Berita

Jaya Suprana/Net

Jaya Suprana

Anakronisme Kesetiaan Jamanow

MINGGU, 11 FEBRUARI 2018 | 07:11 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

APA yang disebut “kesetiaan” merupakan benda asing di panggung politik masa kini. Bahkan kesetiaan  dianggap suatu kebodohanlebih banyak mudarat ketimbang manfaat bagi kaum politisi sejati.

Kesetiaan dianggap kendala penghambat laju karier politik. Makin konsekuen serta konsisten seorang politikus bergaya kutu loncat demi lincah pindah dari satu parpol ke parpol lain makin cepat gerak laju menuju posisi karier teratas.

Kesetiaan terhadap negara dianggap tahayul.   


Kesetiaan terhadap janji setelah usai masa kampanye pemilihan umum terkesan ketinggalan zaman aliasanakronis belaka.

Maka kisah tentang perjalanan Pandawa Lima menuju Swargaloka memang sudah dianggap tidak cocok lagi bagi kemelut politik jamanow.

Perjalanan Ke Swargaloka


Seusai Bharatayuda, Pandawa Lima bersama Drupadi sepakat untuk meninggalkan kehidupan duniawi dengan menempuh perjalanan ke Swargaloka. Di awal perjalanan, seekor anjing bergabung dengan rombongan Pandawa Lima menempuh perjalanan ke Swargaloka.

Belum lama waktu berjalan, mendadak Drupadi lemah lunglai lalu terjatuh sehingga wafat. Tampaknya sanubari Drupadi sudah remuk-redam akibat terlalu berat memikul beban dendam terhadap Dursasana yang sempat mempermalukan isteri Yudistira di depan umum. Kemudian mendadak Nakula terjatuh lalu meninggal dunia. Rupanya Nakula tak tahan menanggung beban arogansi merasa diri paling cerdas.

Tak lama kemudian, Sadewa menyusul saudara kembarnya untuk menghembuskan nafas terakhir. Sadewa menjadi korban kesombongan merasa diri paling bijak. Menjelang akhir perjalanan, Arjuna tewas akibat merasa diri paling rupawan serta paling sakti mandraguna seantero jagad.  

Bima menyusul mati akibat menanggung dosa selalu bicara apa adanya tanpa peduli tata krama, sopan santun apalagi perasaan orang lain. Maka tinggal Yudhistira didampingi seekor anjing tak jelas trah namun setia mendampingi Yudhistira yang tersisa seorang diri  ditinggal mati isteri dan saudara-saudaranya.  

Gerbang Swargaloka

Akhirnya Yudhistira tiba di pintu gerbang Swargaloka. Yudhistira mengetuk pintu gerbang Swargaloka yang masih tertutup rapat. Perlahan pintu Swargaloka terbuka dan tampak Batara Indra menyambut kedatangan Yudhistira. Batara Indra mempersilakan Yudhistira masuk ke Swargaloka secara jiwa dan raga sebab insan sulung Pandawa Lima dianggap bersih dari dosa.

Namun sebelum melewati pintu gerbang demi masuk ke wilayah Swargaloka, Yudhistira bertanya kepada Batara Indra mengenai apakah sang anjing diperkenan ikut masuk Swargaloka. Tentu saja Batara Indra menganggap pertanyaan Yudhistira lebay sebab belum pernah ada seekor anjing apalagi secara jiwa-raga masuk ke Swargaloka.  

Akibat penolakan Batara Indra maka Yudhistira batal masuk ke Swargaloka lalu duduk bersimpuh di bumi sambil membelai kepala sang anjing dan berkata kepada Batara Indra "Jika anjing ini tidak diperkenankan masuk Swargaloka maka saya ingin mendampingi dia di luar Swargaloka".

Batara Indra terheran-heran "Kenapa kamu membatalkan dirimu masuk Swargaloka hanya demi seekor anjing?" Yudhistira menjawab "Saya harus setia kepada anjing ini sebab dia telah setia kepada saya".

Batara Indra tersenyum dan mendadak sang anjing beralih rupa menjadi rupa aslinya yaitu Batara Dharma, dewa pelindung Yudhistira. Kemudian Batara Indra dan Batara Dharma mempersilakan Yudhistira secara jiwa-raga masuk ke Swargaloka.

Kenyataan Jamanow


Terkait kenyataan masa kini, kisah adhiluhur tentang kesetiaan itu mungkin dianggap tidak realistis, tidak relevan bahkan konyol. Kisah versi jamanow perlu dimodifikasi menjadi kisah baru yang lebih sesuai realita kemelut politik yang mempersetan kesetiaan di mana Yudhistira meninggalkan sang anjing yang sebenarnya adalah penjelmaan Batara Dharma itu di luar gerbang Swargaloka sehingga akhirnya Batara Indra membatalkan izin surgawi bagi Yudhistirwa untuk secara jiwa-raga masuk ke Swargaloka.

Bisa jadi malah Yudhistira kemudian dikutuk oleh Batara Dharma untuk beralih rupa menjadi anjing yang dibiarkan berkeliaran sampai akhir zaman di luar Swargaloka.[***]


Penulis adalah pembelajar falsafah Wayang Purwa


Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Malaysia Fair 2026 Jadi Ajang Perluasan Pasar Medical Tourism di Indonesia

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:12

CFD Rasuna Said Kembali Digelar, Ini Lokasi Parkir dan Rute Transportasi Umumnya

Jumat, 05 Juni 2026 | 18:10

Begini Spek Bangunan SPPG di Daerah 3T yang Dibangun Kementerian PU

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:47

Sambut Nanik Deyang, APJI Minta Juknis Dapur MBG Dibenahi

Jumat, 05 Juni 2026 | 17:01

Menteri PU Rampungkan 222 SPPG di Daerah 3T

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:48

KPK Panggil Motivator Ary Ginanjar Agustian di Kasus Gratifikasi IUP Kukar

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:45

Akulaku Finance Dukung Proses Hukum pada Tindakan Kecurangan

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:36

Mubes Kosgoro 1957: Berkas La Ode Beres, Sari Yuliati Belum Bayar Administrasi

Jumat, 05 Juni 2026 | 16:18

Awas Kolesterol Naik! Ini 5 Tips Sehat Mengolah Daging Kurban ala Ahli Gizi UNS

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:57

AS Buka Jalur untuk 36 Kapal Bantuan Kemanusiaan di Selat Hormuz

Jumat, 05 Juni 2026 | 15:33

Selengkapnya