Berita

Politik

Diskusi RMOL Sumut: Politik Dan Uang, Masalah Sekaligus Kebutuhan Demokrasi

SENIN, 05 FEBRUARI 2018 | 19:47 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Politik dan uang saat ini menjadi dua hal yang tak bisa dipisahkan, apalagi menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018.

Dengan pertimbangan itu, Nongkrong Politik yang digelar oleh RMOL Sumut hari ini (Senin, 5/2) mengambil tema "Politik dan Uang".

Nongkrong Politik kali ini menghadirkan sejumlah pembicara yang berkompeten di bidangnya masing-masing. Yaitu, Anggota DPRD Sumatera Utara (Sumut) dari Fraksi PKS, Ikhirimah Hamidy; politisi Partai Golkar Sumut, Samsir Pohan; tokoh perempuan Sumut, Ade Sandra; pengamat politik Sumut, Faisal Riza; dan aktivis HMI Cabang Medan, Ridho Khairi.


"Menurut saya, politik dan uang bagai dua mata sisi uang, tidak bisa dipisahkan. Politik tanpa ada dukungan uang, target-targetnya sulit tercapai. Untuk merebut satu jabatan ketua organisasi mahasiswa saja misalnya, kampanye di kampus, itu calon banyak yang mengajukan proposal ke seniornya dengan dalih dana perjuangan," kata Ikrimah.

Ikrimah menjelaskan, salah satu cara untuk mengubah cara pandang bahwa politik dan uang itu berhubungan erat adalah membatasi gaji pejabat publik.

"Ke depan ini saya kira seorang pejabat publik jangan lagi digaji terlalu besar. Kalau terlalu besar gaji pejabat publik dengan kondisi negara seperti ini, pasti nanti 2019 money politic akan semakin besar," jelasnya.

Sementara itu, menurut Samsir Pohan, cara untuk meminimalkan anggapan masyarakat bahwa politik identik dengan uang adalah dengan memupuk kesadaran tentang tugas, fungsi, dan peran politik sesungguhnya.

"Kesadaran bahwa politik adalah sebuah keharusan itu penting, harus dibuat mengakar. Ini termasuk tugas partai politik, tapi tidak adil jika hanya partai politik. Masyarakat juga harus menyusun kesadaran itu. Kalau kita mengamini bahwa politik adalah tugas profetik, kita harus siap memupuk kesadaran itu," ungkap Samsir.

Kondisi bahwa uang mempengaruhi dinamika politik turut dirasakan langsung oleh Ade Sandra. Ia merasakan besarnya pengaruh kekuatan uang pada saat mencoba masuk ke dalam panggung Pilgub Sumut.

"Kita tidak bisa menyalahkan dari mana mulai money politic. Dari partai, praktisi, atau masyarakatnya? Karena jiwa materialistis dalam dunia demokrasi di Sumut sangat kental. Ini menjadi tugas kita semua untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa uang tidak dapat membeli segalanya," ujar Ade

Mengenai fenomena politik dan uang, Faisal Riza mengungkapkan bahwa hal serupa telah terjadi sejak era penjajahan Belanda. Bahkan ada ungkapan yang lebih buruk dari politik dan uang (money politic) saat ini.

"Sekarang berkembang yang namanya Vote Buying, dimainkan oleh para broker politik. Broker menjadikan suatu hal dalam politik itu semakin mahal. Praktisi sebenarnya malah lebih dirugikan. Kalau broker itu kerjanya seperti menjamin suara untuk satu calon kepala daerah," jelasnya.

Sebagai aktivis mahasiswa, Ridho Khairi berharap kepada partai politik, tokoh masyarakat, serta akademisi untuk bekerja keras mengubah cara pandang masyarakat tentang politik.

"Jadi bagaimana cara mengubah ini, tentu bukan pekerjaan yang mudah dan murah. Pandangan masyarakat harus diperbaiki. Proses penegakan hukum juga harus diperbaiki. Hukum masih bersifat subjektif pelaksanaannya. Menurut saya, faktor yang harus diperbaiki penyelenggaraan negara. Mereka semakin membuat masyarakat berpendapat bahwa politik identik dengan uang," demikian Ridho Khairi. [ald]

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Jusuf Hamka Siapkan Rp5 Triliun untuk Borong Saham

Minggu, 18 Oktober 2026 | 11:21

UPDATE

Dino Patti Djalal Endus Tim Siluman Mulai Bergerak

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:51

Trump Ancam Serang Iran Besok

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:50

Wajah Indonesia di WCCE 2026, Mulai Film Jumbo hingga Komedi Pandji

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:34

Survei: 64 Persen Publik Tidak Puas dengan Program MBG

Minggu, 25 Oktober 2026 | 19:21

Dino Patti Djalal Buka Suara soal Kabar Ketemu Dubes Singapura dan Saiful Mujani

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:46

Istiqomah Bela Palestina, Syahrul Aidi Dukung MUI Tolak Konser Andrea Bocelli

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:28

Zurich Topas Life Digugat ke PN Jaksel

Minggu, 25 Oktober 2026 | 18:06

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

Anak-anak Korban Karhutla Diminta Tetap Semangat Belajar

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:37

Kedubes Singapura Tegaskan Kabar Pertemuan Saiful Mujani dan Dino Patti Djalal Hoaks

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:19

Selengkapnya