Berita

Arief Poyuono/Net

Politik

Gerindra: Kami Tidak Memalak, Kami Hormati Kekecewaan La Nyalla

JUMAT, 12 JANUARI 2018 | 16:58 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

. Partai Gerindra menegaskan tidak meminta uang mahar dari La Nyalla Mattalitti jika mau diusung sebagai calon gubernur Jawa Timur. Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono memperingatkan La Nyalla berhenti berpolemik.

"Bukan mahar tapi sesuai statement La Nyalla bahwa dia diminta menyediakan 40 miliar itu untuk dana saksi di TPS. Jadi nggak benar kami memalak La Nyalla untuk diusung Gerindra di Pilgub Jatim," kata dia melalui pesan elektronik kepada redaksi, Jumat (12/1).

Arief mengatakan dana Rp 40 miliar yang disebut La Nyalla Mattalitti untuk membayar saksi di TPS sangat kurang. Jumlah TPS di Pilgub Jatim ada 69 ribu TPS. Jika dihitung total dana yang dibutuhkan untuk saksi yang ditempatkan di TPS, PPS, PPK dan KPUD sebesar Rp 141,3 miliar.


Rinciannya ada 3 orang saksi yang ditempatkan di tiap TPS. Karena ada 69 ribu TPS di Pilgub Jatim maka dibutuhkan 207 ribu saksi. Ini belum termasuk saksi di tingkat PPS, PPK, KPUD, dimana jumlah PPS ada 8501, 664 PPK, 38 KPUD kabupaten/kota.

Untuk saksi tiap PPS Dan KPK ditempatkan 5 orang sehingga total yang dibutuhkan 45285 saksi, sementara untuk mengawal suara calon di KPUD kabupaten/kota perlu 190 saksi.

Total dana uang makan yang diperlukan saksi di TPS perorang 200 ribu sehingga butuh Rp 41 miliar. Untuk dana saksi di 45285 PPS sebanyak Rp 300 ribu persaksi perhari dibutuh tiga hari kerja hingga rekapitulasi, maka perlu dana Rp 41,55  miliar. Uang makan 190 saksi di tingkat KPUD perhari 400 ribu selama 7 hari, jadi butuh dana Rp 5,3 miliar.

Sebelum menjadi saksi di TPS, para saksi mendapatkan pelatihan sebagai saksi TPS Jika dipatok biaya pelatihan per saksi 100 ribu, maka untuk 3 hari pelatihan butuh dana Rp 94,5 miliar.

"Nah kalau cuma 40 miliar nggak cukup lah karena yang dibutuhkan 141.3 miliar rupiah. Kekurangannya biasanya yang nombok itu Partai Gerindra yang diambil dari kader-kader Gerindra di eksekutif dan legislatif," kata Arief.

"Memang ada apa orang mau jadi saksi tanpa dikasi uang makan dan uang transport. Itulah realita demokrasi dimana-mana butuh biaya. Kok aneh jadi Gerindra yang disudutkan. Yang ada juga kita takut kalau nanti akhirnya kader Gerindra yang suruh urunan untuk uang saksi di TPS," sambung dia.

Ia mengungkapkan bahwa La Nyalla gagal maju di Jatim karena tidak dapat tambahan dukungan dari PAN, satu-satunya partai yang mungkin bisa diajak koalisi. Sesepuh PAN Amien Rais sudah menyatakan mendukung La Nyalla tapi dukungan tersebut dicuekin Ketum PAN Zulkifli Hasan dan pengurus DPW PAN Jatim.

"Jadi saya minta La Nyalla untuk berhenti berpolemik, karena kami masih menghormati kekecewaan La Nyalla yang ditolak PAN," demikian Arief Poyuono.[dem] 

Populer

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

DPRD DKI Bakal Panggil Dishub Buntut Tarif Valet Tembus Rp250 Ribu

Minggu, 27 September 2026 | 14:20

KPK NU Demo di Gedung Merah Putih KPK, Desak Penangkapan Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:23

UPDATE

Wall Street Hijau Usai Data Tenaga Kerja Redupkan Sinyal Kenaikan Bunga The Fed

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:21

Biaya Perawatan Naik 106 Persen, Deteksi Dini Penting untuk Tekan Risiko

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:05

Harga Solar Naik Tinggi, G7 Lepas 100 Juta Barel Cadangan

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:51

Bank Syariah Jumbo Bakal Bertambah, OJK Pasang Target Lima Pemain

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:21

Bursa Eropa Bangkit, DAX Naik 1,17 Persen

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 07:06

Digitalisasi Parkir On Street Efektif Cegah Pungli

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:53

Suyudi-Wahyu Memimpin Polri: Tujuh Agenda Besar, Saatnya Pembuktian

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:22

Awas, Aktivitas Merapi Melonjak

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 06:04

Pengamen Dilarang Aktivitas di Mikrotrans dan Halte Transjakarta

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:53

Ahli Hukum Diusir MK, Apakah Gibran Sudah Bisa Didiskualifikasi?

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 05:34

Selengkapnya