Para pelaku industri keuangan syariah berharap di tahun ini, pertumbuhan keuangan syariah setidaknya bisa mencapai angka positif atau minimal menembus double digit. Berbagai upaya pun dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut.
Bagi PT Bank Syariah Mandiri (BSM) misalnya, meski tahun lalu menjadi tahun yang berat bagi perbankan syariah, namun pihaknya mengaku tetap optiÂmistis menghadapi tahun 2018.
Direktur Distribution and SerÂvices BSM Edwin Dwidjajanto mencatat, pada Oktober 2017, aset perbankan syariah mencapai Rp 395,9 triliun atau tumbuh sebesar 19 persen dibandingkan posisi Oktober 2016 sebesar Rp 331 triliun dengan market share (pangsa pasar) 5,6 persen. SeÂdangkan BSM sendiri memiliki market share pada perbankan syariah sebesar 21 persen.
Untuk saham, sambung Erwin, indeks saham syariah di DesemÂber 2017 mencapai Rp 3.704 triliun dengan pertumbuhan mencapai 16 persen dibanding Desember 2016 sekitar Rp 3.175 triliun. Sementara reksadana syariah di Desember 2017 menÂcapai Rp 28,3 triliun atau mengaÂlami kenaikan hingga 89 persen dibanding Desember 2016 menÂcapai Rp 14,9 triliun dengan market share 6,19 persen.
Sedangkan aset asuransi syaÂriah di November 2017 mencaÂpai Rp 38 trilun atau tumbuh 15 persen dibanding November 2016 sebesar Rp 33 triliun denÂgan market share hingga 3,4 persen. "Potensi yang masih besar ini diharapkan bisa digÂarap perbankan syariah pada tahun ini," kata Edwin di acara peluncuran Asuransi Mandiri Elite Plan Syariah (MEPS) di Jakarta, kemarin.
Bagi BSM, sambung Edwin, tahun 2017 dilalui dengan sanÂgat keras. Meski data lengkap pencapaian kinerja perusahaan di sepanjang 2017 belum bisa diuÂmumkan, namun ia optimistis, semua telah dicapai sesuai denÂgan rencana bisnis bank (RBB).
Dalam menghadapi 2018 ini, BSM lanjut Edwin, akan tetap menerapkan strategi yang tak jauh berbeda dari tahun lalu. Ia melihat, potensi pertumbuhan pembiayaan pun masih sangat tinggi untuk tumbuh tahun ini. "Dari sisi potensi diharapkan tahun ini lebih tinggi fokus ke ritel ke segmen corporate bisnis artinya strategi masih sama denÂgan tahun lalu," ujarnya.
Genjot Asuransi Syariah Salah satu upaya yang diÂlakukan BSM dalam meningkat pertumbuhannya di tahun ini adalah dengan menggandeng sesama anak usaha di bisnis asuransi, terutama dalam mengÂgarap potensi bisnis asuransi syariah, yakni bersama PT Axa Mandiri dengan meluncurkan Asuransi
Mandiri Elite Plan Syariah (MEPS).
Kehadiran MPES ini diharapÂkan, bisa mendorong literasi dan inklusi keuangan terhÂadap produk dan layanan jasa keuangan syariah di IndoneÂsia, sehingga nantinya turut berkontribusi pada pertumbuÂhan keuangan syariah secara nasional.
Pasalnya, hingga saat ini penÂetrasi produk asuransi syariah masih terbatas. Hasil Survei Nasional Literasi dan lnklusi Keuangan tahun 2016 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa literasi asuransi syariah baru 2,5 persen. Artinya, dari 100 orang penduduk, yang sudah mengerti akan asuransi syariah hanya 2-3 orang. ***