Berita

Foto/Net

Bisnis

2 Perusahaan Patungan Bareng DKI Bakal Dikaji Ulang

Kementerian BUMN Dalami Potensi Kerugian Rp 46,1 Triliun
SENIN, 08 JANUARI 2018 | 08:29 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian BUMN (Ba­dan Usaha Milik Negara) bakal melakukan kajian teknis dan keuangan secara optimal terhadap dua perusahaan patungan­nya bersama Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang mengalami permasalahan aset.

Hal ini seiring dengan keda­tangan Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Sandiaga Uno ke kantor Kementerian BUMN pada Jumat (5/1), untuk mengi­kuti Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) membahas pe­nyelamatan aset dua perusahaan patungan tersebut yakni PT Jakarta Estate Industrial Puloga­dung (JIEP) dan PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN).

Asisten Deputi (Asdep) Bi­dang Usaha Energi, Logistik, Kawasan dan Pariwisata II Kementerian BUMN, Agus Suharyono mengatakan, bahwa sesuai arahan Pemegang Sa­ham dalam hal ini Kementerian BUMN akan segera melakukan upaya penyelamatan aset dua perusahaan tersebut.


"Pemegang saham (Menteri BUMN-Rini M Soemarno) meminta direksi dengan penga­wasan Dewan Komisaris untuk tetap melakukan pengamanan dan mengoptimalkan aset yang dikelola serta mengupayakan pengembangannya dalam rangka meningkatkan nilai perusahaan," terangnya melalui pesan singkat yang diterima Rakyat Merdeka.

Menurutnya, dalam melaku­kan upaya-upaya penyelamatan aset tersebut, harus diawali dengan kajian teknis dan keuangan yang optimal.

"Kami akan segera lakukan kajian teknis dan keuangan, serta tetap berpedoman pada prinsip-prinsip GCG (Good Corporate Governance) dan ketentuan perundangan," imbuhnya.

Direktur Utama KBN, Sattar Taba menerangkan, permasala­han aset yang dimilikinya ber­mula saat pihaknya bekerja sama dengan sebuah perusahaan membentuk joint venture (JV) dalam rangka pembangunan beberapa pelabuhan.

"Tahun 2004-2005, kami memiliki aset yaitu Keppres Nomor 11 soal kawasan laut, kemudian sertifikat HPL (Hak Pengelolaan Lahan) Nomor 1, 2, 3 serta infrastruktur jalan kurang lebih 3 kilo meter. Ketiga ini kemudian dibuatlah kerjasama," terangnya.

Namun, pada Tahun 2015 saat ditandatangani perjanjian kerja sama, KBN hanya diberikan saham sebesar 15 persen. Pada­hal, pihaknya memiliki tiga hal di atas dengan total nilai aset mencapai Rp 1,8 triliun.

Kemudian, ada pemeriksaan BPK (Badan Pemeriksa Keuan­gan) dan hal ini menjadi temuan bahwa perjanjian itu tidak sesuai, sehingga harus diubah. Un­tuk itu, berdasarkan Peraturan Menteri Nomor 13 bilamana didapati perjanjian tidak sesuai maka harus direvisi dengan melakukan renegosiasi.

"Berhasil lah kita melakukan renegosiasi, di mana saham KBN sudah naik menjadi 50 persen dan sebagian lahan atau 2/3-nya dikembalikan ke kita. Namun kelihatannya mereka belum puas, lalu menyerahkan harta itu untuk dikonsesikan se­lama 70 tahun, diserahkan tanpa persetujuan pemegang saham KBN," ungkapnya.

Lantaran hal inilah, ia memohon kepada pihak terkait, termasuk para pemegang saham untuk me­nyelamatkan aset BUMN.

"Kita nggak punya kewenan­gan, Dampak dari konsensi 70 tahun ini KBN akan menga­lami kerugian sejumlah Rp 45,1 triliun. Kita mau berdamai tapi kelihatnnya kondisi semakin hari semakin buruk. mohon do­anya kita bisa selesaikan dengan baik. konsesi itu berbahaya bagi kami, berbahaya semua. karena ini Keppres," cetusnya.

Hal ini diamini, Wakil Guber­nur DKI Jakarta, Sandiaga Uno, bahwa ada rencana pihak-pihak tertentu yang ingin menyero­bot aset KBN. Saat ini, negara melalui Kementerian BUMN memiliki saham JIEP sebesar 50 persen, selebihnya 50 persen dimiliki Pemprov DKI.

Sedangkan, pemegang saham KBN terdiri atas Pemerintah Pusat sebesar 74 persen, dan Pemprov DKI Jakarta sebesar 26 persen.

"Saya ingin membahas perso­alan pada perusahaan patungan yakni JIEP dan KBN. Ada up­aya-upaya mengambilalih aset KBN melalui tindakan-tindakan di luar koridor hukum. Itu yang kita coba fokuskan di RUPS ini," cetusnya, di Kantor Kementerian BUMN Jakarta, Jumat (5/1).

Ia menilai, kedua perusahaan ini asetnya sangat strategis. JIEP yang memiliki lahan 40-50 hek­tare, kini tidak lagi di pinggiran, tetapi sudah di tengah-tengah kota Jakarta. Begitu juga dengan KBN yang strategis karena berada di pantai Jakarta yang memiliki akses penting terhadap sistem logistik nasional. ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya