Berita

Ciliwung/net

Jaya Suprana

Hak Asasi Manusia Dianggap Sebagai Manusia

SELASA, 19 DESEMBER 2017 | 07:22 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

KETIKA berkunjung ke kawasan-kawasan yang mengalami penggusuran, saya sempat berjumpa para rakyat yang menjadi korban penggusuran secara paksa. Ternyata banyak yang ikhlas pasrah menerima nasib digusur namun banyak pula yang tidak ikhlas akibat di samping digusur mereka ternyata masih distigmasisasi sebagai warga liar.  

Liar

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata liar bermakna antara lain: tidak ada yang memelihara; tidak dipelihara orang (tentang binatang):  binatang liar;  tidak atau belum jinak: burung ini masih liar; tidak tenang (tentang pandangan mata); buas; ganas: matanya liar memandang ke kiri kanan; pandangannya liar seperti harimau akan menerkam mangsanya; tidak teratur; tidak menurut aturan/ hukum: sikap dan tingkahnya liar; belum beradab. 


Menarik bahwa ternyata kata liar lebih lazim digunakan untuk kesan negatif ketimbang positif. Dan lebih menarik lagi bahwa sebenarnya kata liar lebih layak digunakan untuk hewan bukan manusia.

Apabila digunakan untuk manusia maka liar memaknakan manusia yang bersifat seperti hewan bahkan hewan yang tergolong jenis liar bahkan buas dan ganas.

Maka pertanyaan timbul di lubuk sanubari terdalam saya mengenai kenapa ada warga yang kebetulan bermukim di kawasan yang akan digusur sampai perlu disebut sebagai  warga liar? Apakah mereka, sesuai makna kata “ liar “, memang tergolong jenis hewan yang tidak dipelihara manusia? Apakah mereka memang buas dan ganas? Namun ketika bejumpa dengan para warga tergusur yang dikategorikan sebagai “warga liar”  saya memperoleh kesan bahwa teman-teman sesama warga Indonesia itu sama sekali tidak memiliki memiliki sepak-terjang atau pandangan mata yang buas seperti hewan liar akan menerkam mangsanya. 

Mohon

Para sejarawan meyakini bahwa warga di bantaran kali Ciliwung sudah bermukim di sana sejak tahun 30an abad XX. Bahkan permukiman di bantaran kali Ciliwung sudah hadir sejak kawasan yang kini bernama Jakarta baru mulai membentuk diri di persada Nusantara.   

Berdasar hasil penelitian Pusat Studi Kelirumologi terhadap istilah “warga liar”, terpaksa saya menyatakan bahwa penggunaan istilah tersebut pada hakikatnya   keliru sebab merupakan pelanggaraan terhadap hak asasi setiap insan manusia untuk dianggap sebagai manusia.  

Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memohon kepada siapa pun yang sedang berkuasa maka berwenang di negeri yang sangat saya cintai ini agar berkenan berbelas kasihan untuk tidak menggunakan sebutan warga liar  bagi sesama warga bangsa dan negara Indonesia yang telah 72 tahun merdeka ini.

Dan dengan penuh kerendahan hati, saya juga memohon agar teman-teman sebangsa dan se-tanah air dan udara di bantaran kali Ciliwung mau pun di mana pun juga dari Sabang sampai Merauke terutama justru yang masih hidup di dalam suasana kemiskinan jangan  diperlakukan sebagai musuh pemerintah namun justru sebagai warga yang hak-hak asasinya wajib dilindungi oleh pemerintah sesuai Undang-Undang Dasar Negara Indonesia yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. MERDEKA! [***]

Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan.

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya