Berita

Donald Trump/Net

Jaya Suprana

Gejala Perubahan Iklim

KAMIS, 18 JANUARI 2018 | 09:33 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

DONALD Trump menarik Amerika Serikat keluar dari kesepakatan Paris atas Gejala Perubahan Iklim. Tampaknya Donald Trump tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa suhu planet bumi pada tahun 2014 merupakan rekor terpanas sejak suhu planet bumi bisa diukur.

Terkesan urusan suhu planet bumi bukan urusan penting maka tidak layak dikuatirkan sampai puluhan negara perlu bersatupadu dalam gerakan menghadapi Gejala Perubahan Iklam.

Terkesan Trump tidak mau tahu bahwa apabila suhu planet bumi terus memuncak sampai ke titik maksimal tertentu berarti telah tiba saat apa yang disebut sebagai kiamat.


Rekor Terpanas

Maka Trump juga tidak peduli bahwa NOAA (National Oceanic and Amospheric Administration) sebagai lembaga pencatat data suhu planet bumi yang telah melakukan pencatatan data panas , pada bulan Januari 2015 telah memaklumatkan catatan data suhu planet bumi pada tahun 2014 sebagai rekor tertinggi sejak tahun 1879.

Menurut catatan NOAA rata-rata temperatur marcapada pada tahun 2014 adalah 14.58 derajat Celsius yang berarti 0.69 persen di atas rata-rata suhu bumi di abad XX. Tetapi catatan NASA dengan 14,68 derajat Celcius agak lebih tinggi ketimbang NOAA.

Sementara lembaga meteorologi Jepang dan University of California Berkeley membenarkan NOAA maupun NASA dalam hal suhu planet bumi paa tahun 2014 memang merupakan rekor tertinggi. NOAA malah makin mendramatisir laporannya dengan menyatakan bahwa bulan Desember 2014 merupakan bulan terpanas sejak data suhu bumi dicatat.

Ilmuwan Universitas Rutgers, Jennifer Francis tidak mau ketinggalan nimbrung dengan komentar bahwa dunia masa kini adalah yang terpanas sejak minimal 5000 tahun maka seyogianya manusia menghentikan keraguannya bahwa manusia sedang gigih bersaing dalam memanaskan planet bumi tercinta ini.

Semua itu dibenarkan oleh direktur NOAA's National Climate Data Center, Tom Karl dengan membeberkan data yang membenarkan bahwa setiap benua di dunia ini pada tahun 2014 memecahkan rekor suhu terpanas masing-masing. Data bahwa 9 dari 10 tahun terpanas terjadi pada sejak tahun 2000 dibenarkan dengan data kemungkinan 650 juta dibanding 1 oleh ahli statistik Universitas Karolina Selatan, John Grego yang rame-rame didukung oleh para ahli statistik lainnya.

Yang mencurigakan adalah pada tahun 2014 justru tidak terjadi oskilasi cuaca akibat badai El Nino. Yang menarik adalah 14 tahun pada abad XXI langsung masuk ke dalam daftar rekor  20 tahun terpanas sepanjang sejarah peradaban manusia telah mampu melakukan pencatatan suku planet bumi.

Al Gore

Para negarawan (kecuali Trump) sepaham dengan Al Gore memang sepakat dalam kekuatiran bahwa temperatur bumi akan terus meningkat dengan variabel yang belum bisa ditentukan. Namun dapat dipastikan bahwa peningkatan gas rumah-hijau akan makin menjadi-jadi.

Logika iklim makin kacau-balau sebab sementara planet bumi makin memanas sementara mayoritas penduduk yang dilahirkan setelah tahun 1976 dan kebetulan bermukim di kawasan empat musim justru terpaksa mengalami musim dingin terdingin sepanjang hidup mereka ! Salju turun di Arab Saudi dan di gurun Sahara.

Tampaknya, ramalan yang secara mengerikan tersurat di kitab Wahyu Alkitab memang sedang mulai mengejawantahkan diri. Dengan geram-geram-cemas, ilmuwan iklim Andres Dressler dari Texas A&M University berkotbah agar manusia tersadar untuk menghentikan angkara-murka gerakan pemanasan bumi demi memusnahkan kehidupan dari permukaan bumi.

Sebenarnya Al Gore sudah sejak lama menggembar-gemborkan kekuatirannya atas Gejala Perubahan Iklim, sampai sempat berkunjung ke Indonesia. Meski masyarakat Indonesia lebih memperhatikan kegantengan Al Gore ketimbang kekuatiran mantan wapres yang gagal menjadi presiden Amerika Serikat itu. Dan sungguh disayangkan bahwa Donald Trump termasuk yang tidak percaya kekuatiran Al Gore. [***]

Penulis adalah pemerhati gejala perubahan iklim

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya