Berita

Foto/Net

Bisnis

Menteri Enggar Kudu Ambil Sikap Tegas

Parlemen Eropa Setuju Hapus CPO Dari Biofuel
SENIN, 22 JANUARI 2018 | 09:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Keputusan Parlemen Uni Eropa yang menyetujui penghapusan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) sebagai salah satu bahan baku biofuel membuat pengusaha sawit Indonesia kelimpungan. Kebijakan tersebut akan membuat penjualan ekspor melempem. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita kudu ambil sikap tegas.

Parlemen Eropa setelah menyetujui proposal undang-undang yang akan diajukan ke Menteri Uni Eropa mengenai penggunaan energi terbarukan. Salah satunya kebijakan yang dihasilkan ada menghapus CPO sebagai salah satu bahan dasar biofuel. Keputusan diambil melalui voting Anggota Parle­men Eropa (MEP) pada Rabu, pekan lalu.

Dalam penjelasannya, pro­posal tersebut menyebutkan bahwa minyak sawit dianggap menjadi salah satu dalam proses deforestasi. Proposal tersebut juga menyebutkan bahwa peng­gunaan sawit di Uni Eropa akan berakhir pada 2021, yang men­jadi periode awal diterapkannya undang-undang konsumsi energi Eropa yang baru.


Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit In­donesia (Gapki) Fadhil Hasan mengatakan, keputusan tersebut akan membuat kinerja ekspor sawit Indonesia melempem. "Dampaknya pasti ekspor yang berkurang," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ia mengatakan, saat ini pengu­saha mulai kebingungan mencari pasar baru untuk menggantikan Uni Eropa. Dari sekarang pen­gusaha sudah mulai pasar baru agar ekspor bisa tetap berjalan. Tapi belum ada.

Menurutnya, keputusan terse­but sebenernya justru hanya akan merugikan Uni Eropa jika tetap dilaksanakan. "Ini keputu­san sembrono sebenarnya. Kalau penggunaan biodiesel dari CPO ini dihilangkan nanti yang meng­gantikan itu apa?" ungkapnya.

Pihaknya mengapresiasi kepu­tusan pemerintah Indonesia yang cepat merespon masalah ini. "Kami dukung pemerintah yang mengirim surat protes. Keputu­san parlemen Uni Eropa inikan diskriminatif," katanya.

Ia mengatakan, hingga kini pengusaha masih mencari solusi terbaik agar masalah ini bisa segera selesai dan menguntung­kan kedua belah pihak. "Kami terus berupaya mencari solusi bersama pemerintah. Semoga masalah ini tidak menghambat pertumbuhan industri sawit In­donesia," tukasnya.

Sekjen Gapki Togar Sitang­gang memastikan, kinerja ek­spor sawit ke Uni Eropa akan tersendat jika keputusan tersebut dilaksanakan. "Pasokan ke Uni Eropa pasti akan berkurang. Ini membuat khawatir. Artinya kita harus mencari pasar baru," ujarnya.

Ia mengatakan, dampaknya lanjutan dari keputusan tersebut adalah harga CPO yang akan turun. "Kalau kinerja ekspor lemah berarti nanti stok me­limpah dan akan menekan harga komoditas,"  tuturnya.

Produksi CPO pada tahun ini diprediksi akan meningkat 15 persen dibanding tahun lalu. Kenaikan itu karena ekspor juga naik dari 23 juta ton pada 2016 menjadi 29 juta ton pada 2017.

Sementara ekspor pada tahun ini diharapkan mencapai 31 juta ton. "Kalau keputusan tersebut dilaksanakan mungkin ekspor akan berkurang. Tapi diharap­kan tetap bisa mencapai target dengan pasar baru nantinya," tuturnya.

Direktur Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Mohammad Faisal meminta, pe­merintah untuk memanfaatkan perundingan antara RI dan Uni Eropa dalam Comprehensive Economic Partnership Agree­ment (CEPA). "Melalui pe­rundingan tersebut, pemerintah dapat memastikan komoditas apa yang dapat diimpor ke sana," ujarnya.

Ia mengatakan, pemerintah patut mempertegas komoditas pengganti untuk dimasukan ke kawasan itu jika CPO benar-benar di larang. "Pemerintah juga harus melakukan perluasan ke negara-negara yang masih menerima minyak kelapa sawit. Kemudian juga dapat mem­perluas pasar hingga ke negara nontradisional," tuturnya.

Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengaku, tak khawatir jika Eropa menjegal ekspor CPO asal Indonesia. "Kami tidak khawatir ekspor CPO ke Uni Eropa diblok. Yang kami lakukan sekarang, di­versifikasi produk ekspor, buka pasar baru," ujarnya.

Menurut Enggar, Eropa bakal kesulitan jika kebijakannya menutup pintu masuk bagi produk minyak kelapa sawit diterapkan. Pasalnya, selama ini, kebutuhan CPO Eropa sangat tinggi.

Enggar mencontohkan, pe­rusahaan asal Eropa Unilever misalnya, masih membutuh­kan CPO untuk memproduksi sabun. Tidak mungkin, Uni Eropa menghentikan ekspor CPO yang masuk ke negara-negara Eropa. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya