Berita

Mukhaer Pakkanna/Net

Politik

Ekonom Muhammadiyah: Biarkan Harga Beras Naik

KAMIS, 18 JANUARI 2018 | 22:43 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Di tengah melonjak harga beras premium hingga di atas Rp12.000, pemerintah menerapkan harga eceran tertinggi (HET). Data di DKI Jakarta, hingga Minggu (14/1) lalu, beras medium jenis IR. I (IR 64) dijual Rp 11.715 per kg dan IR. II (IR 64) Rp 10.729 per kg. Padahal HET yang ditetapkan hanya Rp 9.450 per kg.

Begitu juga dengan beras jenis premium, harganya terdongrak naik. Beras Sentra I misalnya, dibanderol Rp 12.694 per kg. Memang masih di bawah HET Rp 12.800, tetapi harga tersebut tergolong tinggi.

Bagi ekonom Muhammadiyah, Mukhaer Pakkanna, kondisi ini bukan masalah. Ia justru berpendapat agar membiarkan harga beras terkerek naik. Asalkan saja, mampu meningkatkan kapasitas produksi, produktivitas, dan kesejehteraan petani.


"Biarkanlah harga beras naik, asalkan tengkulak dan pemburu rente mampu ditekuk oleh aparat negara. Biarkanlah dalam posisi ceiling price. Biarkanlah harga beras naik, sehingga mampu menekan tingkat konsumsi beras per kapita masyarakat kita. Bayangkan, konsumsi beras masyarakat Indonesia per tahun mencapai 139 kg, tercatat tertinggi di dunia. Malaysia saja hanya 90 kg per kapita per tahun, Brunei 80 kg per kapita. Jepang konsumsi berasnya hanya 70 kg per tahun, China 90-100 kg per kapita per tahun," papar Mukhaer, Kamis (18/1).

Tentu saja, dikatakan Ketua STIE Ahmad Dahlan Jakarta ini, konsumsi beras yang tinggi memantik orang Indonesia rawan kena diabetes. Tidak heran jika penyakit diabetes menjadi induk penyakit di Tanah Air.

Lagi pula, ujar Ketua Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (AFEB) PTM ini, nilai tukar petani (NTP) selalu tertekan alias kesejahteran petani malas beringsut naik. Pada Desember 2017 saja, NTP nasional sebesar 103,06 atau turun 0,01 persen dibanding NTP bulan November. Penurunan NTP dikarenakan nisbah indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 0,76 persen lebih kecil dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,77 persen.

"Biarkanlah harga beras naik, sehingga potensi ekonomi desa terutama lumbung beras makin kuat. Urbanisasi pun makin terkendali karena petani sejahtera. Jangan biarkan merajalela urbanisasi-prematur yang menciptakan sektor informal dan ilegal menjamur di kota akibat nilai tukar petani yang makin tergerus. Kendalikanlah tengkulak itu, lakukan tindakan tegas. Jangan biarkan orang-orang kota, alih-alih nyaring suaranya dan selalu mempolitisasi kenaikan harga beras. Sementara petani di pelosok nun jauh di desa selalu terkulai lemas dalam kemiskinan yang ajek," demikian kata Mukhaer.[dem]

Populer

10 Jalan Febrie Adriansyah Menuju Bebas

Minggu, 19 Juli 2026 | 05:24

Selembar Ijazah Keliling Republik

Rabu, 22 Juli 2026 | 12:00

Hotman Paris Harus Minta Maaf

Minggu, 19 Juli 2026 | 17:02

Hotman Paris Tegaskan Tuduhan Keterlibatan Febrie dalam Kasus Asabri Salah Total

Sabtu, 18 Juli 2026 | 02:58

Permainan Kejagung Terlalu Kasar soal Penghentian Pengumpulan Data Program MBG

Rabu, 15 Juli 2026 | 05:14

Ahli Waris Laporkan Dugaan Aset Tak Wajar Mantan Pejabat Negara ke KPK

Rabu, 22 Juli 2026 | 16:58

Penetapan Tersangka Tetap Sah Meski Belum Diperiksa

Sabtu, 18 Juli 2026 | 12:35

UPDATE

Status Hukum dan Akuntansi Danantara Alami Kebingungan

Minggu, 26 Juli 2026 | 03:23

Koops TNI Habema Berhasil Evakuasi Dua Korban Aksi Kekerasan di Yahukimo

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:57

Pembangunan Papua Harus Dimulai dari Pendidikan Anak

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:42

Pengusutan Diskriminasi WNI di Bali Penting Buat Jaga Wibawa Hukum

Minggu, 26 Juli 2026 | 02:24

Dari Ekopol Kolonial Menuju Berdaulat

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:57

Generasi Emas Institute jadi Harapan Baru Anak Muda Menatap 2045

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:33

Lahirnya Generasi Hebat OAP Tolok Ukur Keberhasilan PSN Papua

Minggu, 26 Juli 2026 | 01:10

Polda Jabar Selidiki Penemuan Jenazah Seorang Satpam di Waduk Jatiluhur

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:53

Cegah Bad Mining Lewat Koperasi

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:35

Dana Keistimewaan Yogyakarta Sukses Berdayakan Masyarakat

Minggu, 26 Juli 2026 | 00:12

Selengkapnya