Berita

Foto/Net

Bisnis

Commonwealth Bank Patok Investasi Wealth Management Naik Hingga 20%

Prospek Investasi Di 2018 Bakal Moncer
KAMIS, 11 JANUARI 2018 | 08:49 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sektor investasi baik dalam domestik ataupun luar negeri serta perbaikan arus dana asing, diharapkan bisa mendorong ekonomi Indonesia yang dinilai mulai merangka naik ini, dinilai cukup baik saat ini.

Menurut Head of Intermediary Business of Schroders Indonesia Teddy Oetomo menilai, investasi di saham masih menarik pada 2018. Adanya optimisme pemu­lihan ekonomi global sehingga berdampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi katalis positif. Dana Moneter Internasional atau IMF mem­prediksi pertumbuhan ekonomi sekitar 3,6 persen di tahun ini.

Teddy bilang, bahkan tidak cuma Indonesia, tetapi dunia arahnya pertumbuhan lebih baik otomatis akan menarik di saham. Saham tergantung dari laba ber­sih yang didorong pertumbuhan ekonomi. Angka konsensus per­tumbuhan laba bersih 13 persen.


"Prospek investasi saham ter­gantung dari kemampuan fun­damental ekonomi Indonesia. Apabila pertumbuhan ekonomi positif diharapkan dapat dorong pertumbuhan kinerja emiten seki­tar 13 persen pada 2018," kata Teddy di acara Macro Economic Outlook & Investment Strategy 2018 di Jakarta, kemarin.

Untuk sektor saham, Teddy memilih sejumlah sektor saham antara lain sektor konsumsi, infrastruktur, bank, dan komodi­tas. Akan tetapi, pertumbuhan sektor saham itu juga melihat dari daya beli masyarakat.

"Sektor konsumsi menarik, jangan hanya terlalu patok ke ritel. Sektor konsumsi juga bisa dari produsen. Kemudian peru­sahaan yang terafiliasi dengan in­frastruktur secara proyek mungkin menarik. Bank juga dengan mem­baiknya kredit macet. Lumayan tersebar cukup luas," kata Teddy.

Lebih jauh Teddy menga­takan, saat ini, sebenarnya ada banyak faktor yang menyebab­kan tingkat pertumbuhan ekono­mi. Berbagai faktor juga telah diupayakan agar pertumbuhan ekonomi terus meningkat.

"Pertumbuhan itu bukan satu-satunya faktor ekonomi yang perlu diperhatikan, kualitas dari pertumbuhan jauh lebih pent­ing," ujarnya.

Terkait hal ini, Head of Wealth Management and Retail Digital Business Bank Commonwealth Ivan Jaya mencatat, dana kelo­laan bisnis wealth management sampai akhir 2017 sebesar Rp 30 triliun sampai Rp 35 triliun. Dana kelolaan ini mayoritas berasal dari produk Premier Banking.

Hingga kini, nasabah Premier Banking menyumbang 20 persen dari total nasabah bank. Dari sisi bisnis, wealth management menyumbang 40-50 persen dari total pendapatan bank.

"Fee based dari wealth man­agement sampai kuartal III-2017 naik 11 persen, pada tahun ini diharapkan naik 15-20 persen," ucapnya.

Menurut Ivan, produk un­gulan wealth management un­gulan Commonwealth adalah reksa dana rupiah dan dolar AS. Produk reksa dana dolar AS ini berbasis global yaitu di Amerika Serikat dan Asia Pasifik. Secara spesifik, dua reksa dana yang cukup laku di Commonwealth adalah Shcroder Dana Prestasi dan Shcroder Dana Syariah.

Selain produk reksa dana terse­but bank juga menjual beberapa produk lain dari beberapa aset management terkemuka di antaran­ya Schroder, Mandiri Managament Investasi, Manulife dan BMP Paribas. Untuk meningkatkan dana kelolaan wealth management uta­manya reksa dana, bank mengopti­malkan layanan e-reksa dana.

Tak hanya itu, lanjut Ivan, pihaknya telah menyiapkan tiga strategi untuk menggenjot dana kelolaan wealth management Bank Commonwealth. Pertama bagaimana kita menyampaikan komunikasi secara masif kepada nasabah. Kedua, ialah memper­mudah akses bagi nasabah untuk mengetahui dana kelolaan dan transaksi keuangannya.

"Kemudian ketiga, adalah bagaiamana menjaga kecakapan tenaga penjual. Hal ini pent­ing dalam meningkat edukasi, kenyamanan bertransaksi, dan komunikasi rutin dengan nasa­bah," tutup Ivan.

Dalam merespons kebutuhan investasi nasabah di era ekonomi digital, Bank Commonwealth berkomitmen mendampingi Nasabah dalam meningkat­kan kesejahteraan finansialnya melalui perbankan digital, salah satunya dengan Dynamic Model Portofolio yang merupakan ben­efit dari Premier Banking.

Dynamic Model Portfolio mer­upakan sebuah konsep investasi yang tidak hanya fokus pada perpaduan kelas aset berdasarkan profil risiko Nasabah, tetapi juga berdasarkan risiko pasar. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya