Berita

Foto/Net

Bisnis

Tender Tanpa LPSE Picu Praktik KKN

RABU, 14 FEBRUARI 2018 | 11:17 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pengadaan barang dan jasa di Pemerintahan Kabupaten Teluk Bituni, Papua Barat Tahun Anggaran 2017 sama sekali tidak dilaksanakan proses lelang sesuai aturan yang ada, baik pekerjaan fisik maupun peker­jaan jasa konsultan perencanaan maupun pengawasan. Hal ini bisa memicu praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Ini sangat bertolak belakang dengan regulasi pemerintah di mana setiap pengadaan barang dan jasa harus dilelang sesuai Peraturan Presiden (Perpres) no. 84 tahun 2012 tentang Pengadaan Barang/Jasa di Papua dan Papua Barat.

Aturan ini dikeluarkan presi­den yang berkaitan dengan pen­gadaan barang/jasa pemerintah setelah sebelumnya mengeluar­kan perubahan Perpres Nomor 54 tahun 2010 dalam bentuk Perpres Nomor 70 tahun 2012. Aturan ini dimaksudkan untuk mempercepat pembangunan di daerah itu.


Terkait hal tersebut, pemer­intah Kabupaten Teluk Bintuni sebenarnya telah menggelar launching LPSE tanggal 30 Mei 2017 dan unit Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) telah diresmikan. Kenyataan di lapangan, sampai akhir anggaran tahun 2017 tak ada satu pun pekerjaan yang ditenderkan.

"Hal ini pernah ditanyakan langsung kepada LPSE Teluk Bintuni dan mereka menga­takan tidak ada pekerjaan yang ditenderkan dengan alasan tidak jelas," kata Koordinator Ikatan Konsultan Nasional Indonesia (INKINDO) Kabupaten Teluk Bintuni, William Wartuny, ST di Jakarta, kemarin.

Pembentukan LPSE ini meru­pakan suatu kewajiban dan sudah sesuai dengan Perpres Nomor 84 dan 54, serta keten­tuan-ketentuan dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah (LKPP).

Perpres ini diterbitkan dalam rangka percepatan pembangu­nan Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Hal ini menunjukan komitmen kuat dari pemerintah untuk percepatan pembangunan di wilayah tersebut.

Terbitnya peraturan ini, se­bagai tindak lanjut dari UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papau sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 35 tahun 2008. Selanjutnya, terbit Perpres Nomor 65 Tahun 2011 tentang Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat.

"LPSE Teluk Bintuni sebe­narnya sudah memiliki Website resmi. Namun Kenyataannya tak ada satu pun proyek yang ditenderkan," kata William.

Menurut dia, peresmian LPSE ini sebenarnya bisa mening­katkan mutu pelayanan pelak­sanaan pembangunan dan bisa memperlancar proses lelang di setiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD). Itulah langkah maju, sehingga semua sistem pengadaan barang dan jasa bisa berlangsung tertib, teratur, trans­paran dan independen.

William mengatakan, unit ini diharapkan bisa berfungsi mengumumkan paket kegiatan yang ada di lingkungan Pemkab Bintuni dan setiap SKPD wajib menggunakan LPSE. Menurut dia, semua harus mengikuti aturan dan ketentuan yang ada.

"Itulah tuntutan dan kebijakan pemerintah pusat agar setiap layanan dan penyediaan data mesti menggunakan sistem yang terintegrasi agar terhindar dari persoalan delik hukum. Apalagi, lembaga ini adalah unit indepen­den," ujarnya.

Namun kenyataan di lapan­gan, kata William, banyak kon­trak yang telah dikerjakan baik kontrak fisik maupun jasa kon­sultan dengan cara ditunjuk langsung oleh SKPD terkait. Ketika hal ini dikonfirmasi ke pihak inspektorat dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Teluk Bintuni, diperoleh ket­erangan yang tidak jelas.

"Khusus di bidang jasa kon­sultan, ada beberapa konsultan yang terlibat dalam perenca­naan dan pengawasan tidak memiliki sertifikat badan usaha (SBU) sesuai pekerjaan yang dikerjakan," tegasnya. Padahal, katanya, keberadaan sertifikat badan usaha (SBU) ini wajib bagi perusahaan konsultan yang bergerak di bidang pengadaan barang dan jasa. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Revolusi Status Buruh Harian Lepas

Senin, 22 Juni 2026 | 00:03

Nyanyian Sony Sebut 41 Nama Dituding Hanya untuk Kelabui Penyidik

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:33

Penangkapan Roy dan Tifa Perkuat Anggapan Polisi di Bawah Kendali Jokowi

Minggu, 21 Juni 2026 | 23:17

Prabowo Panggil Rosan, Bahas Optimalisasi Aset Negara dan Transformasi BUMN

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:55

Program Sekolah Rakyat Dapat Akses Gratis Talent DNA ESQ

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:32

Malam Ini Roy Suryo dan Dokter Tifa Nginap di Rutan Polda, Besok ke Kejaksaan

Minggu, 21 Juni 2026 | 22:01

Teruji di MRS 2026, Pertamax Turbo Jadi Andalan Utama Pembalap Nasional

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Penyelenggaraan Haji Tahun Ini Lebih Baik dari Sebelumnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:46

Buntut Gesekan Petugas vs Ojol, Ini Strategi Baru Dishub DKI Atur Ruang Jalan Ibu Kota

Minggu, 21 Juni 2026 | 21:31

Mensos ke Pejabat Baru: Jangan Sabotase Program Sekolah Rakyat!

Minggu, 21 Juni 2026 | 20:45

Selengkapnya