Berita

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berpidato di depan massa pendukungnya/net

Politik

PILKADA SERENTAK 2018

PDIP Dan Dua Jenderal Polri Untuk Sisa Pulau Jawa

RABU, 20 DESEMBER 2017 | 16:48 WIB | OLEH: ALDI GULTOM

PDI Perjuangan masih menyimpan nama sosok yang akan diusungnya di Jawa Tengah dan Jawa Barat untuk Pilkada Serentak 2018. Sedangkan pasangan calon untuk Jawa Timur menjadi yang paling depan diumumkan partai banteng gembrot itu pada Oktober lalu.

Informasi yang didapatkan redaksi, nama calon untuk Jawa Barat sedianya akan diumumkan pada hari Minggu lalu (17/12) bersama empat pasangan lain untuk daerah Riau, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Maluku.

Namun, situasi Jabar masih begitu cair, terutama setelah Golkar mencabut dukungan dari Ridwan Kamil. Manuver Golkar itu mengubah konstelasi jelang Pilkada Jabar.


Sebelumnya, ada kabar menyebut PDIP telah mengantongi nama calon yang berasal dari institusi Polri dan pernah memegang jabatan Kepala Polda Jabar. Nama itu adalah Irjen Pol Anton Charliyan yang sekarang bertugas sebagai Wakalemdiklat Polri.

Pasca Golkar mencabut dukungannya ke Ridwan Kamil, sampai sekarang belum ada informasi terakhir tentang kepastian pencalonan Anton.

Untuk Jateng, informasi kuat menyebut bahwa PDIP juga telah menyiapkan nama calon berlatar Polri. Yang dimaksud tidak lain adalah Komjen Pol Budi Waseso alias Buwas yang sekarang masih menjabat Ketua Badan Narkotika Nasional (BNN).

Kans Buwas meraih tiket dari PDIP kian kuat setelah ia berbesan dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Jenderal Pol Budi Gunawan (BG).

BG sudah lama dikenal sebagai "orang terdekat" Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Sedangkan Buwas adalah salah satu perwira tinggi Polri yang sangat loyal mengawal BG ketika mantan Wakil Kepala Polri itu terhadang kasus "rekening gendut".

Bagaimana dengan Ganjar Pranowo, yang notabene adalah kader tulen PDIP dan berstatus incumbent?

Sebagai petahana, seharusnya adalah keuntungan bagi PDIP untuk memajukan Ganjar. Apalagi, elektabilitas dan popularitas Ganjar sejauh ini masih di atas nama-nama lain yang diduga kuat akan berlaga di Pilkada Jateng. Misalnya, dalam survei yang dilakukan Populi Center pada pertengahan Mei 2017, Ganjar masih unggul dari segi popularitas, elektabilitas hingga akseptabilitas.

Meski Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto, memberi sinyal bahwa Ganjar adalah salah satu kader PDIP yang dianggap sukses dalam periode pertama sebagai kepala daerah, tetapi ada perkara lain yang bisa membuat prestasi itu terkubur dalam-dalam.

Perkara itu adalah skandal besar korupsi pengadaan KTP elektronik atau E-KTP. Nama Ganjar begitu santer terdengar dalam kasus yang menurut KPK merugikan negara Rp 2,3 triliun tersebut. Awalnya, Ganjar yang saat itu menjadi Wakil Ketua Komisi II DPR RI disebut saksi, Muhammad Nazaruddin, menerima uang sebesar US$ 500 ribu.

Itulah yang membuat PDIP sangat khawatir untuk mempertahankan Ganjar di Jateng. Apalagi, Pilkada 2018 berlangsung tak sampai satu tahun sebelum Pemilihan Umum level nasional, baik untuk legislatif maupun presiden dan wakil presiden.

Taruhlah Ganjar terpilih lagi untuk periode kedua. Namun, tiba-tiba, puting beliung E-KTP yang liar dan ganas itu datang menyambar, menjadikan Ganjar satu nasib dengan Setya Novanto yang kini menjadi pesakitan di pengadilan.

Tentu bukan cuma Ganjar yang menderita, tetapi juga PDIP dan seluruh kader banteng gembrot yang sedang "pede-pedenya" menghadapi Pileg dan Pilpres 2019.

PDIP sendiri mungkin sangat menyadari potensi kemenangan Buwas tak sebesar Ganjar. Namun, kerugian yang dideritanya tak akan sebesar mengusung Ganjar.

Lagipula, bagi PDIP, Buwas dapat dimanfaatkan untuk mengonsolidasikan kelompok-kelompok loyalis PDIP di Jateng dan elemen masyarakat lain sebagai persiapan menuju 2019. [ald]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Langgar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

UPDATE

Komisi XIII DPR Soroti Perlindungan Hukum Pelaku Usaha yang Tabrak Aturan

Senin, 29 Juni 2026 | 12:22

Ketika Jalanan Pindah ke Dalam Genggaman

Senin, 29 Juni 2026 | 12:07

Gaya Komunikasi Presiden Prabowo Berisiko Menenggelamkan Kinerja Pemerintah

Senin, 29 Juni 2026 | 12:01

KPK Periksa Saksi Swasta dalam Kasus Gratifikasi Produksi Batu Bara di Kukar

Senin, 29 Juni 2026 | 11:54

Harga Bapok Kompak Anjlok, Telur Ayam Turun Jadi Rp28.850/Kg

Senin, 29 Juni 2026 | 11:32

Kasus YTR Jadi Alarm, Garnita NasDem Minta Negara Perkuat Perlindungan Perempuan

Senin, 29 Juni 2026 | 11:15

Safari Politik Jokowi Dibungkus Ritual Adat untuk Dongkrak Publisitas PSI

Senin, 29 Juni 2026 | 11:13

Petugas Haji Masih Bersiaga hingga Kepulangan Kloter Terakhir

Senin, 29 Juni 2026 | 11:07

Kenaikan Beruntun CPO Malaysia Didorong Sentimen Minyak Global

Senin, 29 Juni 2026 | 10:57

Prabowo Ingatkan Ancaman AI, Akademisi Diminta Antisipasi Dampaknya

Senin, 29 Juni 2026 | 10:52

Selengkapnya