Berita

Said Iqbal/Net

Pertahanan

Buruh: Pelibatan Tentara Dalam Unjuk Rasa Merusak Citra Jokowi

MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 | 22:29 WIB | LAPORAN:

Presiden Joko Widodo didesak mencabut nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara Panglima TNI dengan Kapolri terkait Pengamanan Unjuk Rasa dan Mogok Kerja.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal menyampaikan, buruh menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terkena tindakan otoritarianisme dari MoU itu.

Selain sering menggelar aksi unjuk rasa dalam menyampaikan aspirasinya, dengan MoU itu pemerintah hendak mengkarangkeng kelompok-kelompok kritis yang menyuarakan aspirasi.


"Dalam MoU antara Kepolisian dan ILO saja disepakati bahwa dalam mengamankan mogok kerja polisi harus berada dalam jarak minimal 25 meter. Apalagi ini melibatkan tentara dalam penanganan mogok kerja. Jelas hal ini bertentangan dengan konstitusi dan hukum internasional,” tutur Said Iqbal di Jakarta, Minggu (4/2).

Menurutnya, pelibatan tentara dalam penanganan unjuk rasa apalagi mogok kerja akan merusak citra Presiden Joko Widodo di mata internasional yang berdampak great investasi Indonesia akan menurun di mata investor terutama investor asing.

"Dan juga hal ini menciderai demokrasi yang mengedepankan masyarakat sipil, bukan lagi mendorong tentara dan polisi dalam dwi fungsi yang sudah di hapus dalam era reformasi. Dan bagi ILO, MoU ini adalah pelanggaran serius terhadap hak freedom of asociation, kebebasan berserikat,” ujar Said Iqbal.

Karena itu, Said Iqbal mendesak Presiden Joko Widodo agar memerintahkan Kapolri dan Panglima TNI untuk mencabut MoU tersebut.

Dijelaskan Said Iqbal, ada sekitar dua puluh ribu buruh yang tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dari Jabodetabek akan melakukan aksi di Istana Negara, pada Selasa (6/2).

Aksi juga akan dilakukan ribuan buruh serentak di berbagai kota lain seperti Bandung, Surabaya, Semarang, Medan, Batam, Yogjakarta, Aceh, Bengkulu, Lampung, Makassar, Gorotanlo, Manado, Bajarmasin, dan sebagainya.

Dalam aksi tersebut, para buruh akan mengusung tiga tuntutan rakyat dan buruh, atau TRITURA. Tiga tuntutan itu adalah pertama, turunkan harga beras dan listrik-tolak impor beras– wujudkan kedaulatan pangan dan energi; dua, (2) Tolak upah murah, cabut PP 78/2015 tentang Pengupahan; tiga, Pilkada dan Pilpres: Pilih calon pemimpin yang pro buruh dan anti PP 78/2015.

Selain itu, kata dia, dalam aksi itu buruh juga akan menyuarakan, menolak Nota Kesepahaman antara Kepolisian Republik Indonesia dan Tentara Nasional Indonesia Nomor: B/2/I/2018 Nomor: Kerma/2/I/2018 tentang Perbantuan Tentara Nasional Indonesia Kepada Kepolisian Republik Indonesia Dalam Rangka Pemeliharaan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat.

Selain itu, lanjut Said Iqbal,  buruh mendukung langkah gerakan mahasiswa dan BEM UI yang memberikan kartu kuning kepada Jokowi. Bahkan para buruh, kata Iqbal, memberikan kartu merah kepada presiden Joko Widodo atas mahalnya harga beras danlistrik terlebih dengan rencana impor beras, berlakunya upah murah melalui PP no 78/2015, dan adanya MoU antara Kepolisian dan TNI mengenai pengamanan unjuk rasa dan mogok kerja.

"Aksi 6 Februari 2018 akan terus meningkat eskalasi-nya hingga may day di mana ratusan ribu buruh se-Jawa Sumatera dan kota lainnya akan masuk ke Jakarta pada 1 Mei, tepat pada Hari Buruh Internasional,” demikian Said Iqbal. [sam]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Tak Ada Pintu Setop Perang Iran versus AS-Israel

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:02

Prabowo di Tengah Massa Buruh Tak Lagi Hadapi Kritik, tapi Terima Dukungan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 04:00

Pertama Kali Presiden RI Dielu-elukan Buruh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:28

Polri Apresiasi Massa Buruh Tertib

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:20

Perpres Ojol 92 Persen Bisa Picu Kenaikan Tarif

Sabtu, 02 Mei 2026 | 03:01

Jumhur Hidayat Jadi Menteri LH: Politik Merangkul untuk Mengendalikan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:42

Waspada Gelombang Tinggi saat Libur Panjang Pekan Ini

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:19

Kaji Ulang Wacana Pemangkasan Jaminan Kesehatan Aceh

Sabtu, 02 Mei 2026 | 02:00

Perbedaan Lokasi May Day Tak Perlu Diperdebatkan

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:32

Perpina DKI Serukan Kepemimpinan Perempuan Berdaya

Sabtu, 02 Mei 2026 | 01:06

Selengkapnya