Berita

Gatot Nurmantyo/Net

Jaya Suprana

Kritik Keliru Sasaran

RABU, 22 NOVEMBER 2017 | 06:44 WIB | OLEH: JAYA SUPRANA

RMOL memberitakan bahwa anggota Komisi III Faksi PDI Perjuangan Masinton Pasaribu mengingatkan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo agar lebih fokus dalam melaksanakan tugas.

Profesional

Sebagai panglima, Gatot mengemban tugas untuk menjaga pertahanan negara dari segala ancaman. Alhasil, Panglima tak boleh bekerja atau beraktivitas di luar kewenangan tersebut. “Panglima harus fokus, tidak usah berpolitik,” kata Masinton. Pernyataan Masinton terkait dugaan aktivitas politik yang belakangan dilakukan Gatot. Hal ini diduga terkait ambisi Gatot ingin ikut dalam kontestasi Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Menurut Masinton, Panglima harus menahan ambisi politik. Apalagi, ia melanjutkan, masa pensiun Gatot sekadar hitungan bulan. “Kalau mau berpolitik, tunggu pensiun. Jika sudah pensiun, berpolitik itu menjadi hak sebagai warga negara. Tapi sekarang masih Panglima,” kata Masinton.

Masinton mengatakan, aktivitas politik Panglima akan menjadi preseden bagi matra TNI, termasuk anggota militer aktif lainnya. Terlepas dari pro-kontra terhadap kritik Masinton Pasaribu, pada hakikatnya Masinton Pasaribu telah menunaikan tugas kewajibannya sebagai wakil rakyat untuk mengawasi serta mengawal kinerja militer termasuk Panglima TNI sesuai deskripsi tugas konstitusional seorang anggota DPR serta arahan parpol.  

Masinton mengatakan, aktivitas politik Panglima akan menjadi preseden bagi matra TNI, termasuk anggota militer aktif lainnya. Terlepas dari pro-kontra terhadap kritik Masinton Pasaribu, pada hakikatnya Masinton Pasaribu telah menunaikan tugas kewajibannya sebagai wakil rakyat untuk mengawasi serta mengawal kinerja militer termasuk Panglima TNI sesuai deskripsi tugas konstitusional seorang anggota DPR serta arahan parpol.  
 
Cemerlang
Kebetulan saya mengenal Gatot Nurmantyo sejak masa jenderal kelahiran Tegal  lulusan Akmil 1982 itu masih Pangkorstrad. Karier kemiliteran Gatot Nurmantyo memang cemerlang diawali sebagai Danton MO. 81 Kiban Yonif 315/ Garuda lalu terus menerus meningkat ke Kasdivif 2/Kostrad (2007 - 2008), Dirlat Kodiklatad (2008 - 2009), Gubernur Akmil (2009 - 2010), Pangdam V/Brawijaya (2010 - 2011), Dankodiklat TNI AD (2011 - 2013), Pangkostrad (2013 - 2014), KSAD (2014 - 2015) sebelum kemudian diangkat oleh Presiden Jokowi menjadi Panglima TNI   Karier Gatot yang pesat melangit ke jenjang teratas di satu sisi menakjubkan namun di sisi lain potensial  memicu tafsir ambisius.

Di tengah kemelut suasana politik beraroma paranoida, kiprah Gatot Nurmantyo memang rawan ditafsirkan sebagai suatu bentuk ambisi di gelanggang politik yang bahkan mengarah ke tahta kekuasaan tertinggi yang akan diperebutkan pada tahun 2019.

Ambisi
Secara pribadi saya pernah bertanya langsung ke Gatot Nurmantyo mengenai ambisi beliau. Gatot mengaku bahwa sebagai Panglima TNI dirinya memang memiliki ambisi berjuang menjaga keamanan negara, bangsa dan rakyat Indonesia serta mengawal Presiden Jokowi agar dapat menunaikan tugas sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Indonesia.

Terkesan bahwa semangat Panglima TNI Gatot Nurmantyo tidak jauh beda dari semangat Jenderal Besar TNI Soedirman yang senantiasa meletakkan kepentingan negara, bangsa dan rakyat Indonesia di atas kepentingan golongan, kelompok, partai politik apalagi dirinya sendiri. Seperti Jenderal Besar Soedirman sebenarnya Panglima TNI Gatot Nurmantyo tidak berambisi menjadi Presiden atau Capres. Hanya tidak bisa disangkal bahwa pada kenyataan alam demokrasi Indonesia orde Reformasi  memang ada pihak-pihak yang menginginkan Gatot Nurmantyo  ikut berlaga di pemilihan presiden 2019.

Searah dengan hasil telaah Pusat Studi Kelirumogi, sebaiknya mereka yang mengkritik Gatot Nurmantyo berambisi ingin menjadi presiden atau wapres jangan keliru sasaran mengarahkan kritik kepada pihak yang dicalonkan oleh pihak-pihak tertentu yang mencalonkan. Lebih benar sasaran apabila kritik diarahkan ke pihak-pihak tertentu yang mencalonkan untuk berkenan bersabar sampai pihak yang dicalonkan sudah pensiun.[***]

Penulis adalah pendiri Pusat Studi Kelirumologi
 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Jokowi Injak Kepala Kerbau saat Terima Gelar Adat Lampung, Apa Maknanya?

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Safari Politik Jokowi Bukti Kepemimpinan Gibran dan Kaesang Lemah

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:21

Jokowi dan PSI, Duri dalam Daging Pemerintahan Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:09

Daftar Wilayah yang Berpotensi Terdampak El Nino 2026

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:05

Keiko Fujimori Akhirnya Bernasib Sama Seperti Prabowo

Selasa, 30 Juni 2026 | 18:03

KPK Sebut 10 Orang Diamankan dalam OTT Kuansing

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:57

Panitia Minta Jokowi Datang Setelah Acara Adat, Kunjungan Malah Batal

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:50

Koperasi Beri Ruang Bagi Mahasiswa Berwirausaha

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:37

Tutup Perdagangan Akhir Bulan: IHSG Merosot ke 5.643, Rupiah Loyo Dekati Rp18 Ribu

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:28

Ketum AHY: Genap 25 Tahun, Partai Demokrat Ingin jadi Bagian Solusi

Selasa, 30 Juni 2026 | 17:19

Selengkapnya