Pengurus Pusat Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB) didampingi Pengda IA-ITB Sulawesi Selatan berkunjung ke kediaman Mohammad Izhak di Polewali Mandar, Rabu (20/12).
Izhak sendiri merupakan mahasiswa ITB tingkat awal yang tidak meneruskan pendidikan lantaran faktor ekonomi keluarga.
Ketua Bidang Hubungan Pemerintahan dan Ormas PP IA-ITB M. Adamsyah WH mengatakan, sejak menjadi yatim piatu, Izhak bersama salah seorang adiknya membuat gula merah untuk dijual. Rata-rata per lima hari bisa membuat 20 bungkus gula merah kemudian dijual di pedagang seharga Rp 6.000 per bungkus. Keluarga Izhak juga memiliki dua ekor sapi yang terus dirawat agar bisa menghasilkan kalau sudah melahirkan dan dijual.
"Sekarang Izhak jadi tulang punggung keluarga dengan sembilan bersaudara. Adik nomor dua, perempuan, kuliah di STAIN Parepare semester lima," katanya kepada redaksi.
Menurut Adamsyah, untuk rencana ke depan, Izhak ingin melanjutkan kuliah di Universitas Terbuka (UT). Sudah ada pihak UT yang mendatanginya untuk memberikan arahan. Izhak pun akan dibebaskan dari biaya.
"Rencana ambil jurusan manajemen dan akan mulai lagi dari semester satu. Kalau ada yang bisa memberikan laptop bekas untuk dia sangat terbantu sekali," katanya.
Adamsyah menjelaskan, banyak tawaran dari alumni ITB yang ingin meringankan beban Izhak. Beberapa amanah dari alumni baik di pusat maupun di Makassar seperti tawaran untuk menyekolahkan dua adiknya yang masih duduk di bangku SMP sampai tamat SMA atau universitas. Ada juga alumni yang bersedia menjadi orang tua angkat untuk adik terakhir yang berusia 1,7 tahun. Juga ada amanah dari alumni yang bersedia menjadi orang tua asuh bagi adik-adik Izhak.
"Ada tawaran dari alumni juga untuk menjadi produsen arang batok. Nanti akan di-support peralatan, modal kerja sama pelatihan. Izhak bersedia. Ada juga alumni di Makassar yang bersedia menjadi bapak angkat dari mereka keseluruhan. Alhamdulillah," jelasnya.
Izhak merupakan mahasiwa Teknik Kimia yang telah menyelesaikan tahap persiapan bersama (TPB) Fakultas Teknik ITB dengan meraih IPK 1,6.
Pada Februari 2016 Izhak pulang ke Polman, dan tidak kembali lagi ke ITB, untuk merawat ibunya sambil bantu urus adik. Februari 2017, penyakit kista ibunya semakin membesar dan akhirnya meninggal dunia.
Sejak sang ibu meninggal, kesehatan ayahnya menurun drastis. Konsentrasi dan semangat hidup telah hilang. Penyakit tuberkulosis yang diderita sang ayah selama ini memperburuk kondisi kesehatan. Selama ini Ayahnya bekerja sebagai pembuat gula Aren. Juli 2017, sang ayah sudah tidak mampu bekerja lagi. Sebagai anak tertua Izhak bersama adiknya ymelanjutkan pekerjaan tersebut. sang ayah hanya berbaring di tempat tidur sampai menyusul ibu berpulang ke Rahmatullah pada 22 November lalu.
Izhak kini menempati rumah peninggalan orang tuanya yang bisa dibilang kurang layak untuk ditempati. Sesekali sang nenek atau tantenya ayah Izhak datang ke rumah dan membantu untuk mengurus adik-adik
. [wah]