Foto/Net
Foto/Net
Penyerahan anggaran diÂlakukan antara Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja Peningkatan, Perawatan dan Fasilitas Perawatan Prasarana Perkeretaapian Direktorat JenÂderal Perkeretaapian David Sudjito bersama dengan DirekÂtur Pengelolaan Prasarana KAI Bambang Eko Martono.
Dana yang dikucurkan dari Kementerian Perhubungan (KeÂmenhub) tahun ini hanya sebesar Rp 1,3 triliun alias lebih rendah dibanding dana IMO Tahun 2017 yang mencapai Rp 1,65 triliun.
Vice President (VP) Public Relations KAI, Agus Komarudin menerangkan, kebutuhan biaya perawatan dan pengoperasian prasarana perkeretaapian tahun ini lebih kurang mencapai Rp 3,4 triliun.
"Kebutuhannya sekitar Rp 3,4 triliun. Bisa dihitung sendiri, berapa yang harus dibiayai KAI (sekitar Rp 2,1 triliun). Dari Rp 1,3 triliun yang kita terima, 75 persennya nanti dikembalikan lagi melalui TAC (Track Access Charge)," tutur Agus kepada Rakyat Merdeka.
Meski demikian, pihaknya sebagai badan usaha transÂportasi massal yang berbasis keselamatan dan pelayanan tetap memprioritaskan faktor keselamatan perjalanan kereta api. "Kekurangan diambil dari internal dan memang tahun ini tidak ada kenaikan tiket. Jadi, tidak ada yang dibebankan ke penumpang," katanya.
Direktur Pengelolaan PrasaraÂna KAI, Bambang Eko Martono mengatakan, kebutuhan biaya perawatan prasarana perkereÂtaapian milik negara tahun lalu sudah terserap semua. Meski diakuinya, kebutuhannya sendiri lebih besar dari nilai IMO yang diterima perseroan.
"Yang pasti terserap semua (dana IMO 2017) karena kebuÂtuhannya lebih dari nilai yang diterima. Sisanya diambil dari dana KAI (internal)," ujarnya, di Jakarta, kemarin.
Untuk bisa mengoptimalkan dana IMO tahun ini, pihaknya telah memiliki perencanaan dengan Direktorat Jenderal (Ditjen) Perkeretaapian KemenÂhub, terutama terkait dengan sistem persinyalan kereta di Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi). Menurut Bambang, masih ada beberapa sistem persinyalan di Jabodetabek yang penggunaanya sudah di atas 25 tahun atau tua (uzur) sementara frekuensinya tinggi per harinya.
"Tahun ini kita akan lakukan secara bertahap untuk peremaÂjaan (sistem persinyalan), kita revitalisasi supaya lebih handal lagi. Ini juga untuk menjamin keselamatan," katanya.
Ia menjelaskan, dari dana IMO tersebut, anggaran yang dialokasikan untuk biaya peraÂwatan sinyal, telekomunikasi dan Listrik Aliran Atas (LAA) sebesar 39,6 miliar. Terbesar, masih pada biaya personel perawatan sebesar Rp 219,2 miliar, perawatan jalan rel Rp 127,6 miliar, sementara sisanya dialokasikan untuk perawatan jembatan senilai Rp 11,2 miliar, dan biaya umum perawatan prasarana sebesar Rp 900 juta.
Sementara, yang termasuk biaya pengoperasian yakni, Rp 588,6 miliar untuk biaya langsung tetap pengoperasian prasarana, dan Rp 107,7 miliar untuk biaya tidak langsung tetap pengoperasian prasarana.
Efisiensi Personel
Menanggapi penurunan alokasi anggaran tersebut, Direktur JenÂderal Perkeretaapian Kemenhub, Zulfikri menjelaskan, bahwa hal ini disebabkan adanya efisiensi personel pekerja KAI yang meraÂwat prasarana kereta api sepÂerti jalur kereta api, jembatan, stasiun, dan fasilitas operasi kereta api seperti sinyal, telekoÂmunikasi, dan LAA. Namun, untuk pengoperasian sendiri ada tambahan yakni untuk pengopÂerasian kereta ke Cikarang.
"Ke Cikarang kan tambah jarÂingan, jadinya bertambah. Untuk perawatan ada pengurangan, karena ada efesiensi di personil. Personil pekerja ya, karena komponen terbesar pekerja yang merawat," terangnya.
Selain itu, KAI juga akan melakukan kegiatan pengoperaÂsian lainnya seperti pengaturan langsiran, pemeriksaaan dan penjagaan jalan rel, jembatan, teÂrowongan, dan perlintasan resmi dijaga. Termasuk, pelumasan wesel dan pintu perlintasan, dan pekerjaan kebersihan, keindaÂhan, dan keamanan.
"Kami meminta KAI agar dapat memanfaatkan anggaran tersebut dengan maksimal. Jadi walaupun kebutuhan jauh dari alokasi yang ada tetapi harus memaksimalkan anggaran ini. Sehingga operasioanal kereta api lancar, aman, dan yang paling penting selamat," pintanya.
Terkait dengan beberapa staÂsiun yang akan direvitalisasi, ia menyebutkan diantaranya yakni stasiun Palmerah, stasiun KeÂbayoran Lama, stasiun Parung Panjang dan stasiun Maja. "MuÂlai tahun ini akan kita perbaiki. Salah satu keluhan penumpang itu ada yang menyebutkan esÂkalator di stasiun sering gangÂguan," katanya. ***
Populer
Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11
Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11
Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30
Senin, 15 Juni 2026 | 02:37
Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09
Senin, 15 Juni 2026 | 19:07
Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40
UPDATE
Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17
Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21
Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10
Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56
Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50