Berita

Paus Fransiskus/Net

Dunia

Paus Fransiskus: Etnis Dan Agama Jangan Jadi Sumber Perpecahan

RABU, 29 NOVEMBER 2017 | 07:41 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Paus Fransiskus telah menyampaikan pidato utama di Myanmar pekan ini dengan menuntut penghormatan terhadap setiap kelompok etnis. Pidato tersebut tidak secara spesifik menyebut kata "Rohingya".

"Masa depan Myanmar harus damai, damai berdasarkan penghormatan terhadap martabat dan hak setiap anggota masyarakat, menghormati setiap kelompok etnis dan identitasnya, menghormati peraturan undang-undang, dan menghormati tatanan demokrasi. yang memungkinkan setiap individu dan setiap kelompok, tidak ada yang dikecualikan, untuk menawarkan kontribusi yang sah untuk kebaikan bersama," kata Paus Fransiskus dalam pidatonya seperti dimuat BBC.

Ia menambahkan bahwa harta karun Myanmar terbesar adalah rakyatnya sendiri. Paus menyebut, masyarakat lah yang menderita akibat konflik sipil dan permusuhan yang berlangsung lama dan menciptakan perpecahan yang dalam.


"Seiring bangsa sekarang berupaya memulihkan perdamaian, penyembuhan luka-luka itu harus menjadi prioritas politis dan spiritual yang terpenting," kata Paus.

"Perbedaan agama tidak perlu menjadi sumber perpecahan dan ketidakpercayaan, melainkan kekuatan untuk persatuan, pengampunan, toleransi dan pembangunan bangsa yang bijak," sambungnya.

Penggunaan kata "Rohingnya" memang menjadi salah satu sorotan utama kunjungan Paus ke Myanmar. Kelompok HAM mendesak Paus untuk menggunakan istilah tersebut untuk mendukung masyarakat Rohingya yang menjadi korban kekerasan sipil.

Namun, Gereja Katolik di Myanmar telah memberitahunya bahwa istilah tersebut dapat menyebabkan kesulitan bagi umat Katolik. Pasalnya, elit Myanmar sendiri tidak pernah menyebut "Rohingya", melainkan "Warga Bengali" pada kelompok minoritas muslim Rohingya.

Myanmar telah dituduh melakukan pembersihan etnis, dengan 620.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh sejak Agustus lalu. Myanmar membantah melakukan kesalahan atas hal tersebut. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Suhud Dorong RUU Ketenagakerjaan Perkuat Perlindungan Buruh dan Kepastian Usaha

Jumat, 11 September 2026 | 16:25

KPK Panggil 3 Tersangka Baru Kasus Suap Pemerasan Sertifikasi K3 Kemnaker

Jumat, 11 September 2026 | 16:19

Trump Sumpah Bareng Pendukung Republik, Ancam yang Tak Nyoblos Masuk Neraka

Jumat, 11 September 2026 | 16:13

Keluarga Dokter Icha Tuntut Tiga Anggota DPRD TTU Tersangka Intimidasi Dipecat

Jumat, 11 September 2026 | 15:58

DPR: Sebelum Batas Waktu, Tim SAR Maksimalkan Upaya Cari Lima Jurnalis di Selat Sunda

Jumat, 11 September 2026 | 15:46

Aljazair Mendadak Putus Hubungan Diplomatik dengan UEA

Jumat, 11 September 2026 | 15:44

Bahlil Tegaskan BUK Migas Belum Diputuskan

Jumat, 11 September 2026 | 15:00

Jejak Korupsi Rejang Lebong Merambah ke Bengkulu, Kini Giliran Ketua DPRD Herimanto Diperiksa

Jumat, 11 September 2026 | 14:54

Kemenhaj Rilis Peserta CAT PPIH 2027 Gelombang 2

Jumat, 11 September 2026 | 14:46

Kemenhut Bakal Tindaklanjuti Temuan Lima Bayi Orangutan di India

Jumat, 11 September 2026 | 14:35

Selengkapnya