Berita

Foto/Kemnaker

Menaker: Jika Ingin Bertahan, Perusahaan Harus Siap Bertransformasi Ke Ekonomi Digital

RABU, 31 JANUARI 2018 | 00:02 WIB | LAPORAN: DEDE ZAKI MUBAROK

Transformasi bidang industri dan ketenagakerjaan di era ekonomi digital sebagai keharusan. Jika perusahaan tidak siap menghadapi perubahan ke ekonomi digital bisa berakibat fatal banhkan akan mengalami kebangkrutan.

Demikian disampaikan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri  ketika membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Ketenagakerjaan di Jakarta, Selasa (30/1).

"Era ekonomi digital akan mempengaruhi banyak hal dibidang ketenagakerjaan. Industri akan dipaksa bertransformasi menjadi industri model baru yang berbasis teknologi. Jika tidak dikelola dengan baik, ini bisa mengalami guncangan industrial," kata Menaker.  


Menurut Menaker, transformasi industri penting untuk dikelola dengan baik. Transformasi ini kata dia, bisa mengubah karakter tenaga kerja dimasa depan.

Dengan perubahan tersebut, lanjut Hanif, memang akan membunuh sebagian jenis pekerjaan, namun juga akan menumbuhkan pekerjaan-pekerjaan baru di masa depan.

"Pekerjaan-pekerjaan baru itu akan membutuhkan penguasaan keterampilan baru sehingga pemerintah akan menggenjot akses kepada pelatihan vokasional bagi para pekerja," katanya.

Hanif berharap pihak swasta dapat berinvestasi kepada peningkatan keterampilan tenaga kerja baik melalui penyelenggaraan pelatihan maupun melalui program pemagangan.

"Industri harus memimpin dalam investasi sumber daya manusia. Di negara maju investasi SDM dari industri ini mencapai 70 persen, baru sisanya 30 persen dilakukan pemerintah. Di Indonesia belum, masih dilakukan secara bertahap," kata Hanif.

Ada tiga hal, kata Hanif, yang harus diperhatikan secara serius terkait pembangunan ketenagakerjaan yaitu kualitas, kuantitas, dan lokasi.

Kualitas terang Hanif, berkaitan dengan bagaimana memastikan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Sementara, kuantitas berkaitan dengan seberapa banyak jumlah orang yang persyaratan untuk masuk ke dunia kerja yang bersaing.

"Salah satu upaya untuk menggenjot kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di Indonesia adalah dengan masifikasi pelatihan kerja dan sertifikasi profesi,” ujar Hanif.

Terkait lokasi, kata Hanif, ini menjadi kendala tersendiri. Pada dasarnyaIndonesia memiliki banyak sumber daya manusia yang kompeten. Namun, persebaran sumber daya tersebut kurang merata.

“Kita akan mudah menemukan sumberdaya yang berkualitas tinggi di kota-kota besar. Namun, saat kita berbicara daerah pelosok, jumlahnya akan sangat sedikit dan susah dicari,” tutur Menaker.

Salah satu upaya yang dilakukan Kemnaker untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan melakukan program 3R (Re-orientasi, Revitalisasi, dan Rebranding) di Balai Latihan Kerja (BLK).

“Melalui Program 3R, BLK akan fokus pada bidang tertentu dan jangkauannya lebih luas. Jadi, tenaga kerja yang lokasinya di pelosok bisa mengikuti pelatihan di BLK karena ada program boarding,” katanya.

Selain melalui pelatihan kerja, Kemnaker juga menggalakkan program pemagangan. Peserta pemagangan dapat belajar langsung di perusahaan, sehingga mereka tahu lingkungan kerja yang sesungguhnya seperti apa dan bagaimana cara bekerja yang baik.

 â€œIni pastinya melibatkan  pihak swasta. Oleh karena itu, kami sangat mengharap dukungan pihak swasta untuk berpartisipasi aktif dalam membangun ketenagakerjaan di Indonesia,” katanya.

Dengan investasi sumber daya manusia yang semakin baik, lanjut Hanif, Indonesia akan semakin siap untuk menghadapi persaingan global. Diharapkan kedepannya, sumber daya manusia akan menunjang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang ditargetkan sebesar 5,4 persen pada tahun 2018 ini.

Dari arahan Presiden Joko Widodo, kata Hanif, sejumlah indikator ekonomi Indonesia relatif baik, tetapi belum bisa tumbuh melejit.

“Pembenahan difokuskan pada masalah di bidang investasi dan peningkatan ekspor/perdagangan luar negeri,” jelasnya.

Berbagai pembenahan yang dilakukan pemerintah diharapkan mampu berdampak positif terhadap kondisi Indonesia, salah satunya misalnya dari sisi penurunan pengangguran. [dzk]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Dirgahayu Pandeglang ke-152, Gong Salaka!

Rabu, 01 April 2026 | 18:04

Klaim Nadiem Dipatahkan Jaksa: Rekomendasi JPN Tak Dilaksanakan

Rabu, 01 April 2026 | 18:03

Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Macet, Legislator Golkar Koordinasi dengan APH

Rabu, 01 April 2026 | 17:40

Pariwisata Harus Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

Rabu, 01 April 2026 | 17:24

Harta Gibran Tembus Rp 27,9 Miliar di LHKPN 2025

Rabu, 01 April 2026 | 17:03

Purbaya Pede Defisit APBN 2026 di Bawah 3 Persen

Rabu, 01 April 2026 | 17:00

Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi Sulit Dihindari

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Menaker Yassierli Imbau Swasta dan BUMN Terapkan WFH Sehari dalam Sepekan

Rabu, 01 April 2026 | 16:51

Selisih Harga BBM Nonsubsidi Ditanggung Pertamina

Rabu, 01 April 2026 | 16:44

Selengkapnya