Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Impor Beras Pundi Jelang Pemilu, KPK Harus Usut!

RABU, 17 JANUARI 2018 | 20:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Kebijakan impor beras 500 ribu ton terus dipersoalkan. Ditengarai kebijakan tersebut bagian dari skenario mengumpulkan pundi jelang kontestasi politik nasional.

"Hal yang mencurigakan impor beras bertujuan mengumpulkan pundi-pundi persiapan Pemilu 2019 sangat gampang ditarik benang merahnya," kata Waketum Gerindra Arief Poyuono melalui pesan elektronik yang dipancarluaskannya, Rabu (17/1).

Pertama, sebut dia, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita adalah kader partai yang sejak dini menyatakan mengusung Jokowi sebagai calon presiden di Pilpres 2019. Kedua, Jokowi bersikap acuh dan tidak sedikitpun merespon impor beras 500 ribu ton dari Vietnam dan Thailand padahal dipersoalkan publik.


Meski belakangan dikoreksi impor dilakukan oleh Bulog dari yang awalnya dilakukan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), namun dalam analisa Arief, tetap saja tidak menutup adanya permainan mafia untuk meraup rente.

"Bulog hanya jadi cover saja dalam impor beras tersebut. Sebab sepertinya semua beras yang akan diimpor itu Bulog sekarang bisa langsung mengunakan sistim G to G, tetapi Bulog mendapatkannya dari para trader. Sudah pasti para tradernya punya benang merahnya dengan para mafia mafia kuota impor beras yang ada di Kementerian Perdagangan," papar dia.

Oleh karenanya dia meminta Komisi Pemberantasan Korupsi tak tinggal diam. Dia menyarankan KPK mengambil langkah yang cepat dan tegas untuk melakukan pemantauan dan penyelidikan terhadap proses pemberian izin impor beras oleh Menteri Enggar yang terkesan dipaksakan tersebut.

"Ini sangat rawan suap dan katabelece," kata Arief.

Dia juga mendorong DPR untuk bersikap. Kebijakan impor beras jelas-jelas tidak berpihak pada para petani yang akan panen raya pada bulan ini.

"DPR harus memanggil Presiden Joko Widodo dan Mendag untuk menjelaskan alasan impor beras itu," kata Arief yang mengingatkan masyarakat bahwa janji Jokowi, Indonesia swasembada beras setelah tiga tahun kepemimpinannya, cuma omong omong kosong.[dem]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

Pelaku Penembakan Rombongan Tito Karnavian Diringkus

Jumat, 03 April 2026 | 19:59

UPDATE

Kasus Viral Foto AI di Kalisari Cermin Lemahnya Pengawasan Aparatur

Rabu, 08 April 2026 | 00:14

MSP Raih Penghargaan Proper Emas dan Green Leadership Proper dari KLH

Rabu, 08 April 2026 | 00:04

Polri Ungkap Penyalahgunaan BBM dan LPG Subsidi, Kerugian Capai Rp1,26 Triliun

Selasa, 07 April 2026 | 23:27

Pengawasan Hutan Diperketat Antisipasi El Nino Ekstrem

Selasa, 07 April 2026 | 23:10

Demokrasi seharusnya Mengoreksi, bukan Meruntuhkan Legitimasi Negara

Selasa, 07 April 2026 | 23:00

HKTI Beri Pendampingan Peternak Lokal yang Dirugikan Perusahaan Besar

Selasa, 07 April 2026 | 22:58

Pulihkan Situasi Halmahera Tengah, Masyarakat Diminta Dukung TNI-Polri

Selasa, 07 April 2026 | 22:33

Dony Oskaria: 15 BUMN Logistik Digabung Bulan Depan

Selasa, 07 April 2026 | 22:19

GREAT Institute Dorong Prabowo Reshuffle 50 Persen Menteri di Kabinet

Selasa, 07 April 2026 | 21:59

Menko Yusril soal Kasasi Delpedro Dkk: Bisa Saja MA Putus NO

Selasa, 07 April 2026 | 21:42

Selengkapnya