Berita

Suhardi Somomoeljono/Humas BNPT

Pertahanan

Siskamling Medsos Paling Efektif Untuk Deteksi Dini Radikalisme

JUMAT, 16 FEBRUARI 2018 | 22:37 WIB | LAPORAN:

Bangsa Indonesia selama ini dikenal sebagai bangsa yang guyub dengan segala kearifan lokal yang ada. Contohnya gotong royong, kerja bakti, tahlilan, sistem keamanan lingkungan (siskamling) dan lain-lain.

Sayang segala kearifan lokal itu kini agak tergerus seiring dengan modernisasi. Akibatnya banyak masyarakat menjadi individualis dan terkesan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.

Ironisnya, celah itulah yang kini justru berhasil digunakan kelompok radikal terorisme untuk masuk dan menyusup dalam masyarakat, sebelum melakukan aksi teror. Maraknya aksi teror akhir-akhir ini, baik itu dilakukan berkelompok maupun sendiri (lone wolf) dilakukan setelah mereka mengelabui masyarakat sekitar, terutama saat melakuan perencanaan aksi dengan mengontrak rumah. Karena ketidakpedulian lingkungan itulah, kegiatan mereka jadi tidak terdeteksi sehingga bisa melakukan aksi.


"Sebagai antisipasi aksi teror seperti itu, cara paling efektif aktifkan kembali sistem Siskamling. Bangun pos-pos penjagaan di setiap wilayah RT-RW dengan dilengkapi CCTV. Selain Siskamling konvensional, tidak bisa ditawar lagi harus dilakukan Siskamling di media sosial (medsos),” ujar praktisi hukum, Suhardi Somomoeljono di Jakarta, Jumat (16/2).

Siskamling medsos, lanjut Suhardi, bisa dilakukan dengan membentuk grup-grup messenger di setiap RT dan RW. Nantinya dari informasi itulah diharapkan bisa terdeteksi berbagai hal yang terjadi di lingkungannya, terutama bila ada warga yang bertingkah aneh-aneh dalam berideologi dan beragama.

"Ingat tahun 2018-2019 adalah tahun politik. Menjadi tugas kita semua untuk bersatu padu menyatukan warga untuk selalu waspada dengan berbagai gangguan yang mungkin terjadi, khususnya radikalisme dan terorisme," imbuh Suhardi.

Menurut pria yang juga akademisi hukum pidana Universitas Matlaul
Anwar Banten ini, deteksi dini sangat penting daripada harus menanggung akibat sampai terjadi teror.

"Kejadian aksi teror saat misa di Gereja St Lidwina adalah contoh konkrit ada manusia secara pribadi melakukan tindakan sendiri dengan cara menyerang melukai umat yang notabene tengah beribadah. Ini sangat biadab, karena faktanya radikalisme adalah terorisme adalah perbuatan keji," terang pria yang juga pakar deradikalisasi.

Ia menilai, peristiwa teror itu bisa saja dilakukan atas kesadaran sendiri disebabkan persepsi yang secara internal sudah terbentuk secara inklusif pada diri seseorang. Sebaliknya bisa juga disebabkan karena dorongan dari pihak lain yang motifnya sangat variatif.

Menghadapi adanya dua kemungkinan sebagai faktor penyebab itu, ia mengimbau pihak penegak hukum jangan sampai kehilangan sumber informasi dari pelaku tersebut. Selain itu, dalam menggali informasi dari pelaku, idealnya dari awal penyidik melibatkan peneliti dan psikologi sehingga dalam melihat sosok pelaku itu benar-benar utuh.

"Semua harus digali, baik psikologi pelaku maupun sejarah kenapa pelaku bisa teradikalisasi. Apalagi bisa menggali jaringan pelaku. Itu akan sangat efektif untuk mengantisipasi dan memetakan sel-sel radikalisme di Indonesia," tandas Suhardi.[wid]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Periksa Faisal Assegaf dalam Kasus Dugaan Suap Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:56

UPDATE

JK Menjelma Imam Besar Bagi Kelompok di Luar Kekuasaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:17

KPK Benarkan Panggil Pengusaha Rokok Haji Her, Tapi Mangkir dari Pemeriksaan

Rabu, 08 April 2026 | 10:02

Komisi X DPR Tekankan Kesejahteraan Guru dalam Revisi RUU Sisdiknas

Rabu, 08 April 2026 | 10:00

Iran Sebut Trump Setuju Penuhi 10 Syarat Gencatan Senjata

Rabu, 08 April 2026 | 09:56

IHSG Balik ke Level 7.000-an, Rupiah Menguat Usai Tersungkur ke Rekor Terendah

Rabu, 08 April 2026 | 09:54

Akselerasi Penyehatan, Adhi Karya Lakukan "Bersih-Bersih" Neraca

Rabu, 08 April 2026 | 09:40

Manuver JK Tak Perlu Dikhawatirkan

Rabu, 08 April 2026 | 09:33

Imparsial: Sudah Mendesak Dilakukan Revisi UU Peradilan Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:32

Berkas Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus Dilimpahkan ke Oditurat Militer

Rabu, 08 April 2026 | 09:21

KPK Soroti Dugaan Aliran Fasilitas ke Faisal Assegaf

Rabu, 08 April 2026 | 09:04

Selengkapnya