Usulan Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo agar perguruan tinggi di Indonesia membuka Fakultas Sepak Bola jadi perbincangan rakyat di dunia maya. Para pejabat baik di kementerian maupun di organisasi sepakbola kemana ya...?
Presiden Jokowi ini mengungkapkan usulannya pada Forum Rektor Indonesia (FRI) di Universitas Hasannudin, Makassar. Jokowi menginginkan pendirian Fakultas Sepak Bola dapat mengangkat persepakbolaan Indonesia bisa lebih baik dan menjadi juara.
Dia mencontohkan, sebagai implikasi revolusi industri dan berkembangnya life style industri, dikembangkanlah program studi kompetisional dan data science yang mencetak data scientist, digital economy serta e-commers. "Kenapa tidak ada (yang buka) fakultas sport industri. Misalnya fakultas sport industri jurusan manajemen sepak bola atau langsung fakultas manaÂjemen sepak bola. Di negara lain ini ada, saya buka-buka ada," katanya.
Dia mengungkapkan, jika sejak 20 taÂhun lalu sudah dibuka jurusan atau fakulÂtas manajemen sepak bola, pasti Indonesia sekarang sudah juara. "Di sini ada enggak fakultas sport industri atau fakultas manaÂjemen sepak bola? Enggak ada kan? Yah sepak bola kita kalah terus karena univerÂsitas atau perguruan tinggi kita tidak buka fakultas itu," tutup Jokowi.
Tantangan Jokowi yang menginginkan pembenahan sektor sepak bola menjadi perbincangan masyarakat di media sosial. "Setuju sepakbola modern menghasilkan uang yang gila-gilaan saat ini, butuh orang dengan manjemen yang spesifik tentang tata kelola yg baik," kata akun @okalam208.
"Maksud pak Jokowi, para rektor harus mulai merobah pola pikir lama dimana membuka jurusan sesuai kebutuhan perkemÂbangan global," ujar akun @wanso1975.
"Tergetnya ikut piala dunia dan sepak bola mendorong efek domino tumbuh bisÂnis lainnya," sahut akun @pactrice10.
"Fakultas sepak bola, jurusanya hukum sepakbola dan perwasitan, manajemen organisasi dan strategi kepelatihan, teknologi dan taktik sepak bola modern," usul akun @alfariz861.
Namun akun @untungsy berpendapat, masalah sepak bola bukan hanya soal pendidikannya saja. "pak @jokowi di benahi dulu yang ada pak, kompetisi jelas, pemain sejahtera dan kualitas lapangan yang baik.. sama induk sepakbola bisa di selesaikan pak," cuit akun @untungsy.
"Buka fakultas pun percuma, pengurusnya ga becus ngurusin, contohnya bnyk pemain2 berbakat ko ga dimanfaatkn buat prestasi indonesia & pemain di eksport buat main di luar negeri," kata akun @ariegunner2.
"Trus kapan yah bisa Ikut Piala Dunia..???" tanya akun @ChiwyRais14.
"Bukan itu pak. Pembinaan yang kurang bagus..dan postur tubuh orang indonesia kurang ideal untuk sepak bola dunia," tutur akun @AgusSugiri.
Menjadi peserta Piala Dunia merupaÂkan impian besar masyarakat Indonesia. Mengingat selama ini, Indonesia hanya bisa menjadi penonton dalam ajang yang paling bergengsi di dunia itu.
Menurut mantan pelatih timnas U-19 Indra Sjafri, Indonesia memiliki kesemÂpatan mengikuti piala dunia menyusul keputusan FIFA menambah kontestan pada tahun 2026 mendatang.
"Kita harus serius mengurusi kompetisi dari usia dini, disesuaikan dengan kondisi geografis di Indonesia. Harus ada rencana dan langkah yang nyata. Kalau tak ada, musÂtahil Indonesia masuk ke Piala Dunia ... kita harus konsisten dan komitmen yang besar terhadap pembinaan," kata Indra Sjafri.
Untuk saat ini saja, peringkat Indonesia di FIFA berada di urutan 160. Negara-negara tetangga di kawasan ASEAN yang berada di atas, ada Vietnam pada posisi 112, Filipina di posisi 123, lalu Thailand di posisi 129. Menyusul Myanmar yang turun dua tangga dari posisi 140 menjadi 142.
"Di tempat kami, sudah ada Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK), sudah menaungi seÂmua bidang olahraga, termasuk Sepakbola. Hedeh," ujar akun @yozyaulia.
"Fakultas sepak bola bagus, tapi kenapa tidak konsentrasi di fakultas pertanian? Sudah pasti langsung bisa dinikmati hasilnya? Tentu disuport oleh lahan "taÂnah" oleh Pemerintah ..." cuit akun @ partha35ap. ***