Berita

Foto: Freeport

Nusantara

Lebih Dekat Dengan Budaya Ukir Suku Kamoro

SELASA, 05 DESEMBER 2017 | 14:31 WIB | LAPORAN:

Yayasan Maramowe Weaiku Komorowe binaan PT Freeport Indonesia, menghadirkan pameran seni ukiran Kamoro, sebagai upaya pelestarian budaya bangsa.

Pameran yang berlangsung sejak 24 November 2017 di Alenia Coffee & Kitchen, Kemang - Jakarta Selatan menghadirkan empat pengukir asli Suku Kamoro, dari Kampung Timika Pantai dan Kampung Pulau Karaka.

Mereka adalah Herman Kiripi (38), Kornelis Kiripi (40), Klemens Nawatipia (43) dan Daniel Matameka (26). Mereka melakukan demonstrasi langsung mengukir di tempat setiap harinya selama pameran berlangsung. Kehadiran mereka tidak lepas dari dukungan PT Freeport Indonesia.
 

 
"Freeport memiliki komitmen kuat untuk membantu kelangsungan pelestarian budaya kerajinan ukir suku Kamoro. Tentunya hasil penjualan dari kegiatan pameran juga dapat meningkatkan kesejahteraan para pengukir, sehingga kegiatan budaya ini dapat berkelanjutan. Keuntungan penjualan barang kerajinan ukir di pameran juga kembali ke para pengukir," kata Vice President Corporate Communication PT Freeport Indonesia, Riza Pratama melalui siaran persnya, Selasa (5/12).

Sementara itu, pendiri dan pembina Yayasan Maramowe Weaiku Kamorowe, Luluk Intarti, menanggapi bahwa pameran ini bertujuan agar masyarakat luas dapat mengenal lebih dekat dengan seni dan budaya suku Kamoro.

Serta dapat menikmati dan membeli hasil karya seni ukir Papua, khususnya seni ukir khas suku Kamoro. Hingga saat ini, menurut Luluk, kerajinan ukir Papua tinggal tersisa budaya ukir dari tiga suku saja. Yaitu, suku Asmat yang sudah dikenal banyak orang, suku Kamoro dan suku Sempan. Ketiga suku itu berasal dari pesisir Selatan Papua, sedangkan di bagian lain Papua, seperti di pesisir Utara Papua, budaya ukir sudah punah sejak menguatnya pengaruh agama.

"Untuk seni ukir Kamoro saja sempat menurun produksinya di bawah tahun 1950-an. Belum punah, tapi hampir mati. Sehingga kita harus lestarikan agar jangan sampai hilang budaya ini, seperti yang terjadi di pesisir Utara," timpal Luluk.

Untuk terus menyemangati para pengukir Kamoro dalam berkarya, Yayasan Maramowe membantu melakukan pembinaan terhadap para pengukir agar mereka senantiasa dapat meningkatkan kualitas ukirannya.

Sekaligus membuka akses pasar agar kerajian ukiran ini dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat suku Kamoro. Luluk beserta tim Yayasan Maramowe kerap turun langsung ke daerah pesisir Selatan Papua untuk mencari ukiran-ukiran terbaik yang dapat dipasarkan.

Program promosi dan pelestarian budaya Kamoro ini diprakarsai oleh Dr. Kal Muller, pendahulu Yayasan Maramowe  sejak tahun 1996 dengan dukungan Freeport Indonesia. 

Perusahaan ini juga ikut mendukung penyelenggaraan Festival budaya Suku Kamoro yang pertama (1997) hingga seterusnya. Festival ini didatangi para kolektor dan pembeli ukiran kayu mereka yang unik. Freeport juga aktif mendukung keikutsertaan seniman-seniman Kamoro dalam pameran-pameran yang diselengarakan baik di dalam maupun luar negeri.

Dalam pameran tersebut, masyarakat dapat menikmati dan membeli kerajinan ukiran khas suku Kamoro, dan menyaksikan langsung bagaimana proses empat pengukir asli Kamoro mengukir kayu. Masyarakat juga dapat berinteraksi langsung dengan para pengukir yang senantiasa ramah menjelaskan.

Salah satu pengukir, Klemens Nawatipia menuturkan, saat ini dunia telah berkembang banyak. Sehingga, jangan sampai anak-anak lupa akan budaya asli warisan leluhur. "Saya senang dengan acara ini dan dukungan Freeport hingga kami bisa hadir disini, dan kita tidak lupa akan budaya," ungkapnya.

Klemens dalam pameran ini banyak mengukir motif khas Kamoro pesisir yaitu, motif Perahu, Udang dan Ikan.

Nuansa Papua yang dihadirkan empunya Alenia Coffee and Kitchen, aktris Nia Zulkarnaen bersama suami Ari Sihasale ini sangat terasa. Tidak hanya dari dekorasi ruangan, tetapi juga dari hidangan Indonesia Timur yang disajikan, khususnya berbagai jenis kopi asli dari Papua dan hidangan khas Papua lainnya seperti papeda kuah kuning dan jus matoa.

Para penggemar kopi Papua tidak harus jauh pergi ke ujung Timur Indonesia untuk menikmatinya, Berangkat dari kepeduliannya terhadap Papua, aktris dan aktor yang akrab dengan nama sapaan Ale dan Nia ini menerima ajakan Yayasan Maramowe untuk berkolaborasi menggelar kegiatan pameran dan mengoptimalkan Kedai Kopi mereka sebagai tempat untuk membantu memasarkan dan mempromosikan ukiran hasil karya masyarakat pengukir suku Kamoro.[wid]  

 

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya