Berita

Foto/Net

Bisnis

DPR: Pertamina Teledor Hitung Kebutuhan Gas

Kelangkaan Elpiji 3 Kg Resahkan Masyarakat
SABTU, 09 DESEMBER 2017 | 10:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Berbagai spekulasi bermuculan mengenai penyebab kelangkaan gas elpiji 3 kilogram (kg). Antara lain, disinyalir akibat Pertamina mengurangi pasokannya.

Kelangkaan gas 3 kg sam­pai kemarin belum mampu di­atasi Pertamina. Masyarakat di berbagai daerah masih kesulitan mendapatkan gas.

Siti, warga Limo, Depok mengaku, harus keliling ke berbagai agen untuk mendapat­kan gas di wilayahnya. "Masih langka. Ini saya dapat di Cinere. Mau gimana lagi, butuh buat ma­sak," keluh Siti kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Kesulitan mendapatkan gas juga dialami Nurjana, penjual gas 3 kg di Cipete, Jakarta Selatan. Dia mengaku belum mendapatkan pasokan gas sejak satu pekan. Padahal biasanya per dua hari mendapat pasokan. "Saya tanya ke agen. Mereka bilang gas 3 kg langka karena pemerintah mau ganti tabung gas jadi warna pink (bright gas/non subsidi-red),"  ungkapnya.

Kelangkaan gas melon menimbulkan banyak spekulasi. Paling banyak disampaikan para agen gas, Pertamina melakukan pengurangan pasokan. Misal­nya, seperti yang disampaikan pemilik agen gas di perumahan Poin Mas, Depok, Talih.

"Langka banget sih nggak. Tapi pasokan dikurangi. Sebe­lumnya bisa dapat pasokan 18 ribu per tahun, sekarang hanya dapat 10 ribu per tahun," ungkap Talih.

Anggota Komisi VII DPR Kurtubi menilai, gas melon langka disebabkan Pertamina lalai dalam menghitung kebutuhan masyarakat.

"Pertumbuhan ekonomi itu mempengaruhi konsumsi energi. Secara alamiah kebu­tuhan meningkat, namun Per­tamina teledor dalam mengantisipasi peningkatan kebutuhan," ungkapnya.

Selain dampak pertumbuhan ekonomi, Kurtubi menyebut kenaikan permintaan disebakan migrasi pengguna gas 12 kg (nonsubsidi). Hal ini terjadi karena selisih harganya cukup tajam.

"Pemerintah hanya mengim­bau agar kalangan mampu tidak membeli gas subsidi. Tetapi tidak membuat regulasi untuk mengeremnya," katanya.

Dia meminta, pemerintah ber­tanggung jawab atas kelangkaan ini. Masyarakat disuruh beralih dari kompor minyak tanah ke gas, namun sekarang gasnya sulit didapat.

Bagaimana dengan rencana pemerintah ingin melakukan penjualan gas 3 kg secara ter­tutup? Kurtubi memastikan tidak ada kaitannya dengan kelangkaan.

"Kami berharap Pertamina bisa cepat atasi kelangkaan. Penuhi saja dulu seluruh ke­butuhan, setelah selesai, baru dicari penyebab dan solusinya,"  katanya.

Operasi Pasar

Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar belum mengetahui secara pasti pe­nyebab kelangkaan. Pihaknya hanya menangkap ada beberapa indikasi pemicunya.

Pertama, kenaikan kebutuhan jelang Natal dan Tahun Baru. "Biasanya kenaikan permintaan terjadi pada pertengahan Desember, bukan di awal seperti saat ini," katanya.

Padahal, Iskandar mengungkapkan, Pertamina sudah menyiapkan tambahan pasokan. Menurutnya, tambahan pasokan biasa terjadi tidak lebih dari 3 persen.

Indikasi lainnya, lanjut Iskandar, beredarnya isu rencana pemerintah mengubah skema penyaluran elpiji 3 kg menjadi tertutup melalui kartu.

"Pemerintah gembar-gembor akan penyalurun gas 3 kg secara tertutup tahun depan. Akhirnya banyak masyarakat membeli gas 3 kg dalam jumlah banyak untuk stok," ungkapnya.

Indikasi lain beredarnya isu pemerintah mau menghapus gas 3 kg, dan menggantinya dengan Bright Gas.

"Isu ini harus hati-hati, jangan sampai peluncuran bright gas untuk mengganti gas subsidi, padahal enggak. Itu hanya alternatif pilihan untuk masyarakat. Karena kalau Bright Gas 5,5 kg, harus beli tabung baru. Kalau ukurannya 3 kg, masyarakat kalau mau pakai bright gas bisa lang­sung beli," ungkap Iskandar.

Untuk mengatasi kelangkaan elpiji 3 kg, Iskandar mengatakan, pihaknya melakukan operasi pasar (OP) di berbagai titik. To­tal sudah ada 590 ribu tabung elpiji 3 kg yang sudah disalurkan sejak 4 Desember.

"Kami berkomitmen untuk jaga pasokan agar aman. Tapi kami enggak bisa proyeksikan berapa yang akan kami salurkan. Masa kami proyeksikan kelang­kaan," tuturnya. ***

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

Pakai Jaket Gojek Mulyono di Sidang Pledoi, Nadiem Ingin Seret Jokowi?

Rabu, 03 Juni 2026 | 05:18

UPDATE

BNI Ingatkan Nasabah, Waspada Modus Penipuan BNIdirect

Sabtu, 13 Juni 2026 | 16:06

Diduga Palsukan KTA, Sekjen dan Waketum PPP Dipolisikan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:47

DPR Nilai Dukungan Publik terhadap Program MBG Tetap Kuat Meski Diterpa Kasus Korupsi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:09

Seleksi Pejabat Kemenag Kini Makin Ketat, Rekam Jejak Jadi Penentu

Sabtu, 13 Juni 2026 | 15:04

Soal Protes Kenaikan BBM, DPR Ingatkan Harga di Indonesia Masih Relatif Murah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:34

Program Padat Karya Jaga Daya Beli Masyarakat

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:29

Kejagung: Motor Listrik MBG Bukan untuk Disita, Tapi Segera Disalurkan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 14:24

LEMIGAS dan Pertagas Resmi Berkolaborasi di Proyek Cisem II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:55

Fernando Emas: Waspada Reformasi 1998 Jilid II

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:51

Bank Mandiri Siapkan Rp1,95 Triliun untuk Lunasi Green Bond Seri A

Sabtu, 13 Juni 2026 | 13:33

Selengkapnya