Berita

Nasaruddin Umar/Net

Mengenal Inklusifisme Islam Indonesia (16)

Warisan Politik Kerajaan Mataram

SELASA, 13 FEBRUARI 2018 | 09:55 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

MESKIPUN kerajaan Mataram sudah resmi menganut agama Islam tetapi tidak in­gin serta-merta meninggal­kan kelompok masyarakat yang menjadi cikal bakal dan akar rumput masyarakatnya yang abangan yang oleh F.W. Wertheim lebih kental dipengaruhi mistisisme pra-Hindu, yang biasa disebut praktek Kejawen. Pusat kerajaan Ma­taram tetap mempertahankan tradisi "priyayi" yang amat kuat dipengaruhi filsafat dan prak­tek kebudayaan Hindu-Jawaisme menurut isti­lah Harry J. Benda. Hubungannya dengan kel­ompok santri yang dipimpin para Kiyai, pihak Kraton tetap memelihara jarak social, dalam arti tidak terlampau dekat tetapi juga tidak te­lalu jauh. Kelompok santri senantiasa berbenah untuk menggapai kualitas umat ideal sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Syari'ah tetapi tetap mengakar di dalam masyarakat.

Pusat kerajaan Mataram tetap mempertah­ankan kebudayaan aristokrasinya sendiri den­gan komunitas terbatasnya yang oleh C. Geerts disebut sebagai komunitas Priyayi. Garis kebi­jakan politis Mataram selalu mengambil lang­kah-langkah tegas bahkan keras terhadap kelompok Islam yang berhaluan keras. Untuk merangkul umat Islam yang terus menerus mengalami perkembangan, baik kuantitatif maupun kualitatif, pihak Keraton membuat insti­tusi khusus tentang pelaksanaan ajaran Islam di dalam pemerintahan. Pemandangan Kra­ton selalu diwarnai dengan kompleks bangu­nan empat dimensi, yaitu unsur Kraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Di samping masjid, pihak Kraton juga membuat struktur Pengadilan Agama yang diJawa disebut Qadhi atau dipu­lau-pulau lain disebut "Penghulu." Namun de­mikian, pihak Pesantren yang dipimpin para Kiyai juga membuat institusi social keagamaan khusus untuk lingkungan santri.

Dalam lintasan sejarah Panjang tampak sekali ada kekuatan Tarik menarik antara Kera­ton dan Pesantren di dalam memerebutkan kelompok Abangan yang jumlahnya mayori­tas di dalam masyarakat. Supaya tetap mem­peroleh dukungan dan legitimasi masyarakat, pihak Kraton juga memberi kewenangan ke­pada para ulama untuk mengakses Kraton. Bahkan pengangkatan Raja atau Sultan harus dikukuhkan oleh ulama. Kebijakan Raja yang tidak memberi kewenangan lebih besar kepada kaum Santri didukung oleh pemerintah colonial Belanda. Bahkan ada yang mengatakan garis politis Keraton yang membuat jarak social-poli­tik dengan Kiyai dan para santrinya bagian dari arsitek pemerintah colonial Belanda. Dalam beberapa waktu lamanya pihak Keraton men­jadi bahan nemohan dari kaum Santri karena lebih memperhatikan nasehat-nasehat pemerintah colonial daripada Kiyai yang notabene pemimpin informal masyarakat luas di jawa.


Setelah Indonesia merdeka, pemerintah Orde Lama dan Orde baru agaknya melanjut­kan garis politik Kerajaan Mataram yang mer­angkul kelompok Islam "tradisional" dan meno­lak Islam yang prgresif. Selama gerakan Islam menampilkan semarak ritualitas kegamaan maka diizinkan oleh pemerintah. Akan tetapi jika gerakan Islam sudah mulai memasuki ru­ang politik maka pada saat itu berhadapan dengan pemerintah. Sama dengan pemerintah Kerajaan Mataram tidak pernah mau menolerir Islam Politik. Dengan kata lain, mereka hanya ingin menerima Islam sebagai sebuah fenom­ena social keagamaan tetapi menolak Islam sebagai fenomena gerakan politik. Para Kiyai yang dihormati dan dirangkul Islatan ialah mereka yang kooperatif penuh dengan kebijakan pemerintah dan menolak untuk menerima para Kiyai yang memiliki pandangan dan sikap kri­tis, terlebih mereka yang melancarkan gerakan kekuatan politik praktis.

Bebagai akronim dan label menakutkan sep­erti kelompok: Komando Jihad, Pemberontak, NII, Radikalisme, Terorisme, terus digunakan pemerintah saat itu untuk menekan Islam se­bagai kekuatan politik. Memang terbukti tidak sedikit jumlah ulama yang pernah terjerat den­gan tuduhan akronim tadi.

Populer

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Raksasa Telekomunikasi Ini Bakal Dibubarkan Danantara

Senin, 25 Mei 2026 | 08:33

PT PMM Keberatan 15 Kontainer Mineral Ekspor Dibongkar Aparat

Minggu, 24 Mei 2026 | 16:43

PT DSI Resmi jadi BUMN dan Siap Buka Rekrutmen

Senin, 25 Mei 2026 | 23:14

Pengacara Blueray Cargo Ragu Amplop Suap Kode 1 Diterima Dirjen Bea Cukai

Selasa, 26 Mei 2026 | 23:19

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Keputusan Bisnis Dipidanakan, Nicko Widjaja Tulis Surat dari Rumah Tahanan

Jumat, 22 Mei 2026 | 17:34

UPDATE

PT DSI Fokus Genjot Ekspor 3 Komoditas Ini

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:53

Kasus Abu Janda jadi Ujian Polri, Akankah Pilih Kasih?

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:32

Nahdliyin DIY Soroti Konflik PBNU dan Arah Organisasi

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:10

Prabowo Dijadwalkan Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila Besok

Minggu, 31 Mei 2026 | 17:01

Kedekatan Prabowo dengan Tiga Pemimpin Adidaya Untungkan Indonesia

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:43

Kamboja Bebaskan Denda Overstay 5.950 WNI Terjerat Kasus Online Scam

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:24

Rekam Jejak Ryamizard Ryacudu: Dari Titisan Darah Militer hingga Kursi Eksekutif

Minggu, 31 Mei 2026 | 16:05

Meski Disidangkan, Kasus LCC Empat Pilar Perlu Pertimbangkan Jalan Damai

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:44

Program Bioflok Presiden Prabowo di Karawang Sukses Panen Raya 1,2 Ton Ikan Nila

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:34

Warisan Bung Tomo: Lawan Pemimpin yang Tak Berpihak pada Rakyat Kecil!

Minggu, 31 Mei 2026 | 15:26

Selengkapnya