Berita

Foto/Net

Bisnis

Kualat Kalau Mainin Urusan Perut Rakyat

Harga Beras Naik
RABU, 10 JANUARI 2018 | 08:52 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kenaikan harga beras yang dimulai sejak akhir tahun kemarin terus berlanjut. Operasi pasar yang dilakukan Kementerian Perdagangan sejak Oktober lalu belum membuahkan hasil. Bukannya turun, harga beras di pasaran malah mencapai titik tertinggi atau rekor nasional. Pemerintah kudu serius. Bisa celaka kalau mainin urusan perut rakyat.

Kenaikan harga beras ini sudah terjadi sejak November lalu. Saat itu harga beras jenis medium ada di kisaran Rp 9.500 per kilogram. Setelah itu, komoditas makanan pokok ini naik Rp 300 tiap pekan. Sampai kemarin, harga beras di sejumlah pasar tradisional Jakarta belum menunjukkan tanda-tanda akan turun.

Rata-rata harga beras jenis medium ada di kisaran Rp 11 ribu per kilogram. Bahkan di sejumlah pasar merangkak menuju Rp 12 ribu per kilogram. Di Pasar Induk Beras Cipinang, harga beras jenis medium akhir pekan lalu mencapai antara Rp 10.500 sampai Rp 11.500. Bahkan jika merujuk data dari situs Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPSN) harga rata-rata beras jenis medium di Jakarta mencapai Rp 14.100 per kilogram atau melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 9.450 per kilogram.


Untuk meredam kenaikan ini, Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita dan Bulog melakukan operasi pasar. Enggar optimistis dengan operasi tersebut harga beras akan langsung turun dalam satu dua hari ke depan. Dia juga akan terus memantau pergerakan harga beras seiring dengan dilaksanakannya operasi pasar secara masif. "Kami akan cek betul dari atas sampe bawah, dari distributor satu, dua, tiga, kami akan lihat penyebab kenaikan disparitas harga yang tinggi," kata Enggar di Gudang Bulog Divre DKI di Kelapa Gading, Jakarta Utara, kemarin.

Senada disampaikan Dirut Bulog Djarot Kusumayakti. Dia meyakini operasi pasar akan menstabilkan harga beras seperti yang diatur dalam pemerintah melalui HET.

Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Gatot Irianto memastikan produksi beras tidak berkurang dan stok di Bulog masih 1 juta ton, cukup sampai panen raya pada Februari mendatang sehingga pemerintah tidak akan impor.

"Sebentar lagi kan panen raya sehingga tak ada argumen sedikitpun kita harga beras naik," ujarnya. Kata Gatot, kenaikan harga beras bervariasi dan tidak terlalu melonjak. Kenaikan harga beras juga diakibatkan publikasi yang salah sehingga menyebabkan kepanikan konsumen.

Di tempat terpisah, Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, harga beras mempunyai pengaruh besar ke tingkat kemiskinan. Soalnya mayoritas masyarakat masih menjadikan beras sebagai bahan makanan utama. "Jaga harga beras untuk masyarakat di pedesaan kalau tidak ingin kemiskinan bertambah," kata Bambang.

Guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, kenaikan harga beras mengikuti peningkatan harga gabah di sejumlah daerah yang mencapai Rp 5.200-Rp 6.000. Karena itu, wajar kalau di Pasar Induk Cipinang harga beras jenis medium ada yang mencapai Rp 11.000. "Di pasaran pasti lebih tinggi lagi, itu rekor nasional baru," kata Dwi saat dikontak, kemarin.

Ketua Umum Asosiasi Bank Benih Tani Indonesia ini memperkirakan gejolak harga beras akan berlanjut sampai awal Maret mendatang. Karena itu, dia meminta pemerintah segera meredam kenaikan tersebut. Pemerintah harus serius mengurus persoalan perut rakyat ini. Jangan sampai terkesan memberi solusi asal-asalan. Pasalnya, jika tidak memberi solusi bisa nambah celaka seperti terjadinya kepanikan. "Ini jadi warning. Segera diredam, kalau tidak dilakukan dikhawatirkan akan terjadi panic buying sehingga menyebabkan harga lebih tinggi," kata Dwi.

Dia menyebut musim panen dimulai akhir Januari atau Februari dan membutuhkan proses sebelum beras mencapai pasar kemudian ke konsumen. "Yang perlu dilakukan adalah menambah stok atau menambah paling tidak untuk sekitar Februari, ya sumbernya hanya dua dari dalam negeri atau impor," jelas Dwi. Dia menyebut kurangnya pasokan beras ke pasar akibat menurunnya produksi tahun lalu karena gangguan hama antara lain wereng batang coklat.

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia, Khudori menilai kenaikan harga beras disebabkan terbatasnya pasokan. Upaya pemerintah mengendalikan harga dengan HET tidak efektif. Harga bukannya turun tapi terus naik. "Sebetulnya harga itu tidak menipu. Kalau harga terus naik itu adalah refleksi dari pasokan yang memang terbatas," kata Khudori ketika dihubungi kemarin. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya