Berita

Vaksin Di UI/UI

Kesehatan

Ahli Imunologi UI: Vaksin Difteri Juga Diperlukan Oleh Orang Dewasa

JUMAT, 29 DESEMBER 2017 | 22:11 WIB | LAPORAN:

Baru-baru ini, wabah difteri kembali terjadi di Indonesia. Menurut data World Health Organization (WHO), pada kurun waktu 2000-2015 Indonesia masuk 10 daftar negara dengan penyebaran difteri terbesar di dunia.

Kementerian Kesehatan pada tahun 2017 juga telah memetakan 6 wilayah di Indonesia dengan tingkat kasus penyebaran difteri terbanyak, yaitu Jawa Timur (271 kasus), Jawa Barat (95 kasus), Banten (81 kasus), Aceh (76 kasus), Sumatera Barat (20 kasus) dan DKI Jakarta (16 kasus).

Dari sejumlah kasus yang ada ini, ternyata 18% kasus dialami oleh rentang usia 19-40 tahun (dewasa), meskipun rentang usia terbesar penderita difteri adalah umur 1-18 tahun. Berdasarkan data ini, timbul pertanyaan apakah vaksin difteri juga diperlukan oleh rentang usia dewasa atau tidak? Sedangkan, saat ini pemerintah dengan program Outbreak Response Imunization Difteri (ORI Difteri) hanya memberikan vaksinasi gratis terhadap rentang usia 1-18 tahun.


Menanggapi hal ini, Dr. dr. Iris Rengganis, SpPD-KAI, FINASIM (Imunolog Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI) mengatakan bahwa imunisasi untuk rentang usia dewasa tetap diperlukan sebagai upaya pencegahan sekaligus perlindungan kesehatan.

“Meskipun pemberian vaksinasi bagi rentang usia dewasa ini diutamakan di daerah-daerah yang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. Untuk daerah diluar itu, diutamakan yang berinteraksi secara langsung dengan penderita, seperti suster, dokter, atau relawan kesehatan,” jelasnya dalam seminar “Info Sehat Fakultas Kedokteran (FK) UI Untuk Anda” yang diselenggarakan oleh FKUI di Ruang Auditorium IMERI Kampus Salemba, Jakarta, Jumat (29/12).

Pemberian vaksinasi bagi rentang usia dewasa dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: (1) dewasa yang belum pernah mendapatkan vaksin atau belum lengkap status imunisasinya, diberikan 1 dosis vaksin Tdap diikuti dengan vaksin Td sebagai penguat sebanyak 3 kali, dengan pemberian dosis kedua berjarak 4 minggu dari dosis pertama dan dosis ketiga diberikan setelah 6 sampai 12 bulan dari dosis kedua; (2) dewasa yang belum menyelesaikan tiga dosis vaksin Td seri primer diberikan sisa dosis yang belum dipenuhi.

"Perlu diingat, bahwa vaksin hanya mampu memberikan perlindungan selama 10 tahun, sehingga setelah 10 tahun, perlu diberikan booster atau penguat," tegasnya.

Mengingat pentingnya kampanye pemberian vaksinasi difteri bagi rentang usia dewasa, Klinik Satelit UI tanggap merespon kondisi ini dengan menggelar program pemberian vaksinasi difteri bagi warga UI dan masyarakat umum di Kampus UI Depok sejak 17 Desember 2017. Bagi warga yang berminat untuk mengikuti program ini dapat mendaftar sebelumnya melalui nomor telepon (021) 78881017 atau datang langsung ke Klinik Satelit UI untuk kemudian melakukan pengaturan jadwal untuk melakukan vaksinasi.

Klinik Satelit UI hanya menyediakan vaksin bagi rentang usia dewasa diatas 18 tahun.

“Bagi masyarakat di rentang usia dibawah itu, akan kami rekomendasikan ke Puskesmas setempat untuk diberikan vaksin difteri gratis dari pemerintah,” jelas DR. dr. Astrid W.Hardjono, M.PH., SpOk, Kepala Klinik Satelit UI.

Astrid juga menjelaskan bahwa meskipun program ini adalah program berbayar, namun Klinik Satelit UI tidak mengambil keuntungan. Uang yang dibayarkan peserta hanya diputar untuk membeli vaksin difteri berikutnya.

FKUI bekerja sama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga menyediakan pelayanan vaksinasi difteri bagi orang dewasa. Pelayanan ini bisa didapatkan di Klinik Imunisasi Dewasa RSCM lantai 5. Pasien dewasa bisa mendapatkan vaksinasi ini dengan harga yang terjangkau di klinik tersebut. Melalui pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh Klinik Satelit dan FKUI ini, UI mewujudkan salah satu bentuk Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Dengan diberikannya vaksinasi, diharapkan masyarakat terhindar dari penularan difteri, sehingga KLB bisa segera teratasi dan masyarakat juga semakin sadar akan pentingnya upaya pencegahan penyakit, termasuk vaksinasi. [san]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Herman Deru Perintahkan Jalinsum Diperbaiki Usai Tragedi Bus ALS

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:22

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Pemakzulan Trump Mencoreng Citra Demokrasi Barat

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:01

Politik Mesias Digital

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:27

Saksi Sidang di PN Jakbar Dikejar-kejar hingga Diduga Dianiaya

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:06

Pendidikan Bukan Komoditas Ekonomi

Minggu, 10 Mei 2026 | 00:03

Korban Kecelakaan Bus ALS Jadi 18 Orang

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:32

Kritik Amien Rais Jadi Momentum Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 23:14

Selengkapnya