Berita

Presiden Jokowi/Net

Bisnis

Vietnam Lebih Gesit Rebut Pasar Indonesia

Jokowi Kecewa Kinerja Ekspor Letoy
MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 | 12:01 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rendahnya nilai ekspor disinyalir disebabkan belum optimalnya Indonesia di dalam memanfaatkan potensi pasar. Pemerintah disarankan mengevaluasi produk tujuan perdagangan luar negeri.

Kekecewaan Presiden Jokowi terhadap kinerja perdagangan Indonesia harus dijadi­kan alarm kepada pihak terkait untuk melakukan koreksi dan memacu kinerja untuk mengerek kinera ekspor.

Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Internasional Ka­mar Dagang dan Industri (Ka­din) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menilai, nilai ekspor Indonesia tertinggal dibanding negara asia tenggara lain­nya disebabkan banyak faktor. Antara lain, pemanfaatan kerja sama perdagangan, free trade agreement (FTA) belum digrap optimal.


"Pemanfaatkan FTA baru 30 sampai 35 persen, padahal melalui kerja sama ini bisa meningkatkan kinerja ekspor. Vietnam telah banyak ambil (pangsa pasar kita) dari FTA (kerja sama). Saya kira kita harus lebih kompak untuk mem­perkuat, bagaimana bisa me­manfaatkan lebih banyak," kata Shinta kepada Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.

Lemahnya kinerja ekspor, lanjut Shinta, juga disebabkan Indonesia tidak piawai dalam memilah produk/komoditas yang tepat untuk tujuan ekspor. Pemerintah perlu melihat lebih dalam produk apa yang poten­sial di negara tujuan. Selain itu, diharapkannya, pemerintah mempersiapkan mendukung penguatan daya saing produk tersebut di dalam negeri.

Untuk pangsa pasar, hinta melihat, tidak ada persoalan yang signifikan. Karena, upaya mem­perluas kerja sama perdagangan sebenarnya terus dilakukan Kementerian Perdagangan (Ke­mendag).

Menurutnya, saat ini ada 18 perundingan perdagangan bebas yang tengah dikejar Kemendag baik itu dengan negara-negara di Eropa, Asia, dan Afrika.

"Ini hanya tinggal masalah waktu saja untuk menyelesaikan kesepakatan. Dan, agar kesepakatan itu bisa meningkatkan ekspor maka produk kita harus siap, industrinya harus siap. Kita sudah ketinggalan kereta, semua harus dipercepat dan jalan secara paralel," ujarnya.

Dia menambahkan, untuk menciptakan produk berdaya saing maka iklim bisnis di dalam negeri harus baik mulai dari infrastruktur, upah buruh, dan dukungan pemerintah.

"Vietnam berkembang pe­sat, karena pemerintah di sana banyak memberikan dukungan, termasuk soal kemudahan perizinan," ungkapnya.

Bagaimana dengan kritik Presiden terhadap kinerja Indo­nesia Trade Promotion Center (ITPC)? Shinta mengaku tidak setuju dibubarkan. Karena, ren­dahnya nilai ekspor Indonesia, belum tentu kesalahan ITPC.

"Tidak perlu dibubarkan, cu­kup dievaluasi," imbuhnya.

Seperti diketahui, Presiden Jokowi belum lama ini meng­kritik kinerja ekspor Indonesia. Karena, nilainya kalah den­gan negara Asia Tenggara lain. Disebutkannya, nilai ekspor Indonesia pada 2017 hanya 168 miliar dolar AS. Jumlah itu kalah dengan Thailand sebesar 231 miliar dolar AS, Malaysia 189,5 miliar dolar AS dan Vietnam 160 miliar dolar AS. Padahal, jumlah penduduk dan sumber daya Indonesia jauh lebih besar dari negara-negara tersebut.

Menurutnya, lemahnya ki­nerja ekspor Indonesia tidak lepas dari lemahnya kinerja Kemendag dalam membuka pasar baru dan melakukan pro­mosi di luar negeri. Jokowi meminta agar ITPC dibubarkan jika tidak produktif.

Jago Kandang


Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Jongkie D. Sugi­harto mengungkapkan, untuk sektor kendaraan bermotor, kinerja ekspor Indonesia kalah dengan negara Asia Tenggara karena produk yang dhasilkan tidak sesuai dengan selera pasar dunia.

"Infrastruktur dan teknologi industri di Indonesia juga masih tertinggal bila dibandingkan Malaysia dan Thailand. Orang kan beli produk melihat kuali­tasnya. Akibatnya kita seperti sekarang hanya jago kandang," kata Jongkie.

Berdasarkan data Gaikindo, ekspor kendaraan bermotor Indonesia dalam kondisi utuh (CBU) selama 2017 tercatat sebesar 214.971 unit. Jumlah itu lebih kecil dari Thailand yang berhasil mengeskpor 1,2 juta unit, Malaysia 600 ribu unit, dan Vietnam sekitar 300 ribu unit.

Jongkie menambahkan, jika ekspor kendaraan meningkat maka kualitas mutlak perlu ditingkatkan. Selain itu harus pandai membaca selera pasar. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya