Berita

Kekerasan di Honduras/BBC

Dunia

Sengketa Pemilu, Tentara Honduras Diberi Kekuatan Lebih Demi Halau Protes

SABTU, 02 DESEMBER 2017 | 17:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pemerintah Honduras memberikan lebih banyak kekuatan pada polisi dan tentara untuk menahan kerusuhan pasca demonstrasi berujung kekerasan di tengah pemilu presiden pekan lalu.

Pejabat pemerintah Ebal Diaz mengatakan bahwa jaminan konstitusional telah ditangguhkan, sehingga polisi dan tentara memiliki kekuatan lebih dan jam malam pun diberlakukan.

"Penangguhan jaminan konstitusional disetujui agar angkatan bersenjata dan polisi nasional dapat menahan gelombang kekerasan yang melanda negara ini," kata Diaz di televisi nasional seperti dimuat BBC.


Dia mengatakan bahwa jam malam akan berlangsung antara pukul 18:00 dan 06:00 untuk 10 hari ke depan.

Sebelumnya, publikasi hasil pemilihan ditunda ketika kandidat oposisi utama, Salvador Nasralla, menuntut lebih dari 5.000 kotak suara dibeberkan. Ia mengatakan memiliki bukti kecurangan pemilihan.

Pada awal minggu ini Nasralla telah memimpin lima poin persentase. Namun dengan lebih dari 90% suara yang dilaporkan dihitung, Presiden incumbent Juan Orlando Hernández bergerak lebih maju. Nasralla menuduh pihak berwenang memanipulasi hasilnya.

Sejak saat itu, gelombang demonstrasi diwarnai kekerasan kerap terjadi dan telah menyebabkan satu orang tewas serta 20 lainnya cedera.

Ketegangan sempat mereda sementara pada hari Rabu ketika kedua kandidat menandatangani sebuah dokumen yang berjanji untuk menghormati hasil akhir setelah setiap suara yang disengketakan telah diteliti.

Tapi jeda lain dalam penghitungan menyebabkan Nasralla mengatakan beberapa jam kemudian bahwa dokumen tersebut tidak memiliki validitas.

Ketidakpercayaan atas penghitungan tersebut sebagian disebabkan oleh fakta bahwa tribunal tersebut ditunjuk oleh Kongres, yang dikendalikan oleh Partai Nasional Hernández, dan sebagian karena pembalikan mendadak pimpinan awal Nasralla.

Ada juga kritik terhadap lambannya penghitungan, yang terhenti 36 jam setelah hasil parsial pertama dirilis.

Polisi anti huru hara menembakkan gas air mata pada pendukung oposisi yang marah di ibukota Tegucigalpa pada hari Jumat kemarin, di dekat pusat dimana hasil pemilu rencananya akan diumumkan. [mel]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya