Berita

Rizal Ramli/Net

Politik

VOX POPULI

Cawapres Jokowi Harus Menguatkan

SABTU, 16 DESEMBER 2017 | 08:27 WIB | LAPORAN: ARIEF GUNAWAN

SETELAH Peristiwa Malari '74 yang antara lain dilatari oleh rivalitas para jenderal yang merupakan kolega sesama Angkatan '45, Soeharto menyiapkan "suksesi" melalui jalur ajudan yang terdiri dari para perwira muda.

Peristiwa Malari yang juga dilatari oleh sentimen anti Jepang itu rupanya jadi pelajaran penting bagi Soeharto bahwa kekuasaannya yang baru berjalan beberapa tahun ketika itu sangat rawan untuk digoyang dari dalam.

Banyak posisi penting diberikan Soeharto kepada para bekas ajudan.


Try Soetrisno jadi wapres, Wiranto Pangab, Soebagyo HS Kasad, Dibyo Widodo Kapolri, dan seterusnya.

Soeharto membutuhkan orang-orang kepercayaan. Sultan HB IX yang merupakan Raja Jawa dipakai oleh Soeharto untuk melegitimasi kekuasaan, sehingga diberikan jabatan wakil presiden.

Pasca Sultan para wakil presiden pendamping Soeharto merepresentasikan kebhinekaan. Soeharto mengangkat Adam Malik yang urang awak jadi RI 2, Umar Wirahadikusumah yang urang Sunda, Sudharmono, Try Soetrisno, BJ Habibie.

Bung Karno merupakan presiden yang pandai menjaga harmoni. Ia mengangkat dr J Leimen untuk menjalankan fungsi presiden ketika berhalangan. Leimena yang tokoh non Jawa itu mendapat tempat di hati Sukarno.

"Ambillah misalnya Leimena… saat bertemu dengannya aku merasakan rangsangan indera keenam, dan bila gelombang intuisi dari hati nurani yang begitu keras seperti itu menguasai diriku, aku tidak pernah salah. Aku merasakan dia adalah orang yang paling jujur yang pernah kutemui."

Pertalian Sukarno-Hatta juga dilukiskan ibarat siklus yang dalam ungkapan dikatakan sebagai "dwitunggul dan dwitunggal."

Kedua tokoh ini ibarat panji yang saling berbeda tapi memiliki kesamaan tujuan, menentang kolonialisme untuk memerdekakan bangsa.

Sukarno revolusioner, Bung Hatta reformis.

Bung Karno gandrung persatuan, Bung Hatta menganggap persatuan hanya alat.

Bung Karno ingin negara kesatuan, Hatta ingin negara serikat.

Sukarno anak guru, Hatta anak saudagar.

Sukarno sekolah di ITB, Hatta sebelas tahun sekolah dan bermukim di Belanda. Ayahandanya wafat waktu Hatta berusia delapan bulan.

Hatta dilahirkan di tanah Minang, Sumatera, adapun Sukarno berdarah Jawa & Bali.

Dan seperti para pendiri bangsa ini umumnya, kedua-duanya adalah gambaran karakter yang ideal, tipe pejuang terhormat yang amanah. Sukarno merupakan solidarity maker, sedang Hatta administrator yang baik.

Kedua-duanya adalah tokoh pergerakan yang dikehendaki oleh rakyat yang tertindas untuk menjadi pemimpin, sehingga dikatakan sebagai dwitunggul, dan waktu naik ke dalam kekuasaan mereka menjadi dwitunggal.

Joko Widodo merefleksikan tipe kepemimpinan berciri solidarity maker. Blusukan merupakan simbol turunnya pembesar ke lapisan bawah.

Orang Jawa mengatakan Manunggaling Kawulo Gusti. Meski Jawa Joko Widodo sendiri bukanlah Jawasentris.

Siapa tokoh Non Jawa yang patut mendampingi Jokowi, di Pilpres 2019 nanti, untuk posisi calon wakil presiden?

Banyak kalangan menyebut nama Dr Rizal Ramli, yang ada kesamaannya dengan kedua tokoh besar, Sukarno-Hatta.

Rizal orang pergerakan, masuk bui akibat melawan otoritarianisme, kuliah di ITB, di penjara di Sukamiskin tempat dimana Sukarno pernah meringkuk.

Rizal kelahiran Sumatera. Yatim piatu sejak usia delapan tahun.

Orang Minang yang pluralis dan nasionalis. Tumbuh di Tanah Parahiyangan, dikenal luas karena pergaulannya dengan para tokoh Nusantara, dan punya reputasi pergaulan berskala mancanegara.

Dengan kalangan Islam Rizal Ramli dikenal sangat dekat, dengan NU Rizal merupakan murid kesayangan Gus Dur, familiar dengan Muhamadiyah dan kelompok-kelompok lainnya. Sehingga banyak yang mengatakan, Rizal Ramli merupakan tokoh nasionalis yang sangat dipercaya oleh kalangan ini.

Kesamaan Rizal dengan Jokowi antara lain adalah sama-sama lurus, visioner, tidak neko-neko, dan berani dalam membela rakyat. Inilah branding yang sangat penting yang tidak dipunyai sosok lainnya.

Kerinduan masyarakat terhadap sosok dwitunggal Sukarno-Hatta sesungguhnya ada pada sosok Jokowi dan Rizal Ramli.

Mereka bukan hanya merupakan representasi wilayah Jawa dan Non Jawa, kedua-duanya juga terikat oleh kesamaan pandang dan kehendak yang tergambar dalam Tri Sakti dan Nawa Cita yang selama ini disuarakan oleh Presiden Jokowi. [***]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

KPK Klaim Status Tahanan Rumah Yaqut Sesuai UU

Jumat, 27 Maret 2026 | 12:26

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

TNI Gandeng Bulog Hadirkan Program Pangan Murah di Puncak Jaya

Kamis, 02 April 2026 | 03:59

Jadwal KA Ciremai Dipastikan Kembali Normal

Kamis, 02 April 2026 | 03:46

KUR dan Salah Arah Subsidi Negara

Kamis, 02 April 2026 | 03:20

Gugatan Forum Purnawirawan TNI Bertujuan agar Kasus Ijazah Jokowi Rampung

Kamis, 02 April 2026 | 02:55

Umrah Prajurit dan ASN TNI

Kamis, 02 April 2026 | 02:39

Ledakan SPBE Cimuning Turut Porak-Porandakan Pemukiman Warga

Kamis, 02 April 2026 | 02:16

JK: Kalau BBM Murah, Orang akan Pakai Seenaknya

Kamis, 02 April 2026 | 01:59

AS Beri Sinyal Belum Ingin Akhiri Perang dengan Iran

Kamis, 02 April 2026 | 01:37

Wamen Fajar: Model Soal TKA Cocok buat Kebutuhan Masa Depan

Kamis, 02 April 2026 | 01:12

Danantara Didorong Percepat Proyek Hilirisasi dan Waste to Energy

Kamis, 02 April 2026 | 00:54

Selengkapnya