Berita

Foto/Net

Kesehatan

Wow, Negara Rogoh 107 M Biayai Perokok

JUMAT, 19 JANUARI 2018 | 10:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

TAR yang dihasilkan dari proses pembakaran jauh lebih berba­haya dibanding yang dihasil­kan dari pembakaran produk tembakau. Hal ini juga yang menjadi permasalahan yang tak kunjung menemukan solusi di Indonesia.

Hal ini diungkap Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Amaliya. Menurutnya, ketidakpahaman akan nikotin dan TAR inilah yang membuat inovasi yang kini mulai mengemuka kurang mendapatkan respons, baik dari masyarakat luas dan pemerintah, contohnya vape.

Bagi konsumen produk tem­bakau, terutama yang dibakar, ujar Amaliya, sudah mulai men­genal jenis produk tembakau alternatif yang mulai tren sejak 2013, yakni rokok elektrik atau biasa disebut vape, nikotin tem­pel, snus, serta produk tembakau yang dipanaskan bukan dibakar yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah dibanding produk tembakau yang dibakar.


Tren ini muncul bukan tanpa alasan. Karena, perilaku keter­gantungan masyarakat terhadap produk tembakau dibakar meru­pakan salah satu permasala­han klasik yang hingga saat ini belum menemukan solusinya, terutama di Indonesia.

"Tercatat pemerintah harus mengeluarkan biaya kesehatan sebesar Rp 107 miliar per tahun. Bahkan hasil riset 2017 menem­patkan Indonesia di peringkat kelima negara dengan jumlah konsumen produk tembakau dibakar terbesar di dunia," kata dia, dalam keterangannya kepada wartawan di Jakarta, kemarin.

Amaliya melihat bukan hanya sekadar tren yang dikonsumsi sebagai bagian dari gaya hidup, produk tembakau alternatif juga didukung oleh berbagai hasil penelitian ilmiah yang membuk­tikan bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah.

"YPKP Indonesia secara in­dependen telah melakukan pe­nelitian terhadap salah satu produk tembakau alternatif yaitu rokok elektrik atau vape. Hasilnya, vape dinilai memiliki risiko kesehatan yang lebih ren­dah dibandingkan rokok yang dikonsumi dengan dibakar," jelasnya.

Amaliya menjelaskan, hal ini karena vape menggunakan teknologi yang dipanaskan bukan dibakar, sehingga TAR, senyawa karsinogenik berbahaya, hasil pembakaran rokok bisa dieliminasi.

Dari hasil profil kromatografi atas kajian cairan dan uap vape yang telah diteliti selama enam bulan, ujarnya lagi, memperli­hatkan adanya kandungan UP Propylene Glycol, USP Glycerin Natural/Vegetable, dan perasa pada cairan vape. z'Karena itu, vape menjadi jauh lebih rendah risiko kesehatannya diband­ingkan rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar,zz' ungkap Amaliya.

Beberapa hasil penelitian yang membuktikan hal serupa, yaitu hasil penelitian dari Public Health England (PHE) sebuah badan kesehatan di bawah Kementerian Kesehatan Inggris Raya. Pada tahun 2015, hasil pe­nelitian PHE menunjukkan bahwa produk tembakau yang dipanas­kan dapat menurunkanrisiko kesehatan hingga 95 persen.

Selain itu, sebuah studi dari Georgetown University Medical Center Amerika Serikat yang diterbitkan dalam jurnal Tobacco Control turut mengungkapkan, jika perokok beralih ke produk tembakau alternatif, sebanyak 6,6 juta orang di Amerika Serikat berpotensi dapat terhindarkan dari kematian dini.

Bagi para pakar kesehatan internasional, kata Amaliya, ke­hadiran produk tembakau alter­natif merupakan salah satu ino­vasi kesehatan terpenting karena dapat secara efektif menurunkan risiko penggunaan rokok yang dikonsumsi dengan cara dibakar. Dan tidak menutup kemungki­nan juga dapat menjadi solusi atas permasalahan perilaku ketergantungan masyarakat terhadap produk tembakau yang dikonsumsi dengan cara bakar di Indonesia. ***

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Awal Pekan, Harga Emas Antam Terpantau Turun ke Rp2.668.000 per Gram

Senin, 22 Juni 2026 | 10:21

Harta Zita Anjani Melonjak Rp100 Miliar, Hari Purwanto: Mungkin Menang Lotre

Senin, 22 Juni 2026 | 10:11

Emas Antam Mandek di Awal Pekan, Satu Gram Rp2,6 Juta

Senin, 22 Juni 2026 | 09:49

Bajak Kader Partai Lain, PSI Dinilai Tetap Berpotensi Jadi Partai Gurem

Senin, 22 Juni 2026 | 09:43

IHSG Menguat, Rupiah Tertekan Rp17.812 per Dolar AS

Senin, 22 Juni 2026 | 09:30

Dolar AS Menguat di Tengah Amblesnya Yen dan Poundsterling

Senin, 22 Juni 2026 | 09:20

Trump Sebut Starmer Gagal, Isu Pengunduran Diri PM Inggris Kian Menguat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:11

Gibran Ingin Layanan Kesehatan di Wilayah 3T Diperkuat

Senin, 22 Juni 2026 | 09:00

Rayakan HUT ke-499, Jakarta Berikan Tarif Spesial Rp1 untuk MRT, LRT, dan TransJakarta Hari Ini

Senin, 22 Juni 2026 | 08:47

Bakal Turun Gunung Bareng PSI, Jokowi Dinilai Sulit Lepas dari Bayang-bayang Kekuasaan

Senin, 22 Juni 2026 | 08:46

Selengkapnya