Berita

Bisnis

Noda Hitam Ernst & Young Yang Menilai Sri Mulyani Terbaik Di Dunia

SELASA, 13 FEBRUARI 2018 | 19:05 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Penobatan Menteri Keuangan RI, Sri Mulyani, menjadi menteri terbaik di dunia dalam World Government Summit, di Dubai, Uni Emirat Arab, memancing banyak komentar kritis dari dalam negeri.

Banyak yang menduga-duga motif atau kepentingan World Government Summit di balik pemberian itu. Hal tersebut terjadi karena kinerja Sri Mulyani sendiri masih dianggap tidak terlalu baik di dalam negerinya.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu cukup terkenal dengan penerapan kebijakan makro super konservatifnya, yang dituduh sebagai penyebab mandeknya pertumbuhan ekonomi nasional dan menurunnya daya beli masyarakat selama satu tahun belakangan.


World Government Summit  sendiri merupakan pertemuan tahunan yang melibatkan pimpinan pemerintahan seluruh dunia dalam suatu forum dialog, mengangkat isu pemerintahan dan kebijakan publik, teknologi, inovasi, dan topik lainnya. Kecurigaan atas iktikad di balik penghargaan terhadap Sri Mulyani kian kuat karena forum pemberinya memiliki anasir paham ekonomi neoliberalisme.

Lebih menarik jika menengok catatan riwayat lembaga yang melakukan seleksi dalam menentukan predikat Menteri Terbaik, yaitu Ernst & Young.

Ia adalah perusahaan jasa profesional multinasional yang berkantor pusat di London, Inggris. Diberi predikat sebagai salah satu perusahaan jasa profesional terbesar di dunia. Ernst & Young adalah kantor akuntan Amerika Serikat yang terbesar ketiga di belakang Deloitte dan PwC.

Ternyata, di balik nama besarnya, perusahaan akunting Ernst & Young pernah mengalami dituntut oleh jaksa New York atas tuduhan membantu menyembunyikan masalah keuangan Lehman Brothers, perusahaan sekuritas terbesar keempat di AS. Pada 2008, Lehman Brothers dinyatakan bangkrut setelah rugi besar akibat krisis subprime mortgage.

Diberitakan Reuters, tuntutan tersebut diajukan oleh Jaksa Agung New York, Andrew Cuomo. Tuduhan kepada Ernst & Young adalah mengetahui Lehman menggunakan gimmickry atau tipu muslihat untuk menutupi keuangannya yang goyah. Gugatan tersebut mengatakan Lehman menjalankan "kecurangan akuntansi besar-besaran".

Tuntutan hukum tersebut meminta tanggung jawab US$ 150 juta, yaitu sejumlah biaya yang diterima Ernst & Young dari tahun 2001 sampai 2008 sebagai auditor Lehman Brothers.

Sementara, mantan kepala Lehman Brothers, Richard Fuld dan para eks eksekutif lainnya menjalani pemeriksaan, Cuomo berpikir untuk mengejar satu pihak yang tidak dituntut, yaitu Ernst & Young. Kejadian ini berlangsung pada 2008 silam.

Ernst & Young menyatakan pembelaan atas tuntutan hukum tersebut. Mereka menegaskan, kebangkrutan Lehman terjadi di tengah krisis keuangan global dan tidak disebabkan oleh masalah akuntansi.

Setelah pertarungan hukum yang panjang, pada 2015, Ernst & Young pun menyelesaikan tuntutan hukum yang menuduh mereka membantu Lehman Brothers Holdings Inc menipu investor pada tahun-tahun menjelang keruntuhannya. Ernst & Young dipaksa membayar US$ 10 juta.

Kasus Ernst & Young yang diajukan Andrew Cuomo itu adalah salah satu kasus hukum terbesar yang melibatkan kantor akuntan sejak perusahaan jasa akuntansi Arthur Andersen dinyatakan bersalah dan terlibat dalam skandal Enron tahun 2002.

Kehancuran Arhur Andersen mengurangi jumlah perusahaan akuntansi terbesar yang mengaudit sebagian besar perusahaan raksasa secara global, sehingga menjadi hanya empat, termasuk Ernst & Young. [ald]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya