Berita

Foto/Net

Bisnis

Penjualan Tekstil & Mamin Diramal Bakal Melonjak...

Masuki Tahun Politik
KAMIS, 04 JANUARI 2018 | 11:02 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Memasuki tahun politik, pengusaha optimis penjualannya akan meningkat dibandingkan tahun lalu. Pasalnya, permintaan barang diramalkan akan meningkat.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat memprediksi, pen­jualan tekstil dan produk tekstil tahun ini akan naik. Pasalnya, setiap masuki tahun politik per­mintaan kaos untuk kampanye akan meningkat.

"Kegiatan Pilkada serentak tahun ini akan mendongkrak penjualan sampai 10 persen. karena semua calon pasti mem­butuhkan kaos untuk kampenya," ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Dia berharap, tingginya per­mintaan kaos dapat memberikan nafas segar bagi pengusaha tek­stil. Sebab, penjualan domestik tahun lalu kurang greget.

Pada tahun lalu, API mencatat penjualan tekstil domestik hanya mencapai Rp 90 triliun. Angka menurun dibandingkan pen­jualan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 105 triliun. Penu­runan disebabkan oleh lemahnya daya beli masyarakat.

Menurut Ade, pengusaha ter­tolong oleh penjualan ekspor yang naik 5 persen dari 11,8 miliar dolar AS menjadi 12,4 miliar dolar AS. "Ini karena hasil relokasi pabrik ke Jawa Tengah sehingga daya saing kita menguat," ujarnya.

Ketum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey mengatakan, kegiatan politik di 2018 menjadi salah satu faktor positif bagi industri ritel. Kegiatan kampanye akan mendor­ong tim sukses membelanjakan anggarannya cukup besar.

Dia optimis, kondisi tersebut bakal menggairahkan usaha ritel. Sebab, kegiatan yang berkaitan dengan kampanye mampu mem­beri kontribusi terhadap aktivitas belanja di toko ritel. "Ini yang kami lihat menjadi suatu pe­luang, kesempatan untuk tahun ini karena adanya pilkada yang cukup banyak," tuturnya.

Ketum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariya­di Sukamdani menilai, pesta demokrasi tahun ini lebih kon­dusif ketimbang 2017. "Seperti­nya industri ritel mulai bangkit, dan nanti kami perkirakan di 2018 politik itu pengaruhnya sangat kecil," ujarnya.

Hariyadi menilai, iklim politik akan kondusif. Karena pada pilkada tahun ini, tidak ada to­koh kontroversial yang berpo­tensi menyulut atmospir politik hingga mampu memecah-belah masyarakat. Menurutnya, kondisi politik yang tidak stabil seperti tahun lalu lebih berimbas negatif bagi kalangan kelas menengah.

Padahal, lanjut Hariyadi, kelas menengah menjadi salah satu tumpuan untuk menggerakkan bisnis di bidang ritel. Tahun lalu mereka cenderung menahan be­lanja mengingat kondisi politik yang kurang bersahabat.

Executive General Manager PT Toyota Astra Motor (TAM) Fransiscus Soerjopranoto ber­harap, dengan adanya Pilkada serentak akan meningkatkan penjualan mobil Toyota.

"Kita targetkan penjualan sama dengan tahun lalu. Namun, dengan adanya Pilkada kita ber­harap bisa lebih," ujarnya.

Rangsang Perekonomian

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong sebelumnya mengatakan, kegiatan Pilkada setentak tahun ini bisa merang­sang pertumbuhan ekonomi. Apalagi, kegiatan kampanye membuat tim sukses banyak menggelontorkan dananya di sektor riil, seperti percetakan spanduk, iklan, jasa katering, penginapan, dan quick count.

"Tahun politik ini stimulatif untuk ekonomi, keberadaan kampanye turut menggerakkan kegiatan ekonomi. Berbagai acara saat kampanye pasti akan menyediakan makanan dan minuman, yang otomatis ber­pengaruh pada jasa sewa kater­ing. Sektor jasa lainnya semisal angkutan, penginapan, dan ke­bersihan juga akan tergunakan," ujar Lembong.

Dia menegaskan, kegiatan politik terbukti mengerek pereko­nomian hampir di seluruh negara. Di Indonesia sendiri, perputaran uang di setiap kegiatan Pilkada akan menstimulus perekonomian. Dengan begitu investor tak perlu lagi wait and see di tahun politik. "Tahun politik itu biasanya tahun yang baik untuk ekonomi," ka­tanya.   ***

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ganti Rugi Lahan Belum Tuntas, Warga Medan Polisikan Developer

Minggu, 07 Juni 2026 | 01:40

iPhone Raffi Ahmad Dikirim dari AS Tanpa Disebut dalam Dokumen

Selasa, 09 Juni 2026 | 00:01

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Dialog BEM di Makassar: Gerakan Mahasiswa Harus Independen dan Berbasis Data

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:17

DPR Apresiasi Perbaikan Haji di Era Prabowo, Antrean Jemaah Turun Jadi 26 Tahun

Rabu, 17 Juni 2026 | 20:14

KPK Soroti Nama Besar yang Muncul dalam Persidangan Kasus Bea Cukai

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:59

Polri Serius Garap Universitas Kepolisian yang Bisa Diakses Masyarakat Umum

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:42

Tiyo Ardianto dan Tradisi Panjang Anak Rakyat dalam Sejarah Pergerakan Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:33

RUU Perkoperasian Buka Jalan Koperasi Jadi Soko Guru Perekonomian

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:25

Masyarakat Kemuning Ngadu ke BAM DPR soal Klaim Kawasan Hutan

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:21

FPHI Ultimatum OJK, Minta Kejelasan Laporan Keuangan Danantara

Rabu, 17 Juni 2026 | 19:10

KPK Tagih Perbaikan Sistem MBG di Era Kepala BGN Baru

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:56

Kinerja Bertumbuh, Pelindo Setor Rp7,81 Triliun kepada Negara

Rabu, 17 Juni 2026 | 18:50

Selengkapnya