Berita

Foto/Net

Bisnis

Taspen Genjot Portofolio Investasi Di Sektor Infrastruktur

Pengelola Dapen Diminta Kurangi Porsi Deposito
SENIN, 22 JANUARI 2018 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Badan Perencanaan Pem­bangunan Nasional (Bappenas) mendorong, agar perusahaan pengelola dana pensiun (dapen) berani mengelola dananya di luar deposito. Hal itu dimaksud­kan, agar perusahaan bisa mem­berikan manfaat lebih kepada para peserta pensiunan.

Selama ini penempatan dana kelolaan pensiunan memang banyak dikelola melalui deposi­to, karena dinilai aman. Namun, imbal hasil yang diterima sangat­lah kecil. Pemerintah pun cukup khawatir, jika para pengelola dana pensiun hanya mengan­dalkan deposito. Padahal pen­empatan dana di luar itu melalui instrumen investasi, banyak yang bisa dimanfaatkan.

Bagaimana dengan PT Taspen Persero? Sebagai Taspen pe­rusahaan pelat merah yang mengelola asuransi tabungan hari tua dan dana pensiun, perse­roan mengaku telah melakukan penempatan dana di instrumen investasi. Bahkan diklaim jauh lebih dari yang diharapkan.


Direktur Utama Taspen Iqbal Latanro mengatakan, pihaknya sudah sejak tahun lalu men­gubah strategi penempatan in­vestasinya, dengan mengalihkan sebagian penempatan investa­sinya di deposito ke sektor in­frastruktur maupun properti.

"Kami melihat, investasi pada sektor infrastruktur memiliki potensi keuntungan yang cukup besar. Investasi langsung di in­frastruktur ini boleh dilakukan oleh pengelola dana pensiun berdasar­kan regulasi," ucap Iqbal saat ditemui Rakyat Merdeka di Bogor, Jawa Barat, akhir pekan kemarin.

Apalagi Iqbal menyebut, tren menurunnya suku bunga de­posito, menjadikan penempatan investasi menjadi salah satu an­dalan yang mampu mendorong pendapatan Taspen.

Meski belum merinci porsi tersebut, namun Iqbal bilang, penempatan yang cukup besar di investasi membuat kinerja perse­roan positif di tahun lalu.

"Tentunya dengan tambahan pendapatan hasil investasi pen­empatan dana di sejumlah port­folio investasi, dan penerimaan fee based income (pendapatan non bunga) dan hasil investasi lainnya, kinerja Taspen tetap positif," imbuhnya.

Iqbal merinci, sepanjang 2017 anaudited, Taspen mencatat ke­naikan aset yang melewati target 100,28 persen atau naik 15,98 persen menjadi Rp 230 triliun.

Dari segi laba bersih, Taspen juga mengalami kenaikan 188 persen atau sebesar Rp 720 miliar (anaudited). Kenaikan itu sama dengan 104 persen dari target. Target pendapatan naik karena sesuai dengan program yang dilakukan. Tak hanya itu, di tahun lalu, Taspen juga men­erima pembayaran premi sebesar Rp 7,8 triliun dan membayar klaim sebesar Rp 9,6 triliun.

"Lebih besarnya klaim dari pembayaran premi kalau dilihat dari asuransi murni tak sehat, tapi kami mampu menopang kekurangannya dari hasil in­vestasi dan fee based income," terang eks Bos BTN ini.

Iqbal melanjutkan, dari sisi permodalan Taspen mengalami kenaikan hingga 23,74 persen dan hasil investasi mencapai 10,52 persen. Saat ini, dari sisi tingkat kesehatan, Taspen memperoleh rating AA atau baik. Selain itu, pihaknya juga berperan proyek 20 infrastruktur maupun obligasi.

Di kesempatan yang sama, Direktur Investasi Taspen Iman Firmansyah menambahkan, di tahun lalu nilai investasi Taspen mencapai Rp 208,8 triliun. Taspen sudah sangat banyak melakukan penempatan dana di luar de­posito. Salah satunya melalui pembiayaan langsung (direct investment), di mana Taspen ikut memberikan modal langsung pada perusahaan dalam proyek pembangunan infrastruktur.

"Investasi melalui equity senilai Rp 2 triliun atau setara 14 persen di kepemilikan saham Taspen di Waskita Toll Road (WTR) tahun 2017, dan proyek sebelumnya di jalan tol marga mandala sakti balaraja," terang Iman.

Selain direct investment, sam­bungnya, banyak juga peran Taspen di luar itu, terutama di sektor infrastruktur melalui obli­gasi, Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) dan saham pada perusahaan yang go public di pasar modal.

Diakui Iman, tahun lalu posisi deposito memang mengalami kenaikan 20 persen dari target 12 persen. Sementara di saham ada tujuh penempatan, pada posisi 2017 tertinggi di angka 15 persen dari portofolio. Investasi langsung masih 1 persen karena belum ada penambahan baru dari WTR. Sementara reksadana 7 persen, KIK EBA sekitar 5 persen dan surat berharga negara (SBN) sekitar 65 persen.

Di tahun ini, Taspen berharap, hasil investasi bisa naik hingga 10 persen dari Rp 208,8 triliun. Selain kenaikan target hasil investasi, kom­posisi portofolio juga berubah.

Deposito dari capaian 20 persen diturunkan ke 10 persen, saham menjadi 15 persen, reksadana di­naikkan menjadi 10 persen, KIK EBA tetap 5 persen dan investasi langsung juga naik dari 1 persen ke 3 persen atau sekitar Rp 4,6 triliun. Sementara di investasi lain ditargetkan naik hingga Rp 500 miliar, sehingga total ada penambahan sekitar Rp 2-2,5 triliun di investasi lainnya.

Kenaikan investasi langsung menjadi 3 persen, lanjut Iman, bukan tanpa alasan. Menurut­nya, kenaikan tersebut sebagai upaya diversifikasi profile dari kewajiban jangka panjang, in­vestasinya sedikit demi sedikit akan dialihkan ke instrumen investasi berjangka panjang.

"Tapi itu pun subject to me­lihat penawaran yang masuk ke perusahaan dan pada hasil due diligence. Sementara ini kita akan fokus ke infrastruktur sep­erti jalan tol maupun pembangkit listrik," pungkasnya. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya