Berita

Dunia

Pengamat: Trump Mengejar Agenda Anti-imigran Berbahaya

SELASA, 02 JANUARI 2018 | 11:21 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dinilai mengejar agenda anti-imigran yang berbahaya.

Menurut data oleh badan Imigrasi dan Bea Cukai AS, deportasi warga Meksiko untuk tahun fiskal 2017, yang berlangsung dari 1 Oktober 2016 sampai 30 September 2017, berada di angka 128.765.

Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pemerintahan mantan Presiden Barack Obama mendeportasi 149.821 warga Meksiko. Ada selisih lebih dari 21.000.


Pemerintah Meksiko, yang melacak jumlah warganya yang "dipulangkan" dari AS, menempatkan tahun 2017 hingga bulan November ada sekitar 151.000 . Data resmi Meksiko dari tahun 2016 mengatakan "repatriasi" mencapai sekitar 190.000 pada periode yang sama.

Angka-angka ini sangat mencolok, karena platform kampanye pemilihan Trump bersikap keras terhadap imigrasi, termasuk dari Amerika Latin.

Pada sebuah kampanye tahun 2015 yang mengumumkan niatnya mencalonkan diri sebagai presiden, Trump secara kontroversial mengatakan bahwa imigran Meksiko membawa narkoba, membawa kejahatan dan merupakan pemerkosa.

Trump, yang dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari, juga telah berulang kali berjanji akan membangun tembok di perbatasan Amerika Serikat-Meksiko untuk membatasi imigrasi.

Meskipun ada penurunan angka deportasi orang-orang Meksiko, Salvador Sarmiento, direktur legislatif untuk Organisasi Pekerja Hari Nasional, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa angka-angka ini bukanlah satu-satunya aspek di mana orang harus menilai kebijakan imigrasi Trump.

Dia menyebut ada kontrak penahanan yang meningkat di pusat penahanan swasta serta peningkatan rasisme dan kolusi.

"Ini akan mempengaruhi kita selama bertahun-tahun yang akan datang", kata Sarmiento, yang kelompoknya bertujuan untuk melanjutkan hak sipil, ketenagakerjaan dan hak asasi manusia dari angkatan kerja buruh harian yang sebagian besar tidak berdokumen.

Komunitas imigran semakin merasa terancam, tidak hanya dari ICE tapi juga dari penegak hukum di komunitas mereka sendiri.

Sarmiento menilai bahwa ini adalah bagian dari agenda anti-imigran versi Trump yang berbahaya.

Bulan lalu, Mahkamah Agung AS mengizinkan pemerintah Trump untuk sepenuhnya menerapkan versi ketiga dari larangan perjalanan yang kontroversial yang melarang orang dari enam negara berpenduduk mayoritas Muslim memasuki Amerika Serikat.

Larangan tersebut berlaku untuk orang-orang dari Chad, Iran, Libya, Somalia, Suriah dan Yaman. [mel]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya