Berita

Politik

Gizi Buruk Dan Campak Di Asmat Sudah Pulih

SENIN, 19 FEBRUARI 2018 | 22:26 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Wakil Ketua Badan Penanggulangan Bencana dan Tanggap Darurat (Baguna) DPP PDIP, Tigor Doris menceritakan hasil penugasan terkait kejadian luar biasa (KLB) gizi buruk dan campak di Kabupaten Asmat, Papua.

Setelah 12 hari bertugas memberikan pengobatan, perawatan dan edukasi kesehatan kepada warga, tim Baguna berhasil menanggulanggi musibah KLB di  23 distrik yang terpapar.

"Hari pertama disana kita langsung melakukan diagnosa warga, kemudian warga diberikan obat dan perawatan oleh tim medis. Selama 12 hari kemudian banyak warga yang sehat kembali," kata Tigor, Senin (19/2).


Tigor menjelaskan, Baguna PDIP mengirimkan dua tim yang tersebar di 23 distrik. Tim pertama diberangkatkan pada 24 Januari 2018 dan tim kedua diberangkatkan pada 6 Februari 2018. Tim terdiri dari beberapa tenaga medis dan perawat dengan membawa obat-obatan serta bantuan makanan.

Menurut Tigor, berdasarkan pantauan di lapangan, penyebab gizi buruk dan campak karena sebagian warga minim kesadaran pola hidup sehat. Mereka terbiasa makan tanpa cuci tangan dan memasak makanan dengan tidak higienis. Faktor lainya yakni kurangnya pasokan air bersih karena sebagian besar wilayah terdiri dari laut dan rawa-rawa.

"Setelah diberikan obat dan perawatan kita juga memberikan edukasi  bagaimana memasak makan sehat dan hidup bersih. Bahkan DPC PDIP setempat kita latih supaya bisa terus mengedukasi warga," jelas Tigor.

Selain masalah kesehatan, lanjut Tigor, penyebab KLB juga meliputi masalah kemiskinan, pendidikan, dan minimnya sarana prasarana  kesehatan.

"Banyak faktor, masalah ini sudah lama terjadi namun baru sekarang mencuat kepermukaan, peristiwa KLB ini sama dengan fenomena gunung es," tuturnya.

Oleh sebab itu politisi PDIP ini berharap pemerintah bisa menambah  jumlah anggaran kesehatan dan pendidikan minimal 40 persen supaya masalah KLB ini jangan terjadi lagi dikemudian hari.

"Bayangkan saja, satu puskesmas cuma ada dua tenaga kesehatan dan jarak puskemas jauh dari pemukiman warga. Sarana prasana kesehatan juga masih kurang, jadi masih butuh tambahan anggaran dari pemerintah pusat dan daerah, minimal 40 persen," tutup Tigor.[dem]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya