Berita

Foto/Net

Pertahanan

Ada Apa Dengan Republik Ini?

Ulama Dibacok, Pendeta Diserang
SELASA, 13 FEBRUARI 2018 | 09:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Toleransi umat beragama di Indonesia sedang diuji. Rentetan aksi kriminal terhadap tokoh agama terjadi. Mulai dari pembacokan ulama hingga penyerangan terhadap pendeta. Netizen serempak bertanya, ada apa dengan republik ini?

Diawali dengan munculnya penyerangan terhadap empat ulama. Serangan pertama menimpa Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hidayah, Cicalengka, Kabupaten Bandung, KH Emon Umar Basyri, Sabtu (27/1). Serangan kedua terjadi 1 Februari 2018 dengan korban Ustad Prawoto, Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis). Prawoto meninggal dunia akibat serangan yang dilakukan oknum tetangga yang diduga mengalami gangguan kejiwaan.

Kemudian, ada serangan terhadap seorang santri dari Pesantren Al-Futuhat Garut oleh enam orang tak dikenal. Ada juga seorang pria yang bermasalah dengan kejiwaannya bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal Kota Bandung mengacung-acungkan pisau.


Belum tuntas kasus-kasus itu, penyerangan terjadi terhadap pendeta dan jemaat Gereja Santa Lidwina, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Romo Prier, asal Jerman, terkena sabetan samurai. Ketua Gereja Santa Lidwina, Sukatno, mengatakan, serangan terjadi usai misa dilaksanakan. Kegiatan misa digelar sekitar pukul 07.02 WIB. Kemudian, datanglah seorang pria berjalan cepat sambil menghunuskan samurai. Beberapa jemaat termasuk pendeta Prier terkena sabetan.

Polisi sigap datang. Pelaku ditembak di bagian kaki. Tidak ada korban tewas dalam peristiwa ini. Namun, jemaat dan pendeta menderita luka serius dan sedang dalam proses perawatan di rumah sakit. Seorang petugas Polsek Gamping juga terluka. Polisi terus mendalami identitas pelaku serangan itu. Polisi menyatakan pelaku memang bukan orang Sleman, berasal dari luar DIY. "Pelaku atas nama Suliyono, sejauh ini diketahui warga Banyuwangi," kata Kapolres Sleman, AKBP M Firman Lukmanul Hakim.

Firman mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi apa-apa terkait kejadian ini. Dia menegaskan, menjaga persatuan dan kesatuan merupakan tanggung jawab bersama, termasuk tanggung jawab untuk tidak membuat masyarakat panik.

Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antaragama dan Peradaban Din Syamsuddin berpendapat penyerangan terhadap jemaat Gereja Santa Lidwina merupakan tamparan besar. Apalagi, tokoh-tokoh pemuka agama baru saja menyelenggarakan musyarawah besar kerukunan bangsa di Grand Sahid Jaya, Jakarta 8-10 Februari 2018. "Bagi kami yang baru saja selesai gelar musyawarah antarumat beragama untuk kerukunan bangsa ini sungguh tamparan besar," ujar Din usai acara puncak perayaan agenda PBB World Interfaith Harmony Week di Jakarta Convention Hall (JCC), Jakarta, kemarin. Din heran dengan adanya kasus penyerangan terhadap tokoh-tokoh agama akhir-akhir ini. Karena, menurut dia, belum lama ini penyerangan tersebut juga terjadi pada tokoh Islam di Bandung, Jawa Barat. Apalagi, yang melakukan serangan terhadap ulama dan ustad itu diduga orang gila.

Netizen mempertanyakan mengapa peristiwa ini terjadi. Beragam spekulasi muncul. "Ini ada apa yaa indonesia ini. Para pemuka agama pada di TERROR. ULAMA, USTADZ, KIYAI, BIKSHU, PENDETA. STOP ADU DOMBA..." cuit @MarwanZamani. "Ulama di bunuh. Masjid dirusak. Biksu diusir.. Gereja dirusak... Hadoooh siapa sih pelakunya.... Virus kebencian.. Mari kita basmi.." timpal @InnaeNanda.

Banyak tokoh juga menyesalkan itu terjadi, antara lain Ketua MPR, Zulkiefli Hasan. "Mengutuk keras serangan terhadap tokoh tokoh Agama. Setelah Ustadz diserang sekarang Pastor jadi korban. Gerakan yang ingin mengadu domba ummat beragama ini harus dihentikan!#DamaiIndonesiaku,"  cuit @ZUL_Hasan. Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko berasumsi peristiwa kekerasan terhadap tokoh agama ini sengaja digunakan kelompok tertentu lantaran beragam cara untuk menyudutkan Jokowi, cenderung gagal. "Pake isu PKI gak mempan, pake isu @jokowi anti Islam gak terbukti, pake isu gak bisa kerja malah gagal. Ya mulailah adu domba antar umat beragama..Susah memang lalau sekolah politiknya ala Orba (sogok, jebak, pecah belah & teror)," cuit @ budimandjatmiko. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya