Pemerintah mulai kelimpungan menghadapi kenaikan harga beras. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun memutuskan untuk impor, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) cuma bisa pasrah.
Keputusan impor oleh KeÂmendag terkesan tiba-tiba di tengah program operasi pasar Bulog yang masih berjalan. PaÂdahal, dua hari jelang rencana impor, tepatnya Selasa (9/1), Menteri Perdagangan EnggarÂtiasto Lukita baru saja meresmiÂkan operasi pasar (OP) dengan Bulog. Namun pada momen tersebut Mendag tidak menyingÂgung sedikit pun tentang impor beras.
Sekretaris Perusahaan Bulog Siti Kuwati mengaku, pihaknya sama sekali tidak dilibatkan daÂlam pembahasan impor, berbeda dari impor sebelumnya di mana Bulog ditugaskan oleh pemerinÂtah melakukan impor.
"Sejak operasi pasar memang belum ada omongan," jelasnya kepada
Rakyat Merdeka.
Keputusan impor ini pun mencuat jelang panen raya pada bulan depan atau selambatnya Maret 2018. Pada panen raya nanti Bulog pun bakal menyerap banyak beras dari daerah yang dihasilkan petani. Namun Siti mengaku pihaknya pasrah denÂgan keputusan impor.
"Yang telah diputuskan tentu harus dihormati," tutur Siti.
Dia pun enggan menanggapi lebih jauh tentang langkah KeÂmendag yang tidak lagi menunÂjuk atau melibatkan Bulog. Untuk diketahui dalam impor beras di awal 2018 ini Kemendag menugaskan PT Perusahaan PerÂdagangan Indonesia (PPI) untuk mengimpor beras tersebut.
"Bulog hanya sebagai pelakÂsana atau operator dari kebijakan pemerintah, kita akan jalani tuÂgas yang diberikan," katanya.
Meski demikian, Siti menegaskan, program operasi pasar dengan menjual harga beras di bawah harga pasar tidak akan diÂhentikan Bulog. Pihaknya bakal melanjutkan operasi pasar yang dilakukan di beberapa titik seÂcara nasional. Perusahaan pelat merah ini juga sudah menamÂbah jumlah titik OP dari 1.100 titik menjadi 1.800 titik yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
"Bulog telah dan akan terus melaksanakan OP sampai harga dianggap stabil dan di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET)," katanya.
Siti membantah pernyataan jika operasi pasar dianggap tidak ada pengaruhnya. Menurutnya, operasi pasar yang dilakukan selama ini efeknya memang tidak instan mampu membuat harga turun drastis di seluruh Indonesia.
"Dampak operasi pasar saat ini ya minimal masyarakat memÂpunyai pilihan harga beras yang lebih murah," katanya.
Dirinya berharap, operasi pasar yang dilakukan Bulog ini mampu menekan harga yang bergerak cepat.
"Dari operasi pasar ini harapannya kami setidaknya bisa menahan harga beras agar tidak cepat naik. Yang nantinya muÂdah-mudahan bisa benar-benar turun," tutur Siti.
Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan regulasi beras untuk keperluan khusus memang tidak melalui Bulog. "Saya tangkap regulasinya Bulog hanya mengurus beras umum," kata Djarot.
Ia juga menyarankan agar PPI sebagai operator impor melakukan perhitungan waktu dan kuantitas yang tepat. Sebab, waktu impor beras dilakukan menjelang panen raya.
Jika tak hati-hati, masuknya beras impor saat panen raya daÂpat menjatuhkan harga gabah di tingkat petani. "Impor beras tentu butuh kesiapan," ujar Djarot. Di antaranya, ketersediaan pasokan di negara pengekspor, proses loading, lama perjalanan kapal, hingga waktu distribusi saat barang tiba.
Djarot percaya pemerintah telah memperhitungkan detail kebijakan yang diambilnya. "Kalau Mendag bilang Januari, berarti dia sudah punya hitungan tepat," tuturnya.
Harga Tetap MelambungMenteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan alasan penunjukan pada PT PPI agar alokasi dan kualitas beras impor tersebut jelas.
Dirinya juga ingin menghinÂdari anggapan jika beras impor tersebut dioplos sebelum didisÂtribusikan ke pasaran.
"Kenapa tidak Bulog? Supaya jelas. Nanti timbul lagi persoÂalan, kalau Bulog dioplos dan sebagainya," ujar dia.
Dijelaskan, nantinya PPI bisa bermitra dengan distributor atau pengusaha beras untuk langsung didistribusikan ke pasar. Sehingga tidak ada potensi penimÂbunan atau kecurangan dalam distribusinya ke pasaran.
"Dari situ kita masukin di market langsung. Saya sudah sampaikan dan sekaligus laporÂkan," katanya.
Enggar memastikan beras impor tersebut akan masuk ke Indonesia pada akhir Januari 2018. Dengan demikian, diharapÂkan bisa segera memenuhi kebuÂtuhan beras hingga masuk masa panen pada Maret mendatang.
"Ini untuk mengisi posisi stok kita dan Insya Allah akan masuk sejak akhir Januari. Dia pada saat panen nanti, posisi ini sudah ada di sini, dan dia akan penetrate, karena ini ada di pihak BUMN, maka itu sebabnya ada di BUMN agar saya bisa kendaÂlikan mengenai supply market itu sendiri," katanya.
Enggartiasto mengungkapÂkan, operasi pasar beras yang dilakukan oleh Perum Bulog masih belum berdampak besar untuk menurunkan harga beras yang melambung di pasaran. Karena itu, dia memilih cara lain dengan mewajibkan para pedagang beras untuk menjual beras Bulog.
Dia mengatakan, untuk daerÂah yang harga berasnya masuk kategori merah atau menukik tajam maka diwajibkan untuk menjual beras Bulog. Nantinya beras Bulog ini dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kemendag. ***