Berita

Sri Mulyani/Net

Publika

Mbak Sri Sudahlah Stop Utang!

RABU, 13 DESEMBER 2017 | 12:56 WIB

TRAGIS!!! Utang baru US$ 4 miliar dalam bentuk tiga seri global bond diterbitkan pada nopember 2017, berjangka masing-masing 5, 10, dan 30 tahun, setara Rp 54 triliun.

Lagi-lagi Menteri Keuangan Sri Mulyani, si jagoan utang melakukannya. Sampai nopember 2017, utang Indonesia sudah mencapai US$ 291,2 miliar atau setara  Rp 3.952 triliun, mendekati angka Rp 4.000 triliun. Fantastis!! Saya memang awam soal ekonomi, namun saya masih mampu berhitung untuk membagi jumlah Rp 4000 triliun bukanlah jumlah kecil yang membuat setiap orang di Indonesia berhutang Rp 15 juta!!!

Sri Mulyani identik dengan utang karena kewenangan yang dimilikinya. Dia terlampau rajin membuat utang baru. Padahal peringatan tentang bahaya utang setahun belakangan ini banyak dilontarkan, baik berasal  dari para ekonom, dunia usaha maupun aktifis LSM dan anggota DPR. Cukup mengkhawatirkan.


Kekhawatiran yang bukan tanpa alasan, karena "hutang baru dipakai untuk membayar hutang lama". Hutang bukan sepenuhnya dipakai untuk pembangunan. Saya mulai meragukan kepintaran dan kejujuran Sri Mulyani yang selain jagoan utang adalah juga jago ngomong (mendekati omdo) dan bentar lagi jago majakin rakyat. Sayangnya jawaban yang sering diulang-ulang seperti  "utang sangat diperlukan untuk menambal defisit APBN dan seterusnya karena belanja negara lebih besar ketimbang pendapatan" , adalah jawaban yang sangat tidak cerdas!!! Sejak era Suharto kita sudah dengar jawaban itu hingga Suharto lengser karena hutang!

Dari catatan APBN 2017, alokasi anggaran terbesar adalah pembayaran bunga, pokok, dan cicilan utang mencapai Rp 486 triliun. Kemudian masing-masing belanja pendidikan Rp 416 triliun dan infrastruktur sebesar Rp 387,3 triliun.

Di APBN 2018, pemerintah menganggarkan pembayaran bunga utang mencapai Rp 238,6 triliun. Sedangkan alokasi untuk membayar cicilan pokok utang sebesar Rp 399,2 triliun sehingga total anggaran pembayaran utang tahun depan mencapai Rp 637,8 triliun.

Semakin saya membaca APBN kita semakin takut saya karena pendapatan negara yang tidak bisa mengimbangi belanja negara.

Sebagai orang yang awam dalam hal ekonomi, membayar hutang pakai apa adalah hal pokok yang menjadi pertanyaan saya. Alangkah tidak cerdasnya bangsa ini kalau bayar hutang hanya menghandalkan pajak seperti jaman Robinhood.

Semakin gawat karena upaya berutang yang dilakukan Sri tidak mendongkrak pertumbuhan ekonomi yang stagnan di angka 5%. Sri Mulyani akan membuat Indonesia jatuh dan bangkrut! Sudahlah jatuh, ketimpa tangga pula. Sidahlah, stop utang Sri Astaghfirullah...

Oleh sebab itu, izinkan saya berkesimpulan dan mengusulkan demi negara gemah ripah loh jinawi. Sri Mulyani masih dibutuhkan negara ini. Tidak banyak perempuan Indonesia yang punya reputasi sebaik Sri Mulyani. Sri Mulyani hanya berada di tempat  dan waktu yang salah.

Bagi saya, Sri Mulyani yang jago ngomong, jago diurusan trader dan punya jaringan internasional karena pengalamannya di IMF, World Bank dan lainnya, sangat tepat ditempatkan diposisi Menteri Perdagangan.

Indonesia perlu orang sehebat dan sekaliber Sri Mulyani untuk mengkampanyekan hebatnya Indonesia, mengkampanyekan produk-produk Indonesia di luar negri, dan mengangkat harkat martabat bangsa Indonesia di luar negri. Saya yakin seyakinnya sehingga kita dapat mencapai jaman keemasan di 5-10 tahun ke depan seiring dengan bandul perekonomian dunia mulai bergeser ke Selatan seperti China, Korea, Brazil, India dan tentu Indonesia asal kita dapat berbenah. Saya percaya Sri mampu mengemban tugas dengan gemilang sebagai Menteri Perdagangan. Insya Allah.[***]


Osmar Tanjung
Sekjen Seknas Jokowi

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

UPDATE

324 Hunian Layak untuk Warga Bantaran Rel Senen Rampung Juni 2026

Senin, 06 April 2026 | 18:15

Kasus Amsal Sitepu Harus jadi Refleksi Penegakan Hukum

Senin, 06 April 2026 | 17:59

WFH Jumat Tak Boleh Ganggu Produktivitas

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Putri Zulhas Ngaku Belum Tahu Gugatan Pengosongan Rumah

Senin, 06 April 2026 | 17:45

Petinggi Tiga Travel Haji Dicecar KPK soal Perolehan Keuangan Tidak Sah

Senin, 06 April 2026 | 17:37

Konversi LPG ke Jargas

Senin, 06 April 2026 | 17:25

Prabowo Naikkan Target Bedah Rumah Tahun Ini Jadi 400 Ribu Unit

Senin, 06 April 2026 | 17:21

Impor Sparepart Pesawat dapat Insentif Bea Masuk Nol Persen

Senin, 06 April 2026 | 17:12

Sahroni Cabut Laporan Terhadap Influencer Indira dan Rena

Senin, 06 April 2026 | 16:59

PB Orado: Turnamen Domino Jatim Fondasi Menuju Kejurnas

Senin, 06 April 2026 | 16:55

Selengkapnya