Berita

Foto/Net

Bisnis

BI Kudu Antisipasi Dampak Kebijakan Bos Baru The Fed

Yellen Akhiri Masa Jabatan Dengan Tahan Suku Bunga
MINGGU, 04 FEBRUARI 2018 | 09:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Di penghujung jabatan, Gubernur Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Janet Yellen kemarin memutuskan menahan suku bunga bunga acuan (Fed Funds Rate/FFR). Keputusan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) ini dipastikan pasca The Fed dipimpin Jerome Powell. Lantas bagaimana dampaknya terhadap Indonesia?

Direktur Group Surveilans dan Stabilitas Sistem Keuangan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) M Dody Ariefianto me­nilai, keputusan Yellen di akhir jabatan memang sudah dipredik­si. Karena kenaikan FFR akan ada di masa kepemimpinan Jerome Powell, yang resmi men­jabat mulai 3 Februari.

Doddy menyebut, The Fed kemungkinan menaikkan suku bunga acuan hingga tiga kali tahun ini, yaitu Maret, Juni, dan September. Karena itu dia cemas, kenaikan suku bunga global akan mengganggu upaya penurunan suku bunga di dalam negeri.


"Padahal, tren penurunan suku bunga domestik sudah dimulai sejak Oktober 2014. Namun tren tersebut sebenarnya akan terus berlanjut sampai ada tekanan dari The Fed," ucapnya kepada Rakyat Merdeka.

Doddy lalu membeberkan, sejak Oktober 2014 hingga akhir 2017 suku bunga deposito indus­tri perbankan menurun sebanyak 164 basis poin (bps). Sedangkan selama 2017, ketika BI menu­runkan dua kali suku bunga acuan masing-masing 25 bps, rata-rata suku bunga deposito bank turun 56 bps, dari 6,08 persen menjadi 5,52 persen.

"Hal itu juga menunjukkan li­kuiditas bank semakin membaik. Likuiditas akan tetap longgar hingga tahun ini. Sedangkan tren penurunan suku bunga akan berlangsung hingga Mei 2018, meskipun cenderung melandai," kata Dody.

Berdasarkan riset LPS, selama 2017 terjadi penurunan suku bunga khusus perbankan (spe­cial rate) yang signifikan dan masih akan berlanjut.

"Tren suku bunga ini penting bagi LPS untuk menentukan ke­bijakan penjaminan nantinya," tutur Dody.

Sementara, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk (Perma­taBank) Josua Pardede melihat, Indonesia akan jauh lebih siap saat FFR dikerek. Sebab, kata Josua, ekonomi Indonesia masih positif dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga dalam kondisi stabil, sehingga diharap­kan dapat menjadi penopang dari tiap dampak kebijakan AS.

"Reformasi pajak yang di­lakukan AS akan mendorong pertumbuhan ekonomi AS jadi 2,2-2,5 persen. Dengan ekonomi AS membaik dapat mendorong penguatan dolar AS untuk jang­ka pendek dan menengah. Kon­disi ini masih positif dampaknya bagi Indonesia," ujarnya kepada Rakyat Merdeka.

Josua kemudian memprediksi dengan adanya reformasi pajak itu dapat mendorong Federal Reserve menaikkan suku bunga sebanyak 2-3 kali pada 2018.

Meski begitu, katanya, Indone­sia perlu mengantisipasi dampak kebijakan reformasi pajak AS tersebut. Dan Bank Indonesia (BI) sendiri, cenderung akan pertahankan suku bunga pada 2018. Ditambah BI juga pastinya menjaga kestabilan nilai tukar rupiah agar dapat menjadi katalis positif untuk Indonesia.

"Salah satu prasyarat investor global investasi, yaitu kestabilan nilai tukar. Bila investasi baik tetapi nilai tukar tak stabil, maka appetite jadi tidak terlalu besar," tambah Joshua.

Sebelumnya, The Fed mem­pertahankan tingkat suku bunga tidak berubah dari level 1,25 persen hingga 1,5 persen. Namun, di sisi lain mereka juga menyata­kan bahwa inflasi kemungkinan meningkat tahun ini. Hal terse­but meningkatkan ekspektasi biaya pinjaman akan terus naik di bawah pimpinan Powell.

Di bawah kepemimpinan Pow­ell, The Fed diharapkan menerapkan kebijakan yang sepandangan dengan Yellen, yang mempelopori langkah bertahap untuk menjauh dari suku bunga nol persen. Hal itu diadopsi untuk memulihkan ekonomi dan memacu pertumbuhan lapangan kerja setelah resesi 2007-2009.

"The Fed, yang menaikkan suku bunga tiga kali tahun lalu dan pada Desember 2017, mera­malkan tiga kali kenaikan untuk tahun ini, dengan mengatakan bahwa tingkat kenaikan berta­hap lebih jauh akan diperlukan. Rentang target suku bunga federal saat ini adalah 1,25 persen sampai 1,50 persen," terang Yellen dalam keputusan The Fed. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya