Berita

Ilustrasi/Net

Bisnis

CIPS: Subsidi Pertanian Lebih Efektif Untuk Program Perlindungan Sosial

KAMIS, 18 JANUARI 2018 | 09:57 WIB | LAPORAN:

Pemerintah menargetkan 10 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang akan menerima Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). BPNT akan dibagikan secara bertahap dan akan menyasar 1,2 juta KPM pada bulan Januari 2018.

Kepala Bagian Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Hizkia Respatiadi memapkar, pada 2014, sektor pertanian di Tanah Air mempekerjakan lebih dari 50 juta orang. Jumlah ini sebanding dengan 34 persen dari total jumlah pekerja di Indonesia.

"Sayangnya sebagian dari mereka hidup dalam keadaan miskin," ujarnya.


Di daerah lumbung padi seperti di Indramayu, Jawa Barat, buruh tani yang tidak memiliki lahan hanya mampu menghasilkan sekitar Rp 300 ribu setiap bulan. Sementara itu petani kecil (petani yang memiliki luas lahan kurang dari 0,25 hektar) hanya mampu menghasilkan sekitar Rp 600 ribu setiap bulannya.

Hizkia mengatakan, beberapa faktor tersebut karena terbatasnya peluang kerja di desa, sistem pengairan yang buruk dan perubahan iklim. Akibat hal-hal tadi, banyak penduduk desa yang memutuskan untuk pindah ke kota. Data yang dimiliki CIPS, jumah populasi desa menurun, yaitu 50 persen pada 2010 dan turun menjadi 46 persen pada 2015.

"Untuk mengatasi kondisi ini, pemerintah menggulirkan berbagai bentuk subsidi pertanian, seperti subsidi pupuk, subsidi benih dan subsidi beras dengan total nilai Rp 52,2 triliun. Padahal menurut penelitian kami di lapangan, subsidi ini dinilai petani tidak tepat dan tidak membantu meningkatkan kesejahteraan mereka. Subsidi hanya menguntungkan petani kaya dan agen-agen distribusi," terangnya.

CIPS memandang jumlah anggaran senilai Rp 52,2 triliun akan lebih efektif digunakan untuk memaksimalkan berbagai program perlindungan sosial, seperti Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Kartu Indonesia Sejahtera (KIS). Program perlindungan sosial seperti ini menyasar lebih tepat pada permasalahan yang dihadapi para petani.

"Walaupun petani dan buruh tani akan kehilangan akses terhadap subsidi pertanian, program perlindungan sosial akan memperkuat kapasitas mereka, seperti meningkatkan daya beli, meningkatkan akses ke fasilitas kesehatan dan pendidikan, meningkatkan jumlah kunjungan ibu hamil ke fasilitas kesehatan. Rendahnya tingkat pembelian oleh rumah tangga sasaran mengindikasikan minimnya minat mereka terhadap subsidi pertanian," jelas Hizkia.[wid]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya