Berita

Politik

Jaga Fatsun Dan Politik Simbol

KAMIS, 04 JANUARI 2018 | 23:20 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

PERTEMUAN Presiden Jokowi dengan Cak Imin di peresmian kereta Bandara ternyata bermakna biasa. Seperti dikatakan Presiden Jokowi sendiri  keduanya sudah lama tidak bertemu dan baru berkesempatan bertemu hari itu. "Saya lama dengan beliau nggak ketemu. Terus kemarin saya telepon. Saya bilang ketemu di Bandara saja, sambil naik kereta Bandara," kata Jokowi.

Jokowi pandai menjaga fatsun dan menjaga harmoni dengan pimpinan partai-partai politik pendukungnya, bekas walikota Solo ini tanggap rupa-rupanya Cak Imin ingin memainkan politik simbol, momentum pertemuan dengan Presiden Jokowi dengan liputan pers secara terbuka tentu punya bobot pencitraan tinggi karena maklum belakangan ini Cak Imin sedang gencar mempromosikan diri untuk jadi cawapres.

Seperti diketahui, poster, spanduk, dan baliho bergambar Cak Imin siap maju jadi cawapres kini banyak bertebaran di banyak tempat. Imin juga rajin melakukan pertemuan-pertemuan dengan berbagai lapisan masyarakat dan melakukan kunjungan ke sejumlah daerah.


Tetapi rupa-rupanya pula Cak Imin lupa dalam adat Jawa berlaku ungkapan: "sing sopo golek ora bakal oleh, sing ngarep-arep ora bakal nampa, sing nyamisake ora bakal kaleksanan’’, yang ingin tidak mendapat, yang mempersiapkan diri juga tidak berhasil, tapi yang tidak ingin dan tidak mempersiapkan diri justru yang mendapat…
Esensi dari ungkapan di atas adalah bekerjalah dengan menunjukkan prestasi dan reputasi, fokus kepada tanggungjawab ketika menjadi pejabat, tidak neko-neko, tidak terlibat KKN, atau terlibat kasus pelanggaran hukum.

Anggapan bahwa Jokowi bakal terikat dengan Cak Imin, tentu sangat berlebih-lebihan. Belum saatnya Jokowi memutuskan figur cawapres. Sosok dan kapasitas Cak Imin sendiri mengundang tandatanya besar, benarkah Cak Imin memenuhi kriteria cawapres yang diinginkan oleh Jokowi? Mampukah Cak Imin melaksanakan Tri Sakti, dan Nawa Cita? Apa prestasi dan reputasinya?

Memori publik mengenai Cak Imin sejauh ini lebih banyak lekat dengan ingatan yang biasa-biasa saja yaitu bahwa Cak Imin merupakan keponakan Gus Dur  yang mengambilalih PKB dari tangan Gus Dur. Selebihnya masyarakat tidak terlalu paham dan tidak melihat apa sebenarnya yang telah dikerjakan oleh Cak Imin saat jadi menteri, apa legacy-nya? Bagaimana keberpihakannya dan pembelaannya kepada masyarakat pada umumnya?[***]

iniorangbiasa@yahoo.com

Populer

Jokowi Layak Digelari Lambe Turah

Senin, 16 Februari 2026 | 12:00

Keputusan KIP Kuatkan Keyakinan Ijazah Jokowi Palsu

Minggu, 22 Februari 2026 | 06:18

Roy Suryo Cs di Atas Angin terkait Kasus Ijazah Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 12:12

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Kasihan Banyak Tokoh Senior Ditipu Jokowi

Rabu, 18 Februari 2026 | 14:19

Partai Politik Mulai Meninggalkan Jokowi

Selasa, 17 Februari 2026 | 13:05

Sangat Aneh Bila Disimpulkan Ijazah Jokowi Asli

Kamis, 19 Februari 2026 | 18:39

UPDATE

LPDP Perkuat Ekosistem Karier Alumni, Gandeng Danantara dan Industri

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:04

RDPU dengan Komisi III DPR, Hotman Paris: Tuntutan Mati ABK Fandi Ramadhan Janggal

Kamis, 26 Februari 2026 | 14:02

Kenaikan PT Bikin Partai di DPR Bisa Berguguran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:39

KPK Panggil Ketua KPU Lamteng di Kasus Suap Bupati

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:38

DPR Jadwalkan Pemanggilan Dirut LPDP Sebelum Lebaran

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:30

Great Institute: Ancaman Terbesar Israel Bukan Palestina, Tapi Netanyahu

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:22

KPK Panggil Edi Suharto Tersangka Kasus Korupsi Penyaluran Bansos Beras

Kamis, 26 Februari 2026 | 13:06

IHSG Siang Ini Tergelincir, Nyaris Seluruh Sektor Merana

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:51

Rusia Pertimbangkan Kirim Bantuan BBM ke Kuba

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:29

Partai Buruh Bakal Layangkan Gugatan Jika PT Dinaikkan

Kamis, 26 Februari 2026 | 12:27

Selengkapnya