Berita

Gede Sandra/Net

Bisnis

Chatib Basri, Dangkal Dan Keberpihakan Yang Salah

MINGGU, 18 FEBRUARI 2018 | 10:11 WIB | OLEH: GEDE SANDRA

MENANGGAPI pembelaan Chatib Basri terhadap austerity policy Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan Chatib Basri kemarin (Sabtu, 17/2) membuat tulisan di BBC Indonesia yang berjudul Menteri Terbaik di Dunia: Mengapa Sri Mulyani Layak Mendapatkan Predikat Itu?

Sebuah tulisan yang intinya hendak membela Sri Mulyani atas penghargaan Best Minister yang diberikan World Government Summit minggu lalu. Memang sebuah tulisan yang bagus cara penulisannya, tapi tulisan ini terlalu anekdotal, kurang didukung oleh analisis yang ilmiah dan data-data statistik.

Saat mulai membaca tulisan Chatib Basri, saya sempat menunggu akan datang pembelaan atas data-data tidak kredibel dari Ernst & Young sebagai dasar pemberian gelar untuk Sri Mulyani. Tapi saya kecewa. Tidak ada pembelaan atas kesalahan data kemiskinan dan utang -yang sudah terlanjur dilaunching juga oleh Kemenkeu.


Tidak ada juga pembelaan atas kurang objektifnya data ketimpangan pendapatan, transparansi, dan cadangan devisa (tentang analisa lebih rinci atas EY dan datanya yang tidak kredibel dapat dibaca dalam tulisan saya sebelum ini berjudul 'Ernst & Young dan Penghargaannya untuk Sri Mulyani'. Artinya Chatib telah lari dari isu yang konten, data dasar pemberian penghargaan Sri Mulyani.

Pembelaan Chatib atas Sri Mulyani kemudian lebih diarahkan terhadap kebijakan pengetatan anggaran atau austerity policy yang dilakukan Sri Mulyani. Chatib sendiri menghindari istilah austerity dalam tulisannya. Ia lebih memilih istilah 'kebijakan fiskal yang kredibel' untuk membenarkan aksi Sri Mulyani memotong anggaran Rp 140 triliun.

Sederhana, cara untuk melihat apakah benar ini merupakan pengetatan anggatan atau kebijakan fiskal yang kredibel, yang menurut Chatib akan 'memberikan fondasi yang kokoh bagi struktur ekonomi Indonesia'. Kita akan lihat data statistik..

CNN Indonesia beberapa waktu lalu meluncurkan infografis yang berjudul Kinerja Ekonomi di Tangan Sri Mulyani. Isinya adalah tentang data-data statistik hasil kinerja selama Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan Jokowi. Beberapa data statistik yang penting akan saya ulas sebagai pembanding klaim (minus data) Chatib dalam tulisannya.

Disebutkan bahwa konsumsi masyarakat pada tahun 2017 turun ke 5,01 persen dari sebelumnya 5,91 persen di tahun 2016. Konsumsi masyarakat yang menurun adalah indikator utama bahwa kebijakan fiskal yang diterapkan Sri Mulyani telah mencekik masyarakat.

Terserah mau diistilahkan sebagai kredibel atau apapun, yang pasti kebijakan ini merugikan perekonomian masyarakat. Saya bertanya pada Chatib: struktur ekonomi yang kokoh macam apa yang mau dituju dengan merugikan perekonomian rakyat?

Disebutkan juga bahwa pertumbuhan ekonomi 2017 jauh di bawah target, hanya 5,07 persen. Bila dibandingkan dari target 5,4 persen di awal tahun 2017, dan 5,2 persen di pertengahan tahun, jelas realisasi yang dicapai Sri MUlyani jauh di bawah. Dikala perekonomian negara-negara tetangga di ASEAN melaju kencang memanfaatkan momentum membaiknya perekonomian Dunia, perekonomian Indonesia malah stagnan. Apakah memang 'struktur ekonomi yang kokoh' yang diinginkan Chatib bertujuan menjadikan pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan?

Ketimpangan pendapatan, yang digambarkan oleh rasio Gini, juga tidak membaik. Tidak turun secara signifikan, tetap stagnan di atas 0,39. Padahal kita tahu Pemerintah Jokowi telah berupaya keras mengurangi ketimpangan pendapatan masyarakat dengan pembagian kartu jaminan sosial, sertifikat tanah, dan (kini) program padat karya cash. Austerity jelas telah menghambat penurunan ketimpang pendapatan. Indeks Gini sebesar 0,391 di bawah Sri Mulyani masih sangat jauh dari indeks Gini 0,31 yang pernah dicapai Indonesia di era Gus Dur atau indeks Gini negara-negara Kesejahteraan di Eropa yang berada di bawah 0,29. Saya sangat menyayangkan bila 'struktur ekonomi yang kokoh' yang diinginkan Chatib Basri ternyata mempertahankan ketimpangan pendapatan.

Austerity policy adalah rumus ekonomi yang telah gagal mengangkat suatu negara dari krisis saat diterapkan di Amerika Latin dan juga di Yunani. Rumus ini akan mengakibatkan perlambatan ekonomi dan memburuknya ketimpangan pendapatan. Sebaliknya, austerity policy di mana-mana hanya menguntungkan para kreditor. Karena saat seluruh pos anggaran dipotong, anggaran untuk membayar utang dan cicilan kreditor selalu aman.

Ketika ekonomi lambat akibat austerity policy, maka harga aset jatuh dan jatuhnya harga aset kembali menguntungkan para pemain pasar uang (yang juga adalah kreditor). Sudah cukup merugikan rakyat. Saatnya Indonesia menggunakan growth story, cara-cara yang inovatif dan kreatif di luar austerity policy.[***]


Peneliti Lingkar Studi Perjuangan (LSP)

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Sejarah Baru! Hattrick Perdana Messi Bawa Argentina Libas Aljazair dan Samai Rekor Klose

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:15

KPK Buka Peluang Kembangkan Penyidikan Kasus Bea Cukai yang Seret Nama Djaka Budi Utama

Rabu, 17 Juni 2026 | 10:01

Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan di Ajang Piala Presiden

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:34

Pemerintah Hentikan Sementara MBG Selama Libur Sekolah

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:32

Mahfud MD Nilai Dadan Hindayana Layak Dihukum Mati Jika Terbukti Korupsi

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Kembali ke Level 78 Dolar AS

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:19

Harta Wamenko Pangan Hanif Faisol Tembus Rp8,9 Miliar, Naik Tajam Sejak 2022

Rabu, 17 Juni 2026 | 09:04

Bursa Asia Dibuka Merah, Kospi Pimpin Penurunan

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:52

Bayan Resources Siap Tebar Dividen Rp 8,96 Triliun dari Laba Buku 2025

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:40

Wall Street Variatif, Dow Jones Terbang Tinggi

Rabu, 17 Juni 2026 | 08:23

Selengkapnya