Berita

Foto/Net

Bisnis

Industri Sawit Serukan Boikot Produk Eropa!

Negeri Benua Biru Larang CPO
SELASA, 23 JANUARI 2018 | 10:34 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kebijakan Parlemen Eropa yang menyetujui penghapusan Crude Palm Oil (CPO) sebagai bahan baku biofuel, sangat merugikan industri sawit nasional. Pengusaha meminta pemerintah membalasnya dengan memboikot produk dari Negara Benua Biru.

Ketua harian Asosiasi Produs­en Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, keputusan parlemen Eropa yang melarang CPO Indonesia tidak konsisten. Padahal sebelumnya, Eropa hanya meminta sawit Indonesia untuk berkelanjutan (sustainability).

"Itu artinya mereka tidak konsis­ten dengan keputusannya sendiri. Mereka juga diskriminasi terhadap produk sawit kita," ujarnya kepada Rakyat Mereka, kemarin.


Karena itu, dia meminta, pe­merintah juga memboikot produk-produk Eropa yang masuk ke Indonesia. Hal ini untuk mem­perlihatkan kepada Eropa jika Indonesia bisa tegas juga.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indo­nesia (GAPKI) Danang Giri­wardana menjelaskan, rencana Eropa untuk mengurangi ekspor kelapa sawit dari Indonesia ini harus menjadi perhatian pemer­intah. Karena hal tersebut dapat memukul industri kelapa sawit.

"Indonesia mesti memper­siapkan bargaining position yang lebih kuat. Kita juga harus meminimalkan juga ketergan­tungan pada pasar Eropa ke Indonesia," ujarnya.

Menurut Danang, selama ini Indonesia dan stakeholder terlalu mengikuti permainan negara-negara Eropa. Oleh kar­ena itu pemerintah harus da­pat mengurangi ketergantungan pada pasar Eropa.

Pemerintah, harus melihat masing-masing kepentingan Eropa ke Indonesia dan seba­liknya. Terutama Kementerian Perdagangan dan Kementerian Luar Negeri yang harus proaktif melindungi kepentingan ekspor ke Eropa. Intinya mencegah unfair international trade.

GAPKI sendiri terus melaku­kan diskusi intensif dengan pemerintah. Saat ini, GAPKI sedang menyusun gerakan yang berbeda dan orientasi yang berbeda supaya semakin kecil pengaruh Eropa pada urusan perkebunan di Indonesia.

Ia menegaskan, negara yang besar dan berdaulat tidak boleh kalah oleh intimidasi negara lain. "GAPKI dengan seluruh industri perkebunan dan olahan sawit tidak akan diam, kita juga proak­tif menyikapi mempersiapkan inovasi-inovasi baru dan pasar- pasar baru," katanya.

Untuk diketahui, Parlemen Eropa setelah menyetujui pro­posal undang-undang yang akan diajukan ke Menteri Uni Eropa mengenai penggunaan energi terbarukan. Salah satunya kebi­jakan yang dihasilkan ada meng­hapus CPO sebagai salah satu bahan dasar biofuel. Keputusan diambil melalui voting Anggota Parlemen Eropa (MEP) pada Rabu, pekan lalu.

Dalam penjelasannya, pro­posal tersebut menyebutkan bahwa minyak sawit dianggap menjadi salah satu dalam proses deforestasi. Proposal tersebut juga menyebutkan bahwa peng­gunaan sawit di Uni Eropa akan berakhir pada 2021, yang men­jadi periode awal diterapkannya undang-undang konsumsi energi Eropa yang baru.

Dalam berbagai kesempatan, Menteri Perdagangan Enggar­tiasto Lukita pun sangat gerah dengan kebijakan Eropa yang menghambat sawit RI. Dia pun mengancam membalas aksi Eropa tersebut dengan meny­etop impor produk susu bubuk dan wine.

Menteri dari Partai Nasdem ini menilai tekanan terhadap minyak sawit Indonesia sudah tergolong diskriminatif. "Saya sampaikan kepada Eropa mereka memulai trade war dan saya bilang juga akan begitu," ujar Enggartiasto.

Mendag mengancam akan melakukan hal serupa untuk in­dustri susu bubuk. Alasan serupa dapat digunakan dalam rangka melindungi petani Indonesia. Nantinya, pihaknya akan men­dorong importir untuk menyerap produksi dalam negeri.

Meskipun negara tidak bisa menghapus negara sumber produk, tapi para pengusaha bisa menyetop impor dari Eropa, hingga tidak ada aturan yang dilanggar.

Selain itu, dalam rangka me­lindungi industri sawit dari kampanye negatif, Enggar bi­lang telah melakukan upaya diplomasi. Dalam hal hubungan antar negara, Enggar telah men­girimkan surat kepada parlemen Uni Eropa.  ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya