Berita

Jusuf Kalla/Net

Nusantara

Awas, Petahana Cari Ongkos Pilkada Dari Obral Izin Tambang

Aparat Hukum Jangan Diam
SENIN, 04 DESEMBER 2017 | 10:39 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Komisi Pemilihan Umum (KPU), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan penegak hukum lainnya perlu bergerak mengawasi banyaknya izin tam­bang diterbitkan jelang pilkada. Bisa jadi, incumbent atau pe­tahana ingin mencari ongkos pilkada dengan ngobral atau mudah keluarkan izin tambang.

Sinyalemen maraknya izin tambang dikeluarkan jelang pilkada diungkapkan Wapres Jusuf Kalla.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Ujang Komarudin, pernyataan Jusuf Kalla ini harus ditanggapi serius oleh KPU, KPK, dan aparat hukum lain.


"Saya rasa Wapres menya­taka itu bukan tanpa bukti. Penyelenggara pemilu, KPK dan penegak hukum jangan anggap remeh pernyataan Wapres itu," kata Ujang kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Ujang menyebutkan, izin tambang kerap muncul dan diduga penerima izin tersebut akan membiayai seluruh biaya pemenangan dalam pilkada.

"Dari komentar Wapres musti dicurigai, apakah ada indikasi izin tambang itu keluar untuk mencari dana dalam rangka ke­menangan pilkada," ujarnya.

Karenanya, lanjutnya, KPK harus memantau dan turun tan­gan apakah proses izin tam­bang itu legal dan murni ntuk pembangunan daerah atau ada indikasi kongkalingkong kepala daerah dengan pengusaha.

"Kalau ada kongkalikong antara kepala daerah dengan pengusaha tentu itu sudah me­nyalahi aturan dan dianggal melakukan korupsi dengan menyalahgunakan kekuasaan. Ujung-ujungnya nanti negara akan dirugikan atas izin tambang itu," tegasnya.

Pengamat politik Alumni Universitas Indonesia ini menyebutkan, seyogyanya pilkada tidak dibumbui dengan dramakorupsi. Karena hal itu justru menimbul­kan ketidak percayaan masyarakat pada sistim demokrasi.

"Masa habis pilkada terbitlah korupsi, ini kan tidak bagus. Jangan sampai masyarakat semakin muak dengan pesta demokrasi lima tahunan seperti pilkada, Pileg dan pilpres, karena selalu dibumbui dengan drama korupsi," jelasnya.

Sebelumnya, Wapres Jusuf Kalla mengatakan, banyak kepala daerah kerap mengambil kebijakan kilat jelang pemilihan kepala daerah (pilkada).

Padahal, kata JK, biasanya kepala daerah cenderung lamban mengambil kebijakan karena khawatir terhadap pengawasan penegak hukum. "Mau pilkada biasanya izin-izin tambng berte­baran, kadang-kadang juga dou­ble," ujar JK saat membuka acara Rakorwasdanas 2017, di Hotel Bidakara, Jakarta, Kamis (30/11) lalu.

Menurut Wapres, langkah obral izin tambang ini bisa menjadi masalah baru. Jika tidak dilakukan sesuai aturan, maka kepala daerah bisa tersangkut kasus hukum.

JK meminta seluruh penegak hukum saling berkoordinasi un­tuk membuat sistem pengawasan efektif. Tujuannya, agar jajaran pemerintah di daerah tidak memiliki celah untuk korupsi.

Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini berharap, kerjasama antara pemerintah dan pen­egak hukum mulai dari KPK, Kepolisian, dan Kejaksaan bisa berjalan baik.

Selain itu, JK meminta agar sistem pengawasan tidak mem­buat jajaran pemerintah daerah takut mengambil kebijakan. "Harapan kami kepada saudara-saudara sekalian jangan takut pada sistem pengawasan. Kalau Anda benar, Anda semua WTP, asal jangan WTP dengan main mata juga," pungkas JK.

Sebelumnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menilai, bisnis pertambangan di Indonesia banyak bermasalah. Indikasinya bisa dilihat dari banyaknya Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang bermasalah. Menurut data KPK, ada 4.000 IUP diduga bermasalah.

Permasalahan ini diduga me­nyangkut banyak pihak, dari eksekutif dan legislatif tingkat daerah hingga pusat. "Jangan-jangan semua main mata, jangan-jangan ada suapnya, mulai dari pemberian izin dan proses produksinya dilaporkan hanya sedikit. Akhirnya kami berpendapat, KPK mesti beyond cor­ruption, tidak bisa hanya bicara," kata Koordinator SDA Direktorat Litbang KPK, Dian Patria, Selasa, 30 Agustus 2016. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya