Berita

Dunia

Demokrasi Pakistan Menunju Tren Berbahaya?

RABU, 29 NOVEMBER 2017 | 09:16 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Pengunduran diri Menteri Hukum Federal Pakistan dan penandatanganan kesepakatan untuk mengakhiri pendudukan massa selama berminggu-minggu di luar ibukota Islamabad awal pekan ini dinilai menunjukkan kecenderungan berbahaya untuk demokrasi dan negara tersebut.

Diketahui bahwa ribuan pendukung sebuah partai keagamaan melancarkan aksi duduk di luar Islamabad awal bulan ini, menuntut pengunduran diri Menteri Zahid Hamid untuk sebuah perubahan dalam undang-undang pemilihan negara tersebut. Mereka menilai bahwa itu adalah bentuk pelunakan posisi negara tersebut terhadap Muslim Ahmadi.

Menyusul hal tersebut, awal pekan ini, Menteri Dalam Negeri Pakistan Ahsan Iqbal dari partai PML-N yang berkuasa, mengatakan bahwa kesepakatan tersebut akan bisa membubarkan para demonstran di Islamabad, dan kota-kota lain termasuk Lahore dan Karachi.


Ia juga menilai bahwa kesepakatan akan membuat semua pemrotes yang ditangkap saat melakukan aksi akan dibebaskan segera.

Video yang beredar di media sosial menunjukkan seorang pejabat tinggi Pakistan Rangers membagikan 1.000 rupee dalam amplop kepada anggota partai keagamaan sebagai kompensasi.

"Kami tidak pernah melihat tren seperti itu sebelumnya," kata Ketua Senat Raza Rabbani, yang termasuk dalam partai oposisi Rakyat Pakistan seperti dimuat Al Jazeera.

"Tren yang kita saksikan hari ini tidak hanya berbahaya bagi kelas politik demokrasi yang tumbuh, tapi juga sangat berbahaya bagi negara," sambungnya.

Kemudian, harian Inggris Dawn, dalam sebuah editorial berjudul Capitulation, menyebut kesepakatan tersebut menghancurkan legitimasi pemerintah.

"Kesepakatan tersebut menegosiasikan antara negara, baik aspek sipil maupun militer, dan pemrotes Faizabad adalah pukulan yang menghancurkan legitimasi dan pendirian moral pemerintah dan semua institusi negara," kata editorial harian tersebut.

Sedikitnya lima orang tewas dan lebih dari 217 lainnya, kebanyakan anggota pasukan keamanan. terluka dalam bentrokan tersebut.

Kesepakatan yang ditandatangani tersebut diakhiri dengan mengkredit kepala tentara Jenderal Qamar Javed Bajwa dan tim perwakilannya atas usaha khusus mereka yang menyebabkan kesepakatan ditandatangani.

Keterlibatan tentara dan tanda tangan petugas Intelijen Antar Dinas Mayor Jenderal Faiz Hameed dalam kesepakatan tersebut juga menjadi masalah.

Kritik tersebut muncul saat pemerintah Pakistan bersikap defensif sejak pengadilan mendiskualifikasi pemimpinnya, Nawaz Sharif, dari jabatannya sebagai perdana menteri pada bulan Juli.

Sharif telah berulang kali mengemukakan bahwa pendirian militer adalah kekuatan di balik pemecatannya, sebuah tuduhan ditolak oleh militer. Demikian seperti dikutip Al Jazeera. [mel]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya