Nasaruddin Umar/Net
Nasaruddin Umar/Net
MESKIPUN kerajaan Mataram sudah resmi menganut agama Islam tetapi tidak inÂgin serta-merta meninggalÂkan kelompok masyarakat yang menjadi cikal bakal dan akar rumput masyarakatnya yang abangan yang oleh F.W. Wertheim lebih kental dipengaruhi mistisisme pra-Hindu, yang biasa disebut praktek Kejawen. Pusat kerajaan MaÂtaram tetap mempertahankan tradisi "priyayi" yang amat kuat dipengaruhi filsafat dan prakÂtek kebudayaan Hindu-Jawaisme menurut istiÂlah Harry J. Benda. Hubungannya dengan kelÂompok santri yang dipimpin para Kiyai, pihak Kraton tetap memelihara jarak social, dalam arti tidak terlampau dekat tetapi juga tidak teÂlalu jauh. Kelompok santri senantiasa berbenah untuk menggapai kualitas umat ideal sesuai dengan tuntunan dan tuntutan Syari'ah tetapi tetap mengakar di dalam masyarakat.
Pusat kerajaan Mataram tetap mempertahÂankan kebudayaan aristokrasinya sendiri denÂgan komunitas terbatasnya yang oleh C. Geerts disebut sebagai komunitas Priyayi. Garis kebiÂjakan politis Mataram selalu mengambil langÂkah-langkah tegas bahkan keras terhadap kelompok Islam yang berhaluan keras. Untuk merangkul umat Islam yang terus menerus mengalami perkembangan, baik kuantitatif maupun kualitatif, pihak Keraton membuat instiÂtusi khusus tentang pelaksanaan ajaran Islam di dalam pemerintahan. Pemandangan KraÂton selalu diwarnai dengan kompleks banguÂnan empat dimensi, yaitu unsur Kraton, masjid, alun-alun, dan pasar. Di samping masjid, pihak Kraton juga membuat struktur Pengadilan Agama yang diJawa disebut Qadhi atau dipuÂlau-pulau lain disebut "Penghulu." Namun deÂmikian, pihak Pesantren yang dipimpin para Kiyai juga membuat institusi social keagamaan khusus untuk lingkungan santri.
Dalam lintasan sejarah Panjang tampak sekali ada kekuatan Tarik menarik antara KeraÂton dan Pesantren di dalam memerebutkan kelompok Abangan yang jumlahnya mayoriÂtas di dalam masyarakat. Supaya tetap memÂperoleh dukungan dan legitimasi masyarakat, pihak Kraton juga memberi kewenangan keÂpada para ulama untuk mengakses Kraton. Bahkan pengangkatan Raja atau Sultan harus dikukuhkan oleh ulama. Kebijakan Raja yang tidak memberi kewenangan lebih besar kepada kaum Santri didukung oleh pemerintah colonial Belanda. Bahkan ada yang mengatakan garis politis Keraton yang membuat jarak social-poliÂtik dengan Kiyai dan para santrinya bagian dari arsitek pemerintah colonial Belanda. Dalam beberapa waktu lamanya pihak Keraton menÂjadi bahan nemohan dari kaum Santri karena lebih memperhatikan nasehat-nasehat pemerintah colonial daripada Kiyai yang notabene pemimpin informal masyarakat luas di jawa.
Populer
Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26
Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37
Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48
Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06
Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01
Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17
Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16
UPDATE
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28
Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18
Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55
Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44
Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22