya pembangunannya sangat mahal. Dalam membuka satu SPBU di Jakarta, dana yang dibutuhkan paling tidak berkisar Rp 20 triliun. Pihaknya memiliki satu langkah dengan program sub penyalur di daerah. Instru­men tersebut dinilai bisa men­jangkau jaringan layanan SPBU di seluruh Indonesia dengan investasi yang terjangkau.

"Kami punya ide sub pe­nyalur, sub penyalur ini dia bisa investasi Rp 50 juta bisa bangun. Di Asmat (Papua) ada, kita sudah resmikan 3 wilayah, di Gorontalo juga ada. Harga jual itu dipatok sama sesuai dengan BBM satu harga, nanti volumenya dibatasi 1.000 liter per hari," terangnya.

Menanggapi hal tersebut, Zulkifli mendukung BPH Migas dalam menjaga ketersediaan pasokan Migas di Indonesia. Menurut Dia, sektor energi merupakan salah satu hal yang paling penting untuk menjaga kedaulatan Indonesia.

"Migas adalah sektor yang menentukan masa depan bangsa kita. Itu di samping pangan. Jadi tugas bapak akan menentukan bagaimana arahnya di Indone­sia. Karena kalau ini dua tidak berdaulat maka berat. Nanti bisa negara yang kena perangkap tidak bisa berkembang, sulit maju. Jadi stagnan," katanya. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya