Berita

Wapres Jusuf Kalla/Net

Bisnis

Wapres Pasang Badan

Pemerintah Impor Beras 500 Ribu Ton
SABTU, 13 JANUARI 2018 | 12:03 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah akhirnya memutuskan impor beras untuk meredam harga di pasaran yang kian melambung. Sebanyak 500 ribu ton beras didatangkan dari Thailand dan Vietnam untuk menambah stok yang terus menyusut.

Wacana mengimpor beras ini sebenarnya sudah muncul sejak awal pekan lalu. Antara lain disampaikan Wapres Jusuf Kalla yang cemas memantau pergerakan harga beras medium di pasaran yang naik sejak akhir tahun. Malah kenaikannya mengkhawatirkan karena sudah mencapai rekor baru yaitu Rp 14 ribu per kilogram. Padahal menurut harga eceran tertinggi (HET) harga beras jenis medium dipatok Rp 9 ribu per kilogram. Stok beras yang dimiliki Bulog pun di bawah batas aman, 900 ribu ton. JK bilang, jika harga beras tak kunjung turun, pemerintah harus segera impor. Memang akan ada panen raya bulan depan, tapi JK khawatir stok tak cukup.

Baru pada Kamis malam kemarin, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita merealisasikan impor beras dengan mengeluarkan Permendag Nomor 1 Tahun 2018. Enggar mengatakan, impor beras adalah solusi efektif jangka pendek untuk menjaga stok dan menurunkan harga. Jenis beras yang akan diimpor untuk keperluan khusus dengan spesifikasi bulir patah di bawah lima persen.


Meski masuk dalam golongan beras khusus, Enggar memastikan komoditas pangan utama itu akan dijual dengan harga medium. Impor akan dilakukan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), bukan Bulog. Beras impor ini akan diedarkan lewat gerai retail modern bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo).

Beras yang diimpor itu diperkirakan masuk ke Indonesia akhir Januari, atau sebelum masa panen raya yang jatuh awal Februari-Maret nanti. Pemerintah berharap impor tidak mengganggu harga gabah petani seusai panen.

Terkait hal ini, JK kembali bicara lagi. JK menjamin keputusan mengimpor beras tidak akan merugikan petani. Impor untuk merespons minimnya stok beras di daerah penghasil beras. "Karena stok sekarang lagi kurang, serap dulu beras (dari luar), baru kemudian jual," kata JK saat dicegat awak media di Masjid Istiqlal, kemarin.

Menurutnya, meski tidak berperan dalam impor beras, Bulog akan berperan dalam operasi pasar.

Sementara, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menilai, impor beras tersebut menunjukkan Jokowi-JK begitu mencintai rakyat.

"Tidak ingin (harga beras) di konsumen tinggi, petani tidak boleh rugi," kata Amran di Kantor Kemenko Perekonomian, kemarin.

Dia menyebut jumlah impor beras yang rencananya akan dilakukan akhir Januari 2018 tidak signifikan dibanding kebutuhan konsumsi beras masyarakat per bulan sebesar 2,5 juta ton per bulan.

"500 ribu ton itu setara dengan (kebutuhan) enam hari," ungkapnya. Sehari sebelumnya, Amran masih bersikeras mengatakan stok beras masih aman. Apalagi bulan depan sudah masuk panen raya dengan potensi produksi mencapai 4,9 juta ton atau surplus 3 juta dari stok minimal.

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mempertanyakan keputusan pemerintah mengimpor beras. Soalnya, jika merujuk data Kementan dan BPS, kebutuhan beras masih cukup. Dia juga menilai keputusan membuka kran impor saat ini sangat terlambat dan berpotensi mubazir jika merujuk pada data Kementan.

Senada disampaikan Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa yang memperkirakan beras impor baru akan sampai kepada konsumen akhir Februari atau awal Maret. "Celakanya, sudah panen raya," kata Dwi melalui sambungan telepon, tadi malam. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya