Berita

Net

Nusantara

Pakualaman Perlu Tangani Penolakan Bandara NYIA

RABU, 27 DESEMBER 2017 | 20:11 WIB | LAPORAN:

Pro kontra pembangunan New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) di Kecamatan Temon, Kulon Progo sekarang bisa membuka tabir kepada publik.

Ketua Pendiri Indonesian Audit Watch (IAW) Junisab Akbar menilai bahwa persoalan penolakan itu bermuara kepada suatu simpul persoalan lokasi lahan yang akan dibangun menjadi bandara.

"Dari simpul itu pula diduga kuat Puro Pakualam adalah pihak yang mendapatkan bagian pembayaran ganti rugi lahan paling besar atas pembangunan bandara baru tersebut," katanya kepada wartawan, Rabu (27/12).


Apalagi, ada oknum dari pihak keluarga Pakualaman terbersit dengan janji akan memberi tali asih bagi ratusan keluarga petani penggarap lahan yang akan dibangun. Namun disesuaikan dengan sejumlah ketentuan.

"Ini yang kemudian terungkap secara meluas yang dikumandangkan untuk menjawab gelombang protes dari para penggarap di lahan Pakualaman Ground Kulonprogo yang menuntut Pakualam untuk membagi sepertiga nilai ganti rugi dari pembayaran PT Angkasa Pura I sebesar Rp 727 miliar," jelas Junisab.

Menurutnya, kondisi riil yang awalnya tidak terungkap secara jelas menjadi lebih diyakini kebenarannya setelah Jaksa Agung HM Prasetyo menyatakan bahwa Tim Pengawal Pengamanan Pemerintah dan Pembangunan (TP4) Kejaksaan dan TP4 DIY mengawal proyek tersebut.

"Diakuinya bahwa sebagian tanah yang akan menjadi bahagian lahan proyek bandara NYIA itu adalah milik Pakualam. Namun kemudian ada pengakuan yang menggarap lahan tersebut milik warga setempat," ujar Junisab.

Bahkan, lanjut mantan anggota DPR RI itu, jaksa agung menyampaikan hal itu untuk menjawab gelombang protes para penggarap lahan Pakualaman Ground Kulonprogo yang kemudian melebar ke penolakan pembangunan bandara berkelas internasional.

"Karenanya kami minta sebagai wakil gubernur DI Yogyakarta, Pakualam memiliki tanggung jawab moral untuk menuntaskannya," kata Junisab.

Pasalnya, dari masalah lahan yang digarap rakyat selama ini, muncul gelombang keributan antar penggarap dengan pihak Pakualam. Sehingga uang negara menjadi tertahan dan tidak bisa direalisir dalam pembangunan.

"Jangan nanti publik malah melihat justru di atas lahan Pakualam terjadi penolakan pembangunan yang diperlukan untuk mengatasi lonjakan penumpang ke dan dari Yogyakarta," ucap Junisab. [wah]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

Komisi III DPR Sambut KUHP dan KUHAP Baru dengan Sukacita

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:12

Bea Keluar Batu Bara Langkah Korektif Agar Negara Tak Terus Tekor

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:08

Prabowo Dua Kali Absen Pembukaan Bursa, Ini Kata Purbaya

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:07

Polri Susun Format Penyidikan Sesuai KUHP dan KUHAP Baru

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:06

Koalisi Permanen Mustahil Terbentuk

Jumat, 02 Januari 2026 | 14:01

Polri-Kejagung Jalankan KUHP dan KUHAP Baru Sejak Pukul 00.01 WIB

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:58

Tutup Akhir Tahun 2025 DPRD Kota Bogor Tetapkan Dua Perda

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:46

Presiden Prabowo Harus Segera Ganti Menteri yang Tak Maksimal

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:42

Bitcoin Bangkit ke Level 88.600 Dolar AS

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Berjualan di Atas Lumpur

Jumat, 02 Januari 2026 | 13:41

Selengkapnya