Berita

Foto/Net

Bisnis

Duh, Utang Kita Nyaris 4.000 Triliun

RABU, 17 JANUARI 2018 | 10:54 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Utang negara Republik Indonesia ke negara lain terus naik tiap tahunnya. Angkanya nyaris mendekati 4.000 triliun rupiah. Bahkan, kalau digabung dengan utang swasta, utang tersebut tembus ke 4.500 triliun rupiah. Kendati demikian, pemerintah memastikan utang sebanyak itu tak membahayakan. Sementara ekonom terbelah, ada yang bilang lampu kuning, ada yang bilang masih lampu hijau.

Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan mencatat, jumlah utang pemerintah pusat hingga akhir 2017 hampir Rp 4.000 triliun atau angka tepatnya Rp 3.938,7 triliun atau 29,2 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Jika dihitung sepanjang 2017, pemerintah pusat telah mengambil utang sebanyak Rp 472 triliun jika dihitung dari posisi 2016 sebesar Rp 3.466 triliun.

Melansir APBN Kita, kemarin, jumlah utang pemerintah pusat Rp 3.938,7 triliun ini terdiri dari instrumen pinjaman sebesar Rp 744,0 triliun atau 18,9 persen dari total, dan Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp 3.194,7 triliun atau 81,1 persen.


Sementara, berdasarkan Bank Indonesia, pertumbuhan utang luar negeri RI akhir November lalu sudah mencapai 347,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp 4.562 triliun jika menggunakan kurs hari ini yaitu Rp 13.300 per dolar AS. Jumlah tersebut naik 9,1 persen dari tahun sebelumnya. Kenaikan paling tinggi didorong jumlah utang luar negeri pemerintah. Jika dirinci, utang luar negeri paling tinggi masih didominasi sektor publik (pemerintah dan BI) yaitu sebesar 176,6 miliar dolar AS. Sedangkan untuk sektor swasta jumlahnya mencapai 170 miliar dolar AS atau naik sekitar 4,2 persen secara tahunan.

Meski utang luar negeri naik, BI memandang risikonya masih terkendali. Sebab, rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir November 2017 masih stabil di kisaran 34 persen. "Rasio tersebut masih lebih baik dibanding rata-rata negara peers," demikian dikutip dari laporan tersebut.

Utang luar negeri juga diklaim aman lantaran didominasi utang jangka panjang. Porsi utang luar negeri jangka panjang mencapai 85,7 persen, sedangkan yang berjangka pendek hanya 14,3 persen. Meski begitu, pertumbuhan utang jangka pendek tercatat cukup tinggi yaitu 19,8 persen secara tahunan dan 10,8 persen secara bulanan. Pertumbuhan tersebut di atas utang jangka panjang yang naik 7,5 persen secara tahunan dan 3,9 persen secara bulanan.

Jika dilihat secara sektoral, utang luar negeri swasta terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih (LGA), serta pertambangan. Porsi utang luar negeri keempat sektor tersebut mencapai 77,6 persen terhadap total utang luar negeri swasta. Ini artinya, porsinya sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 76,9 persen. "Secara tahunan, pertumbuhan utang luar negeri di sektor keuangan, industri pengolahan, dan LGA meningkat. Sedangkan ULN di sektor pertambangan secara tahunan menurun," kata laporan tersebut.

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan utang tidak selamanya buruk. Pasalnya, negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat tetap memiliki utang untuk mendorong perekonomian. Yang terpenting, utang digunakan untuk hal-hal produktif. "Yang tidak boleh, kalau pinjam tapi tidak untuk yang produktif. Itu nanti terpaksa harus mencari dari kegiatan lain dana pembayarannya," kata Darmin, kemarin.

Menurut dia, Indonesia juga bisa saja mengambil opsi tidak berutang. Tapi, kata dia, konsekuensinya pertumbuhan perekonomian tidak akan mencapai target yaitu 5,2 persen. "Siap-siap pertumbuhannya 3 sampai 4 persen, mau?" ujar Darmin.

Pengamat ekonomi dari Indef, Bhima Yudhistira menilai jumlah utang luar negeri RI yang sudah mencapai Rp 4 ribu triliun ini perlu diwaspadai atau sudah masuk lampu kuning. Dari data statistik utang luar negeri bisa dilihat bahwa pertumbuhan utang luar negeri pemerintah kian pesat. Artinya pemerintah lebih agresif berutang daripada swasta. "Ini kondisi anomali," kata Bhima, kepada Rakyat Merdeka, tadi malam. Dengan bertambahnya utang tersebut, Bhima khawatir kemampuan bayar utang oleh pemerintah semakin menurun. Apalagi prospek penerimaan pajak di 2018 akan sulit terealisasi.

Sementara analis dari Bank Permata Joshua Pardede menilai pengelolaan utang luar negeri pemerintah masih baik. Apalagi jika dilihat dari komposisinya, 81 persen yang merupakan penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) dan porsi kecil sekitar 19 persen merupakan pinjaman. Hanya saja, dia berharap, kebijakan pengelolaan utang tersebut digunakan untuk mendorong produktivitas yang dialokasikan untuk pos belanja yang produktif sehingga menciptakan ketahanan dan kesinambungan fiskal.

Menanggapi jumlah utang negara, netizen kaget. Di Twitter, akun @ dokterkoko heran. "Alamak... ribuan triliun dan warga kita di Papua meninggal kelaparan," cuitnya disambut @Dar_Al_Islam_In. "Utangnya hanya bikin tambah kaya orang-orang yang sudah kaya. Ga ada manfaat ke rakyat miskin yang tidak berdaya," kicaunya. Akun @HelmiHelmimoze menyindir. "Utang Naik, Harga Pangan Naik = Pemerintah Pancilok!" cuitnya disamber @Saztrid. "Takkan terlupakan janji manismu.. Dulu berkata akan menolak utang #MenolakLupa," kicaunya. Akun @congekeun menimpali. "Howreyy. Jokowi swasembada Utaang."   ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya